BENGKALIS (RIAUPOS.CO) – Bunyi gesekan mesin chainsaw dengan kayu, memecah keheningan siang di sebuah rumah kayu di Jalan Gajah Mada, Desa Bantan Tengah, Kecamatan Bantan. Dari kejauhan, bunyinya terdengar seperti seseorang yang sedang berteriak dan semakin mendekat, suaranya makin jelas didengar.
Di sisi kanan rumah papan sederhana itu, seorang pria berusia 54 tahun bernama Salim, tampak fokus bekerja. Kedua tangannya menggenggam mesin chainsaw yang terus meraung, melubangi sebatang kayu yang kelak akan berubah menjadi sebuah alat musik tradisional Melayu.
Pria bertopi hitam itu begitu larut dalam pekerjaannya hingga tak menyadari kehadiran tujuh mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Institut Syariah Negeri Junjungan (ISNJ) Bengkalis yang datang berkunjung.
Baca Juga: Mitsubishi Xforce HEV Padukan Kenyamanan dan Teknologi Hybrid Modern
Barulah ketika terdengar sapaan, mesin itu berhenti meraung. "Assalamualaikum, Pak. Apa kabarnya," tanya Koordinator Desa KKM Bantan Tengah, Agustiawan.
Pria itu menoleh, lalu tersenyum lebar. "Iya. Kabar baik. Dari mana?" jawabnya ramah sembari meletakkan chainsaw dan menghampiri untuk menyalami satu per satu tamunya.
Sosok perajin kompang yang namanya sudah tidak asing lagi di kalangan pecinta seni kompang di Bengkalis, dari tangan yang sudah berkeriput dan wajahnya yang dipenuhi kerutan wajah, namun usia tuanya itu lahir ribuan kompang yang kini dimainkan di berbagai daerah. Namun, kali ini ia sedang mengerjakan sesuatu yang berbeda.
Baca Juga: Realisasi Penerimaan Kanwil DJBC Riau Nyaris 100 Persen
Di samping bangsal kerjanya tergeletak sebuah kompang berdiameter dua meter. Berkali-kali lipat lebih besar dibandingkan kompang pada umumnya yang ia buat.
"Ya, saya sudah buat kompang sejak tahun 2007. Kalau dihitung, mungkin sudah lebih dari seribu buah," ucapnya mengenang.
Setiap hari, Salim mampu menyelesaikan tujuh hingga delapan buah kompang. Hasil karyanya telah tersebar hingga Pekanbaru, Tanjungpinang dan Batam Provinsi Kepulauan Riau.
Meski bukan berasal dari suku Melayu, kecintaannya terhadap budaya Melayu justru melahirkan karya yang menjadi bagian penting dari tradisi masyarakat.
Di bangsal sederhana belakang rumahnya, berbagai alat pertukangan tersusun rapi. Di sanalah setiap hari ia mengukir kayu, memasang kulit, dan merangkai satu demi satu kompang.
Namun perhatian siapa pun pasti akan tertuju pada kompang raksasa yang masih terbaring di atas tanah. Benda itu bukan sekadar alat musik. Ia adalah mimpi.
Baca Juga: Pemerintah Target Pertumbuhan Ekonomi 6 Persen
Salim mengaku, sudah hampir empat bulan mengerjakan kompang berdiameter dua meter tersebut. Pengerjaannya memang tidak terburu-buru karena masih menunggu kepastian rencana peresmian.
Kompang itu dipersiapkan sebagai ikon untuk mendeklarasikan Desa Bantan Tengah sebagai Kampung Kompang.
Di tengah perbincangan, salah seorang mahasiswa, Hafiz, penasaran dengan bahan kulit yang digunakan. Karena banyak tak bisa digunakan seperti pengrajin kompang.
Baca Juga: Siapkan Teknis dan Mental Tim
"Pak, kulit kompangnya dari mana? Besar sekali. Apa di sambung-sambung?" ucapnya.
Salim menjawab sambil tersenyum. "Tidak. Itu kulit sapi kurban Presiden Prabowo. Saya ambil di Masjid Istiqomah Bengkalis," jawabnya.
Menurut Salim, kulit sapi kurban tersebut diperoleh saat Iduladha 2026 setelah mendapat informasi dari Anggota DPRD Bengkalis, Muhammad Isa.
Baca Juga: Resmi Digelar, Wako Agung Ajak Kota-kota IMT-GT Bersatu Jaga Lingkungan Demi Masa Depan Generasi
"Ya, Pak Isa menelepon waktu Iduladha. Katanya ambil kulit sapi kurban Presiden di Masjid Istiqomah. Ya, kami ambil," ujarnya.
Kulit sapi berukuran besar itulah yang kemudian dipasang pada kompang raksasa tersebut. Salim berharap, suatu hari nanti kompang itu berdiri megah sebagai tugu yang menandai lahirnya Kampung Kompang di Desa Bantan Tengah.
"Ya, sekarang masih menunggu anggaran bangun tugu untuk diresmikan. Jadi ini semacam kebanggaan masyarakat di kampung kami," ujarnya.
Baca Juga: Depot Air Isi Ulang Wajib Lakukan Pemeriksaan Laboratorium
Di sela-sela itu, Salim bahkan menaiki kompang raksasa itu untuk menunjukkan kekuatan rangka dan tebalnya kulit sapi yang digunakan. Baginya, membuat kompang bukan hanya soal mencari nafkah. Ia juga ingin ilmu itu tetap hidup.
"Saya senang kalau ada mahasiswa datang. Kalau mau belajar membuat kompang, saya senang sekali," jelasnya.
Prinsip itu sudah ia buktikan, dia mengaku pernah menghabiskan hampir dua bulan di Pekanbaru hanya untuk mengajari seseorang membuat kompang hingga mahir. Kini, muridnya itu bahkan telah menerima banyak pesanan, dan sebagian pekerjaan masih dibagikan kepadanya.
Baca Juga: Petenis Belia PTPN IV Regional III Juara Umum
Baginya, ilmu tidak akan habis hanya karena dibagikan. Karena itu, Salim juga mulai menyiapkan penerus dari keluarganya sendiri. Anaknya kini ikut terlibat membantu proses pembuatan kompang setiap hari sebagai wujud terus melestarikan tradisi.
Editor : M. Erizal