Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Langit Pulau Bengkalis Mulai Ditutupi Asap, Partikel Debu Karhutla Mulai Bertebaran 

Abu Kasim • Sabtu, 4 April 2026 | 12:27 WIB
Prof Bambang (dua kanan) memberikan penjelasan bahaya cuaca ekstrem akan semakin parah akibat El Nino super saat meninjau karhutla di Desa Sekudi Kecamatan Bengkalis pada Jumat (3/4/2026) sore.(ISTIMEWA)
Prof Bambang (dua kanan) memberikan penjelasan bahaya cuaca ekstrem akan semakin parah akibat El Nino super saat meninjau karhutla di Desa Sekudi Kecamatan Bengkalis pada Jumat (3/4/2026) sore.(ISTIMEWA)

BENGKALIS (RIAUPOS.CO) -  Sejak pagi sampai siang (Sabtu) langit di Pulau Bengkalis diselimuti asap tipis. Bahkan partikel debu dari karhutla mulai bertebaran ke udara dan bertebaran di atap rumah serta kendaraan roda empat yang terparkir.

Dari pantauan di lapangan, bau menyengat asap karhutla sudah terasa di hidung dan terlihat juga partikel debu yang menempel di mobil, yang bertebaran di udara. Kondisi cuaca panas membuat gerah tubuh, ditambah ada pemadaman listrik PLN sejak pukul 10.00 WIB sampai tengah hari tak kunjung menyala.

"Panas luar biasa. Listrik padam pulak, malah membuat kondisi panas menjadi parah, karena tak bisa menghidupkan kipas angin atau pun AC. Bau udara bercampur asap karhutla juga sudah dirasakan masyarakat," ujar Yeni, salah seorang warga Desa Senggoro, Bengkalis, Sabtu (4/4/2026).

Baca Juga: Pelatih Manchester City Pep Guardiola Hindari Pertanyaan tentang Masa Depannya

Ia mengaku, karhutla terjadi di pinggiran kota dan sangat jauh dari Kota Bengkalis. Tapi udaranya sangat terasa bau asap dan pertiket debu sudah bertebaran ke udara. Ini terlihat menempel di kendaraan.

"Seperti cuaca mau hujan dan mendung. Tapi sejak pagi sampai siang tak kunjung hujan. Malah udara panas sangat terasa," ucapnya.

Di sisi lain kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sudah satu bulan belakangan melanda Kabupaten Bengkalis, diprediksi makin memburuk. Kondisi ini dibarengi dengan potensi munculnya fenomena alam, yakni iklim ekstrem berupa El Nino Super. 

Peringatan ini disampaikan Guru Besar IPB University bidang perlindungan hutan, Prof Dr Bambang Hero Taharjo saat meninjau langsung lokasi karhutla di Desa Sekodi, Kecamatan Bengkalis, bersama Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan dan Kapolres Bengkalis AKBP Fahrian Saleh Siregar, Jumat (3/4/2026) sore.

Ia menyebutkan, kondisi yang terjadi saat ini merupakan bagian dari prediksi ilmiah dampak perubahan iklim global, yang telah lama diperingatkan para ahli. Ia mengungkapkan, peningkatan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik hingga sekitar 2,7 derajat Celsius menjadi indikator kuat munculnya El Nino kategori ekstrem.

Baca Juga: 8 Makanan Alami Ini Dapat Membantu Menstabilkan Kadar Kolesterol dalam Darah, Salah Satunya Alpukatredaksi

“Ya, ini bukan lagi sekadar prediksi, tapi sudah mulai menjadi kenyataan. Dampaknya bisa menyerupai kebakaran hutan besar seperti tahun 1997–1998 yang meluas hingga jutaan hektare,” jelas Bambang.

Menurutnya, fenomena El Nino menyebabkan kondisi lahan menjadi lebih kering dan sangat rentan terbakar. Jika tidak diantisipasi sejak dini, api dapat dengan cepat meluas dan sulit dikendalikan. Dalam peninjauan tersebut, Ia juga menyoroti mulai turunnya tinggi muka air di kanal dan parit yang mendekati batas kritis, sebagai indikator awal meningkatnya potensi kebakaran.

“Kalau dilihat di sejumlah kanak dan parit adanya penurunan muka air dan ini menjadi tanda bahaya. Jika tidak segera ditangani, potensi karhutla akan semakin besar,” ucapnya.

Selain ancaman kebakaran, Bambang turut mengingatkan bahaya asap karhutla yang kerap dianggap sepele oleh masyarakat. Dirinya menegaskan bahwa asap mengandung berbagai zat beracun yang berbahaya bagi kesehatan.

Baca Juga: Tampilkan Nuansa Nostalgia Tahun 1997, Trailer Film Dilan 1997 ITB Menyita Perhatian Publik di Media Sosial

“Jangan hanya melihat asap sebagai gangguan biasa. Di dalamnya terdapat gas beracun seperti hidrogen sianida yang bisa berdampak serius, bahkan mematikan,” jelasnya.

Ia pun menekankan, pentingnya langkah cepat dan kolaboratif dari semua pihak, termasuk masyarakat, dalam mencegah meluasnya kebakaran.

“Tindakan paling penting adalah deteksi dini dan respon cepat. Begitu ada indikasi kebakaran, segera laporkan. Ini tanggung jawab kita bersama,” ujarnya.

Sementara itu, Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan juga menegaskan, komitmen jajarannya dalam mendukung upaya pencegahan dan penanggulangan karhutla melalui patroli intensif serta penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan.

“Kami terus meningkatkan patroli dan tidak akan ragu menindak tegas pelaku pembakaran lahan. Pencegahan menjadi kunci utama dalam menghadapi ancaman karhutla tahun ini,” tegas Kapolda.

Peninjauan ini menjadi bagian dari langkah antisipatif menghadapi puncak musim kemarau yang diperkirakan terjadi dalam beberapa bulan ke depan, seiring meningkatnya risiko karhutla di wilayah Riau, khususnya Kabupaten Bengkalis.

Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan yang  turun langsung memberikan dukungan moril kepada tim gabungan yang tengah berjibaku memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Sekodi, Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis.

Di sana, Irjen Herry memberikan semangat serta dukungan moril kepada unsur BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, relawan, dan Masyarakat Peduli Api (MPA), yang melakukan pemadaman.

Kapolda menegaskan bahwa penanganan karhutla tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus melalui kolaborasi lintas sektor.

“Kami hadir di sini untuk memberikan motivasi, dukungan moril dan memastikan bahwa upaya pemadaman dilakukan secara maksimal. Ini tidak bisa dikerjakan sendiri-sendiri, tetapi harus kolaboratif melibatkan semua pihak,” ujar Irjen Herry.

Ia menyebut, langkah strategis yang dilakukan saat ini adalah menemukan dan memutus titik api sedini mungkin agar kebakaran tidak meluas, terutama menjelang puncak musim kemarau.

“Lebih baik bekerja keras sekarang sebelum memasuki puncak kemarau, daripada nanti memadamkan dalam kondisi yang jauh lebih besar dan sulit,” tegasnya.

Selain upaya pemadaman, Kapolda juga menekankan pentingnya penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran hutan dan lahan.

Ia mengungkapkan, sepanjang 2025 pihaknya telah menangani 74 kasus karhutla dengan jumlah tersangka yang sama.

“Penegakan hukum harus tegas dan berkeadilan. Tidak boleh ada toleransi bagi pelaku pembakaran, baik yang disengaja maupun yang berlindung di balik alasan kelalaian,” jelasnya.

Sebagai langkah pencegahan, Polda Riau bersama stakeholder telah memasang ratusan papan imbauan (plang) di lokasi rawan karhutla.

Plang tersebut berisi peringatan ancaman pidana bagi pelaku pembakaran, sekaligus larangan pemanfaatan lahan bekas terbakar untuk kegiatan perkebunan.

“Kami ingin ada efek jera. Lahan yang sudah terbakar tidak boleh dimanfaatkan kembali, termasuk untuk penanaman sawit. Ini bagian dari upaya moratorium agar kejadian serupa tidak terulang,” jelasnya.(ksm)

 

Editor : Edwar Yaman
#karhutla #pulau bengkalis #el nino #cuaca esktrem