BENGKALIS (RIAUPOS.CO) - Kendati kondisi cuaca mendung dan ada curaj hujan, namun tak mampu memenuhi waduk air baku PDAM di Desa Wonosari, Bengkalis. Akibatnya krisis air bersih di Ibukota Bengkalis berlanjut dan saat ini sudah masuk pekan ke tiga, air bersih tak mengalir ke rumah masyarakat sebagai pelanggan PDAM.
Bahkan di sejumlah perkantoran, khususnya perkantoran yang melayani masyarakat, seperti di Kantor PN Bengkalis, Baznas serta kantor yang hanya mengharapkan air bersih dari sumber PDAM Tirta Terubuk, terpaksa mengunci toilet mereka, akibat tidak ada air.
"Kita tutup sementara WC-nya. Karena tidak ada air untuk membersihkan kotoran," ujar Ijal salah seorang petugas di PN Bengkalis.
Ia mengaku, tidak hanya dikantornya, namun di rumahnya juga tidak ada air bersih. Makannya masyarakat sudah menjerit untuk memenuhi kebutuhan air bersih.
"Kami berharap ada solusilah dari pengelolanya. Karena ini tanggung jawab mereka dan juga air PDAM ini tidak ada subsidinya dan kami membayar mahal, tapi pelayanannya memprihatinkan," ujarnya.
Sedangkan Majid, salah seorang pengacara yang dijumpai di PN Bengkalis juga mengaku kecewa. Karena di rumahnya juga kesulitan air berih. Makanya diminta kepada PDAM Tirta Terubuk mencarikan solusi cepat, jika tidak dirinya bersama pelanggan lain akan melakukan gugutan.
"Ini tanggungjawab mereka. Tapi sidah lebih 15 hari krisis air bersih, tapi selama itu tak ada solusi. Kami minta pengelola PDAM bertanggungjawab dan jangan biarkan masyarakat menjerit," ujarnya.
Ia menegaskan, jika ini terus berlanjut dan tidak ada solusi maka dirinya secara berkelompok akan mengajukan gugatan class action. Karena ini sudah mereahkan masyarakat.
Sedangkan menindaklanjuti keluhan masyarakat, terkait sulitnya memperoleh pasokan air bersih, Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Bengkalis, Ramlan, bersama sejumlah warga melakukan mediasi dan pengecekan langsung ke lokasi PDAM Bengkalis pada Senin (11/8/2025).
“Sejak awal Juli 2025, distribusi air PDAM di Bengkalis mengalami kemacetan yang berdampak luas. Tidak hanya rumah tangga, pelaku usaha seperti tukang laundry dan penyedia jasa pengisian air galon juga mengalami kesulitan karena tidak dapat memanfaatkan air PDAM untuk kebutuhan operasional,” ungkap Ramlan.
Dalam pertemuan tersebut, warga menyampaikan keluhan secara langsung kepada pihak PDAM, menekankan bahwa air bersih merupakan kebutuhan pokok yang mendesak untuk segera dipenuhi.
Pihak PDAM menjelaskan, kendala utama yang dihadapi adalah proses penyaringan yang masih menghasilkan air keruh, sehingga belum layak untuk dikonsumsi. Meski demikian, mereka menegaskan komitmennya untuk memulihkan pasokan air bersih bagi warga.
“Target kami, dalam waktu satu bulan ke depan permasalahan ini bisa terselesaikan sehingga masyarakat kembali menikmati pasokan air bersih yang lancar,” ungkap perwakilan PDAM.
Warga berharap janji tersebut dapat terealisasi tepat waktu, agar kebutuhan air untuk keperluan rumah tangga maupun usaha kembali terpenuhi dengan baik.
Sedangkan Direktur Perumda Air Minum Tirta Terubuk Kabupaten Bengkalis, Abel Iqbal ST menjelaskan, penghentian ini dilakukan sampai waktu yang belum dapat ditentukan.
“Ya, kondisi air baku yang minim membuat waduk kami kering, sehingga produksi tidak dapat berjalan,” ujarnya.
Abel Iqbal menambahkan, pihaknya bersama Dewan Pengawas, pimpinan, karyawan, karyawati, dan seluruh pemangku kepentingan meminta maaf kepada pelanggan serta masyarakat.
“Kami memahami kondisi ini menimbulkan ketidaknyamanan, dan kami memohon maaf atas hal tersebut,” ujarnya.
Perumda Air Minum Tirta Terubuk juga mengimbau masyarakat untuk memahami situasi ini dan bersabar hingga pasokan air dapat kembali normal.
“Atas perhatian dan pengertian pelanggan serta masyarakat, kami mengucapkan terima kasih,” jelas Abel Iqbal.
Penghentian distribusi ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah, mengingat air bersih merupakan kebutuhan pokok warga. Langkah mitigasi dan pencarian sumber air alternatif tengah dibahas untuk mengantisipasi dampak berkepanjangan.
Editor : Eka G Putra