BENGKALIS (RIAUPOS.CO) - Di sebuah rumah sederhana di Desa Pakning Asal, Kecamatan Bukit Batu, suara tawa perempuan terdengar bersahut di antara kain-kain putih yang mulai dipenuhi corak warna. Di tangan mereka, canting kecil perlahan menorehkan garis demi garis motif khas Melayu Bukit Batu. Bukan sekadar kain biasa, batik-batik itu kini menjadi simbol harapan baru bagi perempuan pesisir yang mulai bangkit dan percaya pada kemampuan diri mereka sendiri.
Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), PT PLN (Persero) UIP Sumbagteng menghadirkan program pemberdayaan perempuan melalui pelatihan batik tulis khas budaya Melayu Bukit Batu. Program tersebut menjadi ruang baru bagi ibu-ibu rumah tangga dan anggota PKK untuk belajar, berkarya, sekaligus meningkatkan perekonomian keluarga.
Sebelumnya, sebagian besar perempuan di desa pesisir itu hanya menjalani aktivitas rumah tangga sehari-hari tanpa memiliki keterampilan tambahan yang dapat dikembangkan menjadi peluang usaha. Namun kini, melalui pelatihan yang diberikan PLN UIP Sumbagteng, mereka mulai mengenal teknik membatik, menggambar pola, mencanting, hingga proses pewarnaan kain.
Baca Juga: Jadikan Kelulusan Siswa sebagai Batu Loncatan Raih Cita-Cita
Perlahan, rasa ragu berubah menjadi semangat. Tangan-tangan yang sebelumnya tidak pernah memegang canting kini mampu menghasilkan karya batik tulis dengan corak khas Melayu Bukit Batu yang indah dan bernilai seni tinggi. Setiap motif yang lahir menggambarkan identitas budaya daerah, mulai dari ornamen Melayu hingga corak khas kehidupan masyarakat pesisir.
Bagi para perempuan desa, kegiatan membatik bukan hanya tentang menghasilkan kain, tetapi juga tentang menemukan rasa percaya diri dan harapan baru. Mereka mulai merasakan bahwa diri mereka memiliki kemampuan untuk berkarya dan membantu meningkatkan pendapatan keluarga.
Di sela aktivitas membatik, tercipta pula ruang kebersamaan yang mempererat hubungan antarwarga. Para perempuan saling belajar, berbagi pengalaman, dan tumbuh bersama dalam suasana penuh semangat. Canting dan kain batik perlahan menjadi bagian dari perjalanan perubahan sosial di desa tersebut.
Baca Juga: Bunda PAUD Serahkan 1.000 Bibit Pohon ke Guru TK
Program ini juga membuka peluang baru bagi pengembangan UMKM lokal. Hasil batik tulis karya perempuan Desa Pakning Asal mulai diperkenalkan sebagai produk khas daerah yang memiliki nilai budaya sekaligus potensi ekonomi. Dengan dukungan pendampingan dan pelatihan berkelanjutan, masyarakat berharap batik khas Bukit Batu nantinya dapat dikenal lebih luas dan menjadi identitas baru desa mereka.
Hingga saat ini, program pemberdayaan tersebut telah memberikan manfaat langsung kepada masyarakat pesisir, khususnya perempuan desa yang kini semakin aktif dan produktif. Kehadiran program TJSL PLN UIP Sumbagteng tidak hanya menghadirkan keterampilan baru, tetapi juga menumbuhkan keyakinan bahwa perempuan desa mampu berkembang dan berdaya melalui karya mereka sendiri.
Bagi PT PLN (Persero) UIP Sumbagteng, pembangunan tidak hanya tentang menghadirkan energi listrik bagi masyarakat, tetapi juga menyalakan harapan dan kemandirian sosial di lingkungan sekitar. Melalui pemberdayaan batik tulis ini, PLN UIP Sumbagteng ingin memastikan bahwa perempuan pesisir memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh, berkarya, dan melangkah menuju masa depan yang lebih baik.(adv)
Editor : Arif Oktafian