BENGKALIS (RIAUPOS.CO) -- Tingginya harga beras pascapemilu sangat dikeluhkan masyarakat Pulau Bengkalis. Bahkan untuk mengalihkan mahalnya harga beras di pasaran, masyarakat ingin membeli beras stabiliasi pasokan dan harga pangan (SPHP) program Badan Pangan Nasional (Bapangnas) yang disalurkan melalui Bulog Bengkalis.
Apalagi jika dibandingkan dengan beras lain, harga beras SPHP yang sudah ditentukan harga eceran tertingginya (HET) untuk wilayah Sumatra kecuali Lampung dan Sumsel, dengan harga Rp11.500 per kilogram. Sedangkan harga beras di pasaran saat ini mencapai Rp15 ribu sampai Rp20 ribu per kilogram.
Namun beras SPHP ini malah sulit ditemukan di pasaran, sehingga masyarakat yang ingin membeli beras SPHP harus datang langsung ke Kantor Bulog Bengkalis, karena di sejumlah warung maupun toko tidak tersedia beras SPHP tersebut.
"Susah kami dapatkan. Apalagi harga beras lain, seperti beras asal Sumbar maupun bermerek lainnya cukup tinggi. Seperti beras asal Sumbar kualitas premium harganya mencapai Rp18.500 per kg," ujar Andi, salah seorang warga Desa Kembung Luar.
Ia menyebutkan, letak desanya dengan ibu kota Bengkalis sangat jauh atau sekitar 65 km dan jika harus membelinya ke kantor Bulog Bengkalis tentu harus menambah ongkos transportasi.
"Kalau ada pun harganya sudah di atas HET. Kalau mau membeli ya harus ke kantor Bulog Bengkalis. Tentu ini sangat meresahkan masyarakat," ujarnya.
Dari pantauan di lapangan dan dari beberapa toko dan kedai yang biasanya menjual beras SPHP tidak ada ditemukan.
Sedangkan pantauan di Gudang Bulog Bengkalis di Kelurahan Damon pada Selasa (27/2) siang, ribuan karung beras SPHP masih berada digudang Bulog bersamaan dengan beras bantuan dari Bapangnas.
Kepala Gudang Bulog Bengkalis Purwanto yang dijumpai saat berada di Gudang Bulog Bengkalis mengatakan, saat ini persediaan beras SPHP masih banyak dan yang ada saat ini baru dilakukan pengemasan oleh petugas di gudang.
"Ya, ini yang ada baru dikemas. Jadi dalam satu hari, kami mengemas dalam kemasan 5 kg sebanyak 10 ton, dan setiap hari terus dilakukan percepatan pengemasan beras SPHP," ujarnya.
Sedangkan Kepala Bulog Bengkalis Budi juga mengatakan, memang dalam pemasaran beras SPHP yang bertujuan untuk menyeimbangkan harga beras yang saat ini sangat tinggi, pihaknya terkendala tenaga pengisian dari kemasan 50 kg ke kemasan 5 kg.
"Ya, jadi kami kalah dengan kebutuhan pasar atau konsumen. Permintaan masyarakat terhadap beras SPHP tinggi, sementara petugas yang mengemas berasnya sangat sedikit. Jadi berapapun yang kami keluarkan dari gudang cepat lakunya," ujarnya.
Ia juga membantah, jika ada agen maupun toko yang ditunjuk sebagai penyalur beras SPHP menjual di atas HET atau ada takaran lain selain kemasan, itu tidak benar. Karena penyaluran beras SPHP ini sudah sesuai ketentuan dan penjualannya juga tidak boleh melebihi HET yang sudah ditentukan.
"Ya, kalau ada laporkan saja ke kami dan akan kami tindak tegas, dengan cara tidak memberikan lagi mereka untuk menjualnya," ujarnya.
Editor : RP Rinaldi