Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Masyarakat Rupat Kembali Gelar Aksi Demo, Blokir Pintu Masuk PT PR

Abu Kasim • Senin, 13 Oktober 2025 | 17:45 WIB
Masyarakat dua kelurahan dan desa di kecamatan Rupat menggelar aksi demo dan memblokir jalan masuk perkebunan PT Priatama Riau di Desa Darul Aman, Kecamatan Rupat pada, Senin (13/10/2025).
Masyarakat dua kelurahan dan desa di kecamatan Rupat menggelar aksi demo dan memblokir jalan masuk perkebunan PT Priatama Riau di Desa Darul Aman, Kecamatan Rupat pada, Senin (13/10/2025).

BENGKALIS (RIAUPOS.CO) - Untuk sekian kalinya masyarakat dari dua kelurahan dan satu desa di Kecamatan Rupat menggelar aksi demo ke PT Priatama Riau (PR). Mereka menuntut pembagian kebun plasma sebesar 20 persen dari luas lahan HGU perusahaan perkebunan sawit di Kecamatan Rupat pada, Senin (13/10/2025) sejak pukul 08.30 WIB.

Suara teriakan masyarakat yang menggema dari ribuan masyarakat yang didominasi para emak-emak, dengan melakukan orasi, menuntut hak plasma perusahaan sebesar 20 persen sesuai yang diatur dalam undang-undang.

Di tengah panas dan debu jalanan siang itu, ribuan masyarakat dari Desa Darul Aman, Kelurahan Tanjung Kapal dan Kelurahan Batu Panjang memblokir akses utama menuju pelabuhan PT PR, menuntut satu hal yang telah lama dijanjikan yakni plasma 20 persen dari lahan HGU perusahaan.

Tak adanya keputusan nyata dari pihak perusahaan, meski sudah dilakukan mediasi pada 2 Oktober 2025 lalu, membuat emosi massa memuncak. Dengan tiang tenda, terpal dan semangat yang tak surut, masyarakat mendirikan tenda di tengah jalan, menandai tekad mereka untuk bermalam di lokasi hingga tuntutan dipenuhi.

"Kami sudah terlalu lama dijanjikan, kali ini kami tidak akan pulang sebelum plasma kami diberikan," teriak Koordinator Umum aksi, Rama Rapiandi.

Menjelang siang, rombongan perwakilan dari Pemkab Bengkalis akhirnya turun ke lapangan. Hadir staf Ahli Bupati Johansyah Syafri, Kepala Dinas Perkebunan MnHasmir, Camat Rupat, dan penjabat kepala desa untuk menenangkan massa aksi.

Namun kedatangannya, tak berhasil menjinakkan kemarahan massa, karena pemerintah hanya menyampaikan bahwa aspirasi masyarakat akan diperjuangkan dan disampaikan ke perusahaan, tanpa kehadiran pihak PT Priatama Riau di tempat aksi massa.

“Sampai kapan kami harus percaya janji tanpa bukti? Kami sudah dengar kalimat, akan diperjuangkan puluhan kali," ujar Zamruddin, salah seorang tokoh masyarakat dengan suara lantang.

Massa pun menolak membubarkan diri. Mereka menilai pemerintah lemah dan tidak berpihak, karena tak berani menghadirkan manajemen PT Priatama Riau di hadapan publik.

"Pemerintah itu tugasnya melayani rakyat, bukan mempelajari regulasi, itu terus alasannya. Kalau pemerintah paham regulasi, perusahaan ini tidak mungkin bisa beroperasi, karena mereka terbukti tidak punya Izin Usaha Perkebunan (IUP)," ujarnya.

Saat aksi berlangsung, ketegangan juga kembali memuncak di depan areal PT Priatama Riau. Ribuan masyarakat Pulau Rupat yang sudah bertahan sejak pagi di lokasi aksi menolak mentah-mentah tawaran Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Bengkalis, Muhammad Azmir, yang meminta massa membubarkan diri dengan janji perusahaan akan membeli lahan di luar HGU seluas 200 hektar untuk dijadikan kebun plasma.

Namun tawaran itu justru memicu amarah warga. Koordinator lapangan aksi Jefri Candra menegaskan, bahwa masyarakat tidak bisa lagi dibujuk dengan janji baru.

“Kami sudah cukup dibohongi. Sejak tahun 2007 perusahaan ini beroperasi tanpa izin usaha perkebunan, tapi masih berani menawar seolah kami bisa dibeli. Kami hanya menuntut plasma 20 persen dari lahan dalam HGU, bukan di luar," ujarnya lantang di tengah kerumunan massa yang bersorak setuju.

Menurutnya, usulan pembelian lahan di luar HGU hanyalah cara baru perusahaan untuk mengelak dari kewajiban. Kalau perusahaan mau beli lahan, silakan saja. Tapi jangan harap masyarakat berhenti menuntut haknya. Plasma harus di lahan inti, di dalam HGU, bukan diluar itu.

Setelah perdebatan panjang, pihak Dinas Perkebunan akhirnya meninggalkan lokasi aksi dan berjanji akan menyampaikan aspirasi masyarakat kepada pihak perusahaan. Namun massa tetap bertahan, mendirikan tenda dan menegaskan tidak akan pulang sebelum ada keputusan nyata.

“Kami tidak akan mundur. Ini tanah kami, hak kami, dan kami akan tetap di sini sampai plasma itu benar-benar kami terima. Malam ini kami akan gelar yasinan disini,” tegas Jefri.

Sampai sore hari massa masih bertahan di lapangan dengan mendirikan tenda dan berencakan akan membaca surat Yasin serta berdoa semoga aksi mereka dikabulkan Allah SWT. Sedang sejak aksi massa pagi sampai sore hari, perwakilan perusahaan tak kunjung datang.

Massa aksi dikawal ketat oleh aparat kepolisian dari Polsek Rupat dan TNI dari Koramil. Sedangkan petugas satpam perusahaan juga menjadi pagar betis di pintu masuk perusahaan yang dipalang dengan besi.

Sementara itu, ditempat terpisah Humas PT Priatama Riau, Tomas yang dikonfirmasi terkait tuntutan masyarakat yang dikonfirmasi melalui telepon genggamnya sampai sore ini tidak menjawab. Demikian juga dengan pesan singkat WhatsApp-nya juga tidak dibalas.

Sedangkan pernyataan Humas PT RP sebelumnya, saat menjawab aksi ribuan massa mengaku masih akan dibicarakan lebih lanjut. Sedangkan dalam pertemuan itu belum disepakati adanya permintaan masyarakat untuk 20 persen plasma.

"Belum ada pembicaraan menyetujui 20 persen plasma. Tapi kesepakatannya adalah akan dibicarakan lebih lanjut. Sedangkan dimana tempatnya akan dikominikasikan sesuai jadwal yang disepakati bersama," jelasnya, Jumat (26/9/2025).

Menurutnya, sesuai izin usaha perkebunan tahun 1996 sudah ada ketentuan yang mengatur di sana. Makanya agar masyarakat tidak salah lagi mengartikan aturan, maka pertemuan nanti harus melibatkan semua unsur terkait, mulai dari desa/kelurahan, kecamatan dan dinas terkait.

"Ya, termasuk nanti anggota komisi terkait di DPRD Bengkalis juga harus ikut. Jadi jelas nanti arahnya dan kalau memang ada hak masyarakat perusahaan siap bernegosiasi disana," jelasnya.

Editor : M. Erizal
#aksi demo #warga rupat #Aksi Demo Massa #kebun plasma #bengkalis