Bupati Bengkalis Ikut Padamkan Api Karhutla di Desa Sungai Meranti

Abu Kasim • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 20:36 WIB
Bupati Bengkalis Hj Kasmarni ikut melakukan pemadaman api Karhula di Desa Sungai Meranti, Kecamatan Pinggir, Senin (7/9/2026). Foto Istimewa
Bupati Bengkalis Hj Kasmarni ikut melakukan pemadaman api Karhula di Desa Sungai Meranti, Kecamatan Pinggir, Senin (7/9/2026). Foto Istimewa

PINGGIR (RIAUPOS.CO) -- Kondisi asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) membuat prihatin semua pihak. Bahkan untuk melihat kondisi ril di lapangan, Bupati Bengkalis Hj Kasmarni langsung meninjau kondisi Karhutla dan ikut melakukan pemadaman di Desa Sungai Meranti, Kecamatan Pinggir, Senin (7/9/2026).

Tak sekadar melihat kondisi dari kejauhan, Kasmarni bahkan turun ke lokasi dan ikut melakukan pemadaman di lahan yang terbakar. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan penanganan berjalan optimal sekaligus melihat secara langsung kondisi lapangan yang dihadapi para petugas.

Berdasarkan laporan Pusfalops-PB BPBD Kabupaten Bengkalis per 6 September 2026, Karhutla di Desa Sungai Meranti mulai terjadi sejak Sabtu (5/9/2026). Lahan yang terdampak diperkirakan mencapai sekitar 20 hektare, dengan vegetasi berupa semak belukar dan perkebunan sawit di kawasan tanah gambut.

Baca Juga: Pagi Hotspot di Inhu 135, Sore Jadi 32, Bupati Minta Camat Tingkatkan Sosialisasi Karhutla

Meski dari hasil peninjauan diketahui lahan tersebut merupakan milik pribadi dan berada di luar wilayah administratif Kabupaten Bengkalis, pemerintah daerah tetap mengambil langkah penanganan bersama unsur terkait. Hal ini dilakukan sebagai bentuk antisipasi agar api tidak meluas dan menimbulkan dampak terhadap wilayah sekitar.

"Untuk penanganan Karhutla ini, anggaran menjadi salah satu prioritas kita. Saat ini status kita masih siaga, sehingga seluruh langkah antisipasi dan penanganan harus terus dilakukan secara maksimal," jelas Kasmarni.

Menurutnya, kesiapsiagaan tidak boleh kendur. Kondisi cuaca panas disertai angin kencang berpotensi mempercepat penyebaran api, khususnya pada kawasan yang memiliki vegetasi mudah terbakar dan lahan gambut.

Baca Juga: Kualitas Udara Tak Sehat, Murid Pekanbaru Kembali Belajar Daring 9 September

"Petugas harus selalu siap di lapangan, baik untuk melakukan pemantauan, pemadaman maupun pendinginan apabila ditemukan titik api. Kita tidak boleh lengah," ujarnya.

Kasmarni juga meminta, jajaran terkait untuk terus melakukan pemantauan meskipun titik api telah berhasil dipadamkan. Sebab, asap yang masih terlihat dan kondisi angin kencang dapat menjadi indikator adanya bara yang berpotensi kembali menyala.

"Saya meminta seluruh petugas terus berkoordinasi. Masyarakat juga harus ikut membantu dengan segera memberikan informasi apabila menemukan titik api atau asap yang mencurigakan," harapnya.

Baca Juga: Udara Tak Sehat Akibat Karhutla, Sejumlah Sekolah di Kampar Terapkan PJJ

Berdasarkan laporan BPBD per 6 September 2026, titik api di Desa Sungai Meranti telah berhasil dipadamkan. Namun, asap masih terpantau akibat kondisi angin kencang dan cuaca panas. Satgas gabungan darat tetap melakukan pemantauan, pemadaman dan pendinginan di lokasi.

Penanganan dilakukan secara bersama-sama oleh BPBD Pos Pinggir, TNI, Polri, PT Murini dan Masyarakat Peduli Api (MPA). Sinergi lintas sektor tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan api dapat segera dikendalikan dan tidak meluas ke wilayah lainnya.

Pada kesempatan itu, Bupati Hj Kasmarni kembali mengingatkan masyarakat agar tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar, terlebih dalam kondisi cuaca panas dan kering seperti saat ini.

Baca Juga: PT Pegadaian Kantor Wilayah II Pekanbaru Salurkan Bantuan untuk Kelompok Tani

"Jangan membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Api di lahan gambut sangat mudah menyebar dan sulit dikendalikan. Jika melihat adanya titik api atau asap yang mencurigakan, segera laporkan kepada aparat desa, BPBD maupun petugas terkait," harapnya.

Kasmarni menegaskan, keberhasilan penanganan Karhutla tidak cukup hanya mengandalkan kesiapan pemerintah dan petugas. Upaya pencegahan membutuhkan kesadaran serta keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

"Penanganan Karhutla bukan hanya tanggung jawab pemerintah dan petugas, tetapi tanggung jawab kita bersama. Pemerintah dan petugas siap di lapangan, tetapi pencegahan akan jauh lebih baik jika dilakukan bersama-sama oleh seluruh masyarakat," tegasnya.

Baca Juga: PUPR Kampar Kejar Target Realisasi Pekerjaan hingga Akhir 2026

Dalam peninjauan tersebut, Kasmarni didampingi Dandim 0303 Bengkalis Letkol Inf Harris Nur Priatno, Wakapolres Kompol Ridho Perasetia, Kalaksa BPBD Salman Alfarisi, sejumlah Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bengkalis, serta Kepala Desa Sungai Meranti Basma Adam Lubis.

Sementara itu, data rekapitulasi BPBD per 6 September 2026 mencatat Kecamatan Pinggir memiliki 45 hotspot dan 9 kejadian Karhutla, dengan total luasan terdampak sekitar 53,7 hektare. Sejumlah lokasi yang tercatat antara lain Buluh Apo, Pangkalan Libut dan Sungai Meranti.

Pemkab Bengkalis memastikan kesiapsiagaan menghadapi Karhutla terus diperkuat. Dengan status masih siaga, personel tetap disiagakan dan pemantauan dilakukan secara berkelanjutan.

Baca Juga: Jalan Eks Transmigrasi Giri Sako Segera Diaspal, Muklisin: Pengajuan Sudah di Kementerian

Pemerintah daerah juga kembali mengajak, masyarakat menjadi bagian penting dari upaya pencegahan dengan tidak melakukan pembakaran lahan serta segera melaporkan setiap indikasi Karhutla.

"Lebih baik kita mencegah sebelum api membesar. Karena ketika api sudah meluas, bukan hanya lahan yang terbakar, tetapi lingkungan dan keselamatan masyarakat juga menjadi taruhan," ujar Kasmarni.

Editor : Rinaldi
sungai meranti api karhutla bupati bengkalis