Wujudkan Keharmonisan, MUI Bengkalis Gelar Dialog Antarumat Beragama

Abu Kasim • Dipublikasikan Sabtu, 22 Agustus 2026 | 13:52 WIB

 

MUI Kabupaten Bengkalis melalui bidang Komisi Kerukunan Umat Beragama dan Hubungan Luar Negeri menggelar Dialog Kerukunan antar Umat Beragama, Sabtu (22/8/2026). (iSTIMEWA)
MUI Kabupaten Bengkalis melalui bidang Komisi Kerukunan Umat Beragama dan Hubungan Luar Negeri menggelar Dialog Kerukunan antar Umat Beragama, Sabtu (22/8/2026). (iSTIMEWA)

 

BENGKALIS (RIAUPOS.CO)  - Guna menciptakan keharmonisan dalam menjalani kehidupan bermasyarakat, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bengkalis melalui bidang Komisi Kerukunan Umat Beragama dan Hubungan Luar Negeri menggelar Dialog Kerukunan antar Umat Beragama, Sabtu (22/8/2026).

Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung Daerah Datuk Laksamana jalan Antara dengan menghadirkan tiga Nara sumber dari Agama Islam, Kristiani, dan Budha. Dan kegiatan tersebut dibuka oleh Bupati Bengkalis Kasmarni diwakili Plt Asisten  II bidang Perekonomian dan Pembangunan H Hambali.

Dalam pembukaan dialog tersebut terlihat berbagai tokoh keagamaan ikut hadir dengan memenuhi ruangan acara, sehingga hal itu membuktikan, bahwa para tokoh keagamaan di Kabupaten Bengkalis sangat begitu mengharapkan dialog antara umat beragama untuk menciptakan kerukunan tersebut sangat diharapkan oleh mereka.

 Baca Juga: Pacific Bike Kembali Ambil Bagian di Iven Riau Pos Gowes Merdeka 2026

Kegiatan tersebut dihadiri Ketua Umum (Ketum) MUI Kabupaten Bengkalis, Buya H. Amrizal serta para pengurus, sejumlah tokoh-tokoh atar umat beragama diantara umat kristiani, Budha,  pihak Forkopimda, pejabat teras sekretariat Pemkab Bengkalis, TNI/Polri.

Ketum MUI Buya H Amrizal menyampaikan, bahwa kegiatan dialog antar umat beragama ini berawal dari gagasan setelah melihat fenomena yang terjadi di tengah masyarakat, terutama di media sosial terkait perdebatan keyakinan dalam beragama.

"Memang selama ini terkhusus di wilayah Kabupaten Bengkalis suasana kerukunan dan kedamaian di kalangan umat beragama  sudah terjalin dengan baik, dan bahkan sudah bisa dikategorikan harmonis," jelas Buya Amrizal.

 Baca Juga: PLN UIP Sumbagteng Raih Tiga Penghargaan Percepatan Pembebasan Lahan dan Perizinan pada Harmonizing

Namun, lanjutnya, seiring perkembangan zaman dan semakin maraknya penggunaan media sosial yang kadang-kadang tidak mengedepankan asas kebijakan dan akal sehat, maka muncul beberapa kasus yang nantinya bila dibiarkan akan memicu persoalan Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (SARA).

"Terkait hal ini, MUI berkewajiban terlibat di dalamnya untuk menyelesaikan dengan mengedepankan pendekatan restorasi justice. Dan kasus-kasus serupa ini jangan sampai muncul lagi di tengah-tengah masyarakat. Sehingga dialog kerukunan umat beragama ini perlu dilaksanakan sebagai wasilah untuk membangun kesepahaman dalam menciptakan kerukunan beragama, " jelasnya.

Jadi kalaupun nantinya ada hal-hal yang bisa memancing perpecahan sehubungan dengan SARA, maka sebaiknya menahan diri dan jangan langsung mengambil kesimpulan terburu-buru, dengan berdiskusi terlebih dulu kepada para tokoh agama dan pemuka masyarakat melalui wadah institusi dan kelembagaan.

 Baca Juga: Dirpamobvit Polda Riau dan Kapolres Kuansing Cek Pengamanan Pacu Jalur di Tepian Narosa

Karena bisa jadi yang memancing itu bukan dari kelompok kaum keagamaan, namun dari pihak-pihak yang memang bertujuan untuk memecah belah persaudaraan antar umat beragama, yang tujuannya untuk menciptakan kegaduhan.

Oleh sebab itu, bagi yang tidak bisa hadir dalam dialog ini, nanti bagi para peserta bisa menyampaikan pengalaman hasil dari dialog tersebut kepada kalangan mereka sendiri, sehingga pesan-pesan kedamaian itu bisa tersampaikan dengan baik.

Sementara itu, Plt Asisten II H. Hambali menyampaikan, bahwa Pemkab Bengkalis mengapresiasi atas terselenggaranya dialog antar umat beragama yang diinisiasi MUI sebagai peran dalam membangun kehidupan keagamaan yang damai sejuk toleransi dan harmonis di tengah masyarakat.

Antara ulama umara dan seluruh masyarakat dalam menjaga persatuan dan mewujudkan kabupaten maju, sejahtera, dan unggul itu berangkat dari kerukunan yang kemampuan untuk menciptakan saling menghormati saling memahami dan bekerja bersama dalam pembangunan.

 "Meskipun kita memiliki perbedaan, namun kabupaten Bengkalis merupakan daerah yang masyarakatnya hidup dalam keberagaman. Kita memiliki latar belakang agama suku budaya dan tradisi yang beragam, namun keberagaman tersebut bukanlah alasan untuk saling menjatuhkan," jelas Hambali.

Artinya, dengan adanya keberagaman ini harus menjadi kekuatan untuk membangun kabupaten Bengkalis yang aman damai maju dan sejahtera. Forum dialog ini memiliki arti yang sangat strategis untuk memberikan ruang bersama, saling mendengar, memahami dan mencari solusi dari berbagai persoalan yang berkembang kalangan masyarakat.

"Jangan sampai perbedaan pemahaman berubah menjadi prasangka, jangan sampai perbedaan pilihan berubah menjadi permusuhan, dan jangan sampai perbedaan keyakinan itu menghilangkan rasa persaudaraan sebagai anak bangsa," harapnya.(ksm)

 

Editor : Edwar Yaman
Dialog Antarumat Beragama tokoh keagamaan mui bengkalis