BENGKALIS (RIAUPOS.CO) - Sudah dua pekan masyarakat di Pulau Bengkalis mengalami krisis bahan bakar minyak (BBM). Akibat kelangkaan itu, harga jual BBM jenis Pertalite mencapai Rp16 ribu per liter dan Pertamax Ron 92 mencapai Rp22 ribu per liternya.
Dari pantauan di lapangan, Senin (6/7/2026), ratusan kendaraan bermotor jenis roda dua dan empat terjebak antrena di SPBU Selatbaru, sejak pada sampai pukul 13.30 WIB. Ini disebabkan oleh sistem barkode SBPU mengalami eror dan masyarakat menunggu cukup lama.
Sedangkan di SPBU Jalan Bantan dan Jalan Lembaga Kecamatan Bengkalis, puluhan kendaraan bermotor roda dua dan empat berjejer di pinggir jalan menunggu SPBU dibuka pada pukul 14.30 WIB.
Karena sejak pagi kedua SPBU ini tak melayani penjualan, karena BBM jenis Pertalitenya sudah habis terjual pada sore hari dan hari berikutnya menunggu pasokan dari mobil tangki yang masuk melalui penyeberangan Roro Bengkalis.
Sedangkan antrean kendaraan di sejumlah SPBU di pulau Bengkalis terus mengalami kepadatan dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi ini diduga memicu sulitnya masyarakat mendapatkan BBM jenis Pertalite di kios-kios pengecer, sehingga banyak warga beralih membeli langsung di SPBU.
Kepadatan antrean terlihat hampir setiap hari, terutama pada sore hari saat pasokan BBM tiba di SPBU. Salah satu titik antrean terpanjang terjadi di SPBU Jalan Bantan dan Jalan Lembaga Kecamatan Bengkalis.
Baca Juga: Swadaya Masyarakat, Pemdes Koto Mesjid Kampar Tambal Jalan Rusak Demi Keselamatan Pengguna
Kondisi SPBU yang memiliki area terbatas, menyebabkan antrean kendaraan roda dua mengular hingga ke badan jalan. Puluhan sepeda motor tampak mengantre sejak sebelum SPBU mulai melayani pembeli.
Andi, salah seorang warga Senggoro mengaku, telah mengantre selama tiga jam untuk mendapatkan Pertalite. Tapi BBM tak kunjung ada di SPBU, alasan mereka kapal lambat masuk.
"Kami mulai antre sekitar pukul 13.15 WIB. Waktu itu SPBU belum buka. Baru sekitar pukul 14.30 WIB lebih mulai melayani, sampai sekarang sudah tiga lebih antre setelah buka kami belum juga masuk ke dalam SPBU," jelasnya.
Ia mengatakan, awalnya dirinya lebih memilih membeli Pertalite di pengecer, karena lebih praktis meski harganya sedikit lebih mahal. Tapi sekarang malah di tingkat pengecer kosong, makanya harus ikut antre di SPBU.
"Kalau di pengecer harganya sekitar Rp13 ribu sampai Rp16 ribu per liter. Tak jauh dari rumah juga ada yang jual, jadi lebih mudah. Tapi sekarang Pertalite yang dijual susah didapat," jelasnya.
Sedangkan Ayen warga Desa Bantan Sari juta mengaku, sudah berkeliling mencari Pertalite di sepanjang jalan dari rumahnya ke SPBU selarbaru, namun hampir semuanya kehabisan stok. Bahkan ada di kampungnya malah jual lebih tinggi dari SBPU mencapai Rp14 ribu per liter.
"Makanya kami langsung ke SPBU dan rencananya mau isi penuh tangkinya. Tapi sampai di sana malah jaringan internetnya yang mati, jadi petugasnya tak bisa mengeluarkan minyak dan antrean panjang terus berlanjut," ucapnya.
Sedangkan untuk daerah perkotaan seperti di Kota Bengkalis dari pagi sampai siang hari BBM jenis pertalite dan Pertamax sudah didapat. Bahkan BBM tersedia nanti pada malam hari dan jenis Pertamax yang paling banyak dijual.
"Ya, yang banyak tersedia sekarang justru Pertamax Ron 92, tapi harganya selangit mencapai Rp20 ribu per liter. Makanya terpaksa beli langsung di SPBU," jelasnya.
Sedangkan Junaidi, salah seorang warga Desa Senggoro, Kecamatan Bengkalis mengatakan, kelangkaan Pertalite di tingkat pengecer sudah dirasakan dalam beberapa pekan terakhir.
"Hampir semua kios eceran sering kosong Pertalite. Biasanya kami beli di eceran, sekarang harus ke SPBU. Tapi SPBU malah antrean panjang. Makanya tak sanggup nunggu lama dan membeli di eceran secukupnya," ujarnya.
Meski jarak rumahnya tidak jauh dari SPBU, Junaidi mengaku selama ini lebih memilih membeli di pengecer karena lebih praktis. Juga cepat dan tak perlu menunggu lama.
Baca Juga: Segel KPK di Kantor Bupati Dibuka, Muklisin Tempati Ruang Lama
"Baru beberapa minggu ini kami rutin beli di SPBU karena eceran banyak yang kosong. Warga lain juga begitu, makanya antrean sekarang jauh lebih ramai," jelasnya.
Sementara itu, pengelola SPBU Jalan Bantan, Ujang, juga membenarkan adanya peningkatan jumlah konsumen dalam beberapa pekan terakhir.
"Ya, beberapa pekan ini memang ramai. Bahkan siang sebelum SPBU buka, masyarakat sudah mulai mengantre di luar," ujarnya.
Baca Juga: Segel KPK di Kantor Bupati Dibuka, Muklisin Tempati Ruang Lama
Meski terjadi lonjakan pembeli, Ujang memastikan pasokan Pertalite dari Pertamina ke SPBU masih dalam kondisi normal.
"Kalau pasokan masih seperti biasa. Setiap hari masuk tiga mobil tangki Pertalite dengan total sekitar 15 kiloliter. Yang berubah hanya jumlah masyarakat yang membeli, sekarang jauh lebih banyak dari biasanya," jelasnya.
Editor : M. Erizal