Ketika Lancang Kuning Berlayar dengan Tumbal
Redaksi • Selasa, 8 Mei 2012 | 07:50 WIB
Laporan EKA GUSMADI PUTRA, Pekanbaru eka-gusmadi-putra@riaupos.co
‘’Lancang Kuning, Lancang Kuning berlayar malam, hai berlayar malam, Haluan menuju, haluan menuju ke laut dalam...” Begitulah petikan sepenggal lagu khas Melayu kebanggaan Riau berjudul ‘’Lancang Kuning.’’
Tak salah jika negeri ini acap disebut Bumi Lancang Kuning. Namun, bagaimana jika ada sesuatu yang baru dari cerita pelayaran kapal tersebut membutuhkan tumbal seorang perempuan berani?
Hal tersebut hanya ada dalam karya dan sutradara Rina Nazaruddin Entin (NE) yang berjudul Melodi Pengakuan. Dipentaskan selama tiga hari, 3-5 Mei di Gedung Tertutup Anjungan Seni Idrus Tintin, Kawasan Purna MTQ, Jalan Sudirman, Pekanbaru.
Rina tampak benar ingin menyatakan dengan tegas bahwa perempuan juga bisa memiliki kesetaraan dengan lelaki.
Ia pun mengangkat sosok Zubaidah, seorang perempuan cantik dan berani yang tengah hamil tujuh bulan sebagai nyawa dari karya yang ditelurkannya selama kurang dari tiga bulan tersebut.
Hasilnya, selama tiga hari pementasan, tak kurang dari 1200 penonton menikmati pementasan monolog berdurasi hampir 100 menit tersebut yang disaksikan berbagai kalangan, mulai dari masyarakat awam, kalangan pelajar, hingga budayawan besar Riau.
“Banyak ide yang ada di benak saya ketika itu. Namun saya memutuskan mengangkat kembali cerita lama, ‘Lancang Kuning’ dengan versi kekinian, dengan mengambil kesaksian-kesaksian enam lakon dan disajikan dengan monolog dari masing-masing pelakon,” sebut sang sutradara yang bernaung di bawah Teater Selembayung usai pementasan kemarin.
Di awal cerita, disajikan sebuah dialog antara ibu dan anak pada masa kekinian. Ibu yang berdialog santai mencoba menceritakan kembali keingintahuan anaknya tentang kisah Lancang Kuning.
Ibu di sini diperankan Wirnasari dan anak oleh Della Pratiwi. Dengan memanfaatkan lighting yang menarik, hidup mati selama kurang dari satu menit, di panggung tiba-tiba muncul enam aktor dan aktris yang berdiri diatas sebuah kotak setinggi dua meter yang berbaju putih polos dan wajah berhias. Dua perempuan dan empat laki-laki. Di bawah kotak tersebut ada para penari berbaju hitam polos.
Enam lakon inilah yang memberi kesaksian-kesaksian dengan mengeluarkan kemampuan aktingnya tanpa berinteraksi dengan pemeran lain. Mereka hanya menceritakan sendiri watak dan cerita masing-masing dalam monolog selama sepuluh menit lebih.
Tampak benar, dalam tiga hari pementasan tersebut, aktor dan aktris sudah kelihatan lelah, namun melihat antusiasme penotnon setiap malam, terutama di hari terkahir, mereka tetap bersemangat.
Tidak hanya penjiwaan karakter pemeran yang membuat penonton betah, namun juga selain itu pagelaran Melodi Pengakuan tersebut juga diisi dengan tata cahaya dan dekor panggung yang menarik dan selalu membuat penonton bertanya-tanya.
Terlebih di awal cerita disajikan sebuah video sebagai prolog cerita. Rina tampaknya paham benar penikmat karyanya banyak dari kalangan awam.
Sehingga dengan prolog melalui video tersebut memberikan gambaran awal kepada penonton untuk kemudian masuk dalam setiap peran.
Pada pementasan tersebut, monolog awal dimainkan oleh Panglima Hasan, panglima culas, kejam, keji dan penuh dengki ini diperankan oleh Fedli Azis, pimpinan Teater Selembayung.
Ia merupakan sahabat dekat Panglima Umar yang gagah berani. Panglima Umar lah yang memperistri Zubaidah yang menjadi nyawa dari karya Rina ini. Umar diperankan oleh Ekky Gurin Andika, sementara aktris cantik Rehulina Sinuhaji memainkan watak tegar seorang Zubaidah.
Negeri Bukit batu yang dipimpin Datuk Laksemana, diperankan Rian Harahap, pada suatu ketika memiliki hajatan besar. Ingin melayarkan sebuah simbol kebanggaan negeri tersebut, kapal Lancang Kuning. Namun, jelang pelayaran kapal tersebut, Panglima Umar yang gagah berani harus dikirim ke negeri seberang, Tanjung Jati untuk memberantas lanun, kawanan pencuri dan perampok.
Zubaidah, sang istri Panglima Umar ketika itu sedang mengandung tujuh bulan. Karena merasa hal tersebut demi nama baik negeri, maka Zubaidah mengizinkan suami tercinta untuk berangkat. Zubaidah ditemani Inang, diperankan oleh Mimi Suryani yang sudah merawatnya sejak kecil hingga besar dan sudah menganggap Zubaidah sebagai anaknya sendiri.*** Editor : RP Redaksi