Kualitas Udara Bengkalis Masuk Kategori Tidak Sehat, Warga Diimbau Gunakan Masker

Abu Kasim • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 15:59 WIB
Tim gabungan melakukan proses pemadaman dan pendinginan di lokasi kebakaran di Desa Tanjung Leban kecamatan Bandar Laksamana, Selasa (25/8/2026). (Istimewa)
Tim gabungan melakukan proses pemadaman dan pendinginan di lokasi kebakaran di Desa Tanjung Leban kecamatan Bandar Laksamana, Selasa (25/8/2026). (Istimewa)

 

BENGKALIS (RIAUPOS.CO) - Kondisi cuaca ekstrim dan terjadinya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah Kabupaten Bengkalis membuat kualitas udara masuk kategori tak sehat. Guna mengantisipasi kondisi itu, masyarakat yang berada di luar rumah agar tetap waspada dan menggunakan penutup mulut dengan menggunakan masker.

Dari pantauan di lapangan, sejak tiga hari terakhir dari pagi sampai siang hari (Selasa) kondisi cuaca panas dengan berawan serta membuat sinar matahari tidak kelihatan. Kondisi itu juga disebabkan oleh kabut asap yang cukup tebal akibat kahutla yang terjadi di Kabupaten Bengkalis.

Berdasarkan pemantauan kualitas udara yang ditampilkan IQAir, indeks kualitas udara (AQI US) Bengkalis mencapai 185, dengan konsentrasi polutan utama PM2.5 sebesar 104,4 µg/m³ pada, Selasa (25/8/2026) sekitar pukul 09.00 WIB.

 Baca Juga: Telukkuantan Masih Belum Pulih, Petugas Kebersihan Masih Berjibaku Bersihkan Sampah

"Ya, kondisi udaranya sangat buruk. Ini menunjukkan adanya peningkatan paparan polusi udara yang perlu menjadi perhatian masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, serta masyarakat yang memiliki sensitivitas terhadap polusi udara," ujar Kelapa Pelaksana (Kalasa) BPBD Kabupaten Bengkalis, Salman Alfarisi, Selasa (25/8/2026).

Sedangkan dalam rekomendasi kondisi isu udara Riau, yang ditampilkan pada informasi pemantauan lingkungan, masyarakat di wilayah dengan kategori tidak sehat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika kualitas udara memburuk.

"Selain mengurangi paparan, masyarakat diimbau turut menjaga lingkungan dengan menghindari pembakaran sampah maupun pembukaan lahan menggunakan cara yang dapat memperburuk kualitas udara," harapnya.

 Baca Juga: Pemkab Inhu Keluarkan Surat Edaran, Besok Pembelajaran Dilakukan secara Daring

Di sisi lain, tim gabungan juga  terus memperkuat upaya pemadaman dan pemadaman Karhutla di Desa Tanjung Leban, Kecamatan Bandar Laksamana, Kabupaten Bengkalis, yang terjadi sejak, Senin (24/8/2026). Penanganan kebakaran melibatkan Polsek Bukit Batu bersama BPBD, TNI, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api (MPA), Regdam Kecamatan Bandar Laksamana, serta tenaga kesehatan dari Puskesmas Tenggayun.

Kapolres Bengkalis melalui aKasi Humas, Aipda Juliandi Bazrah, mengatakan penanganan dilakukan secara bersama-sama dengan mengutamakan pemutusan penyebaran api dan pendinginan untuk mencegah munculnya kembali titik api.

“Tim gabungan masih melakukan pemadaman dan pendinginan di lokasi. Kepala api sudah berhasil diputus, namun pendinginan terus dilakukan untuk memastikan bara di dalam lahan benar-benar padam,” ujar Juliandi, Selasa (25/8/2026).

 Baca Juga: Alam Cahayo Tuah Nagoghi Juara, Dua Anak Pacu Tunaikan Nazar Jalan Kaki

Kegiatan penanganan dimulai sekitar pukul 08.00 WIB. Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, luas lahan yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai sekitar 1,5 hektare. Dari luasan tersebut, sekitar 0,9 hektare telah berhasil dilakukan pemadaman dan pendinginan.

Meski api utama telah berhasil dikendalikan, personel gabungan masih disiagakan di sejumlah titik. Hal ini dilakukan karena bara api yang berada di dalam permukaan lahan, terutama pada kawasan yang terbakar, berpotensi kembali menjadi sumber api apabila tidak dilakukan pendinginan secara menyeluruh.

Ia menyebutkan, setelah api utama berhasil diputus, personel tidak langsung meninggalkan lokasi. Pendinginan dan pemantauan tetap dilakukan untuk memastikan tidak ada bara api yang tersisa dan berpotensi memicu kebakaran kembali, kata Juliandi.

 Baca Juga: Peserta Riau Pos Gowes Merdeka 2026  Tembus 1.250 Orang

Sebanyak 37 personel dikerahkan dalam penanganan Karhutla tersebut. Mereka terdiri dari empat personel BPBD, delapan personel Polri, empat personel TNI, tujuh personel Manggala Agni, delapan anggota MPA Tanjung Leban, tiga personel Regdam Kecamatan Bandar Laksamana, serta tiga tenaga kesehatan dari Puskesmas Tenggayun.

Keterlibatan tenaga kesehatan menjadi bagian penting dalam mendukung keselamatan personel selama berada di lokasi kebakaran. Tim medis disiagakan untuk memberikan pertolongan apabila terdapat petugas yang mengalami gangguan kesehatan selama proses pemadaman maupun pendinginan.

Kondisi di lokasi yang panas, disertai asap dan sisa bara, membuat personel harus bekerja secara bergantian serta memperhatikan kondisi fisik selama menjalankan tugas.

“Keselamatan personel menjadi perhatian. Dengan adanya tenaga kesehatan, kondisi petugas dapat dipantau dan pertolongan bisa segera diberikan apabila ada yang mengalami gangguan kesehatan,” ujar Juli.

 

Dalam proses penanganan, tim gabungan juga menghadapi kendala keterbatasan sumber air. Sejumlah embung yang berada di sekitar lokasi tidak memiliki persediaan air yang cukup untuk mendukung proses pemadaman dan pendinginan.

Kondisi tersebut membuat personel harus menggunakan air secara efektif sekaligus mencari sumber air alternatif yang dapat dimanfaatkan.

Juli mengatakan, keterbatasan sumber air menjadi salah satu tantangan dalam penanganan Karhutla, khususnya ketika proses pendinginan membutuhkan pasokan air secara berkelanjutan.

“Untuk pendinginan, ketersediaan air sangat penting. Saat ini personel berupaya menggunakan sumber air yang ada secara efektif dan terus berkoordinasi untuk mencari alternatif sumber air di sekitar lokasi,” ujarnya.

 Baca Juga: Pemprov Riau Dorong Perdagangan Karbon Perkuat Fiskal Daerah 

Selain melakukan pemadaman dan pendinginan, personel juga melaksanakan pemantauan secara berkala terhadap area yang sebelumnya terbakar. Tim dibagi ke sejumlah titik agar proses pendinginan dapat dilakukan secara bersamaan dan lebih menyeluruh.

"Dalam pemahaman karhutla, koordinasi dengan pemerintah desa dan instansi terkait juga terus dilakukan, terutama untuk memetakan sumber air yang dapat digunakan apabila terjadi Karhutla di kawasan tersebut," jelasnya.

Menurut Juli, ketersediaan sumber air perlu menjadi perhatian bersama karena dapat mempercepat respons apabila terjadi kebakaran, sekaligus mendukung proses pendinginan pascakebakaran.

“Penguatan sumber air menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan di wilayah rawan Karhutla. Dengan sumber air yang memadai, proses pemadaman dan pendinginan bisa dilakukan lebih cepat dan maksimal,” ujarnya.

Sebelumnya, berdasarkan pemantauan dan verifikasi lapangan, ditemukan tiga titik panas atau hotspot di sekitar kawasan tersebut. Penanganan kemudian dilakukan secara bersama-sama oleh berbagai unsur dengan mengutamakan sinergitas dan keselamatan personel.

Polri bersama seluruh unsur terkait tidak hanya melakukan pemadaman, tetapi juga pendinginan, pemantauan pascakebakaran serta penguatan koordinasi terkait sumber air. Hingga Senin siang, kondisi di lokasi masih dalam tahap pendinginan dan pemantauan. Personel gabungan tetap disiagakan untuk mengantisipasi munculnya kembali bara api.

“Kami mengimbau masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran lahan. Jika menemukan adanya titik api atau asap, segera laporkan kepada petugas agar dapat ditangani sedini mungkin,” jelas Juliandi.(ksm)

Editor : Edwar Yaman
Kualitas Udara karhutla tidak sehat gunakan masker bengkalis