Kita adalah makhluk kumandang. Untuk berbuat bajik, seseorang tidak mesti banyak tahu. Kala banyak tahu, kebajikan itu malah mendaku. Daku-dakuan adalah sebuah permainan tentang asal dan sumber kebajikan. Setiap derap kebajikan yang hendak dilakukan, selalu dibungkus oleh ‘penyakit Eropaâ€. Salah satu bentuk “penyakit Eropaâ€, kata Camus; “tidak percaya pada apa pun, sementara mengaku tahu semua ihwalâ€. Dalam cara pandang sederhana, ada satu kurikulum yang diagung-agungkan dalam pola pendidikan calon taruna; “Harus tahu segala hal, sampai sehelai daun yang jatuh di wilayah yang dipimpinnya, dia harus tahuâ€. Walhasil, jika diringkas dia menjadi semacam ini; “sedikit tahu tentang yang banyak, dan banyak tahu tentang yang sedikitâ€. Dalam kepompong inilah kebajikan dibangun dan disalur. Pongah kah?
Manusia adalah makhluk kumandang. Secuil perbuatan yang berasal dari sentuhan jemari nan lemah, seakan harus dipaksa menjadi milik publik. Alias harus dipublikasikan, sehingga dia mengalami masa-masa “pemaksaan†ke area publik, untuk sebuah pengakuan dan sekaligus pendakuan. Lalu, “penyakit Eropa†itu mengalami pengerasan bentuk dan kebisuan sekaligus; “Sebenarnya Eropa tak banyak tahu, dan dari segala pemberontakan dan harapan yang kita rasakan, Eropa yakin akan satu hal: ia yakin bahwa pangkal kejahatan seseorang dalam batasnya yang misterius, membatasi jauhnya kebesaran Eropaâ€, ujar Camus lagi. Begitu jua halnya segala perbuatan bajik yang dilakukan, lalu disusun untuk majelis publik, seakan kebajikan itu adalah bagian dari persemaian diri yang harus diketahui oleh orang banyak. Sehingga kebajikan menjadi sebuah kondisi yang serba memaksa.
Kerja menulis itu adalah jenis kebajikan. Menghidangkannya menjadi makanan publik lewat media cetak, media elekronik, sampai media sosial, adalah bentuk tindakan “menyaji†langsung. Soal dibaca atau tak digubris oleh publik, itu juga sebuah kesabaran dan keteguhan untuk menghindari “penyakit Eropaâ€. Menulis buku, juga sebuah kerja bajik. Namun, ketika buku itu mengalami peng-kenduri-an, dia seakan menjalani fase-fase pemaksaan terhadap publik. Dalam acara peluncuran buku, di situ ada instrumen memaksa. Di sini, seseorang menggunakan daya dan kekuatan untuk memaksa, agar orang-orang yang diundang membaca dan mengikuti jalan fikirannya yang tersimpan di dalam dua sisi cover buku itu. Di satu sisi, dia menghidang ilmu dan informasi dalam semangat berbagi. Di sisi lain, dia sekaligus ingin berbagi kepada awam, kepada publik dalam majelis syukuran, karena kelebihan rezeki. Di sisi yang lain lagi, ada penghamburan instrumen yang dilebih-lebihkan untuk sebuah perbuatan bajik (menulis buku).
Editor : RP Redaksi