BENGKALIS (RIAUPOS.CO) - Event Ekraforia Bengkalis yang digelar Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Bengkalis, dalam rangkaian menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan RI menjadikan kompleks Jil Belanda atau Huis Van Behauring di Jalan Pahlawan, sebagai pusat ekonomi kreatif masyarakat.
Bangunan bersejarah peninggalan kolonial Belanda yang usianya lebih dari satu abad tersebut, menjadi lokasi kegiatan Ekraforia tahun ini tidak berhenti pada pertunjukan hiburan semata. Namun Disbudparpora Bengkalis mempertemukan pelaku ekonomi kreatif, UMKM, komunitas, akademisi, lembaga keuangan, dan masyarakat untuk membuka ruang kolaborasi sekaligus memperluas peluang pengembangan usaha berbasis potensi lokal.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disbudparpora Bengkalis, Ardiansyah, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah menciptakan ruang yang lebih luas bagi pertumbuhan ekonomi kreatif dan UMKM.
Baca Juga: Dapur Di-suspend, Kepala SPPG Dinonaktifkan, Penyebab Dugaan Keracunan MBG di Dumai Tunggu Hasil Lab
“Ekraforia ini merupakan bagian dari agenda Kabupaten Bengkalis dalam memperingati 17 Agustus 2026. Kegiatan ini diinisiasi dan diinginkan oleh Bupati Bengkalis Kasmarni bagaimana kita menciptakan ekonomi kreatif dan meningkatkan upaya UMKM-UMKM yang ada di Kabupaten Bengkalis,” ujar Ardiansyah, Sabtu (15/8/2026).
Pelaksanaan kegiatan melibatkan berbagai unsur, termasuk komunitas Bengkalis Creative Network (BCN). Kolaborasi tersebut dinilai penting agar pengembangan sektor kreatif tidak hanya bertumpu pada pemerintah, tetapi juga tumbuh dari inisiatif komunitas dan pelaku usaha.
“Ya, kami berharap ke depannya kegiatan ini bisa menjadi tempat berkembangnya ekonomi kreatif dan muncul spot-spot baru untuk UMKM,” harapnya.
Baca Juga: Mobil Meledak, SPBU di Pelalawan Terbakar, Diduga Sopir Video Call saat Isi BBM
Pemilihan kompleks dan Gedung Jill Belanda menjadi salah satu kekuatan utama Ekraforia 2026. Disbudparpora ingin menjadikan peninggalan sejarah tersebut bukan sekadar bangunan yang dikenang, melainkan bagian dari pengalaman wisata dan aktivitas kreatif masyarakat.
Ardiansyah menjelaskan, lokasi tersebut dipilih sekaligus untuk mengingat kembali sejarah perjuangan bangsa menjelang peringatan kemerdekaan.
“Kenapa kita pilih salah satunya Jill ini atau penjara peninggalan masa Belanda? Ini merupakan salah satu peninggalan sejarah. Dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, kita mengingat perjuangan para pahlawan melawan Belanda ketika itu,” jelasnya.
Baca Juga: Chelsea Berharap Enzo Fernández Tetap Bertahan karena Manchester City Gagal Penuhi Tenggat Waktu
Ia menyebutkan, pendekatan itu membuka peluang bagi Bengkalis untuk mengembangkan daya tarik wisata yang menghubungkan sejarah, budaya, dan kreativitas masyarakat. Konsep tersebut kemudian diterjemahkan melalui sejumlah agenda yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan.
Dalam kegiatan itu digelar seminar dan Focus Group Discussion (FGD) yang menjadi salah satu agenda utama. Forum ini menghadirkan Asisten Deputi Bidang Literasi dan Penyuluhan Kementerian Koperasi Edi Haryana, Konservator Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Riau Rio Hardiansyah, perwakilan Ketua DPRD Kabupaten Bengkalis dari Komisi IV Irmy Syakif Arsalan, Plt Kepala Disbudparpora Bengkalis Ardiansyah, Ketua BCN Riza Zuhelmy, Ketua Harian Indonesia Creative Cities Network (ICCN) Mas Sam Viki, Ketua PWI Bengkalis Adi Putra, serta Ketua Kadin Bengkalis Rido Nosa.
Pembahasan juga melibatkan komunitas ekonomi kreatif dan UMKM, lembaga keuangan, serta akademisi untuk melihat peluang dan tantangan pengembangan sektor kreatif di Bengkalis.
Semarak Ekraforia berlanjut, saat malam melalui Grand Opening yang menghadirkan pertunjukan seni lokal. Tarian kreasi dan musik yang dibawakan anak-anak Bengkalis membuat kawasan Gedung Jill Belanda semakin hidup.
Pengunjung tidak hanya menjadi penonton. Panitia menyediakan photo booth hasil kreasi Bengkalis serta alat tenun yang memungkinkan masyarakat mencoba langsung salah satu aktivitas kerajinan tradisional.
“Di sini juga kita siapkan alat tenun. Bagi masyarakat yang datang berkunjung dan ingin mencoba bagaimana menggunakan alat tenun, bisa langsung mencobanya,” jelas Ardiansyah.
Baca Juga: Venus Williams Kalah di Cincinnati Open, Rentetan Kekalahan Tunggalnya Mencapai 13 Pertandingan
Pergerakan ekonomi juga terlihat dari keterlibatan pelaku UMKM yang membuka lapak di sekitar lokasi. Beragam kuliner khas Bengkalis disajikan untuk pengunjung selama kegiatan berlangsung.
“Di bagian luar juga ada UMKM yang menggelar berbagai macam kuliner Bengkalis,” jelasnya.
Setelah rangkaian kegiatan berlangsung hingga Sabtu, Ekraforia memasuki agenda olahraga pada Ahad (16/8/2026) melalui Ekraforia Run. Kegiatan tersebut dirangkai dengan senam sehat dan lari sejauh kurang lebih lima kilometer.
Panitia menargetkan jumlah peserta lebih dari 1.000 orang. Bupati Bengkalis Hj Kasmarni dijadwalkan melepas kegiatan tersebut pada pukul 05.30 WIB.
“Kegiatan ini diharapkan bisa ikut memeriahkan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia,” ujar Ardiansyah.
Rangkaian tersebut sekaligus memperlihatkan arah Ekraforia 2026 yang tidak hanya berorientasi pada hiburan. Literasi sejarah ditempatkan sebagai fondasi, sementara ekonomi kreatif dan UMKM menjadi ruang bagi masyarakat untuk berpartisipasi serta mengembangkan potensi lokal.
Ardiansyah menilai konsep tersebut menjadi pembeda utama dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya.
“Kegiatan ini berbeda dari tahun sebelumnya karena lebih mengangkat literasi sejarah, ekonomi kreatif dan UMKM yang ada di Bengkalis,” ujarnya.(ksm)
Editor : Edwar Yaman