BANTAN (RIAUPOS.CO) - Aktivitas nelayan di Desa Muntai, Kecamatan Bantan, Kabupaten Bengkalis, kembali terganggu, akibat pendangkalan signifikan yang terjadi di kuala (muara) Sungai Muntai.
Sedangkan pendangkalan ini, sudah berlangsung sejak musim angin barat, ketika gelombang kuat dan arus pasang membawa lumpur serta sedimen masuk ke aliran sungai. Bahkan kondisi tersebut, makin diperparah oleh penumpukan sesai tumpukan lumpur dan material sedimen, yang menutup akses keluar masuk perahu nelayan untuk melaut, Selasa (25/11/2025).
Icol, salah seorang nelayan Desa Muntai, mengungkapkan keresahannya saat ditemui di lokasi kuala sungai. Bahwa perahu mereka sering kandas dan hanya bisa keluar ketika air sedang pasang tinggi.
“Setiap hari kami harus berjuang mendorong perahu keluar. Kalau air surut, sudah pasti tidak bisa lewat karena dangkal sekali. Apalagi sejak musim angin barat sesai makin menumpuk. Kami sangat berharap perhatian serius dari pemerintah agar bisa melaut dengan lancar lagi,” ucap Icol.
Ia menyebutkan, akibat pendangkalan yang berlangsung berbulan-bulan ini, hasil tangkapan nelayan menurun, karena waktu melaut menjadi lebih sempit. Kondisi ini memengaruhi perekonomian warga Desa Muntai yang mayoritas bergantung pada sektor perikanan.
"Ya, sudah dua bulan ini, sungai tertutup oleh lumpur dan sedimen pasir laut yang masuk ke aliran sungai. Akibat situasi ini, para nelayan kesulitan mengeluarkan perahu atau pompong menuju laut, sehingga mengancam mata pencaharian harian mereka yang sangat bergantung pada hasil tangkapan," ujar Kepala Desa Muntai, Muhammad Nurin, Selasa (25/11/2025).
Ia menyebutkan, untuk mengeluarkan perahu, nelayan harus menunggu air pasang naik. Makanya dirinya langsung meninjau kondisi kuala sungai. Pendangkalan dan penumpukan sesai semakin parah sejak dimulainya musim angin barat.
“Memang benar. Sejak musim angin barat, kondisi kuala sungai kita makin dangkal, dan ini menyulitkan pergerakan sampan atau pompong. Ini masalah serius yang harus segera kita cari solusinya,” jelas Muhammad Nurin.
Sebagai respons cepat, kata Nurin, Pemerintah Desa Muntai telah melakukan beberapa langkah, di antaranya mengajukan permohonan resmi kepada pemerintah, terkait untuk segera menangani pendangkalan di kuala sungai.
"Kami juga mengusulkan solusi jangka panjang melalui Musyawarah Rencana Pembangunan Desa (Musrenbangdes), dengan fokus pada pengerukan atau normalisasi sungai agar kedalaman alur dapat kembali mendukung aktivitas perikanan," jelasnya.
Muhammad Nurin berharap, pemerintah kabupaten dan provinsi dapat merespons cepat permohonan tersebut.
“Kami berharap instansi terkait dapat segera merealisasikan pengerukan, agar aktivitas melaut para nelayan tidak lagi terhambat,” harapnya.(ksm)
Editor : Edwar Yaman