GORONTALO (RIAUPOS.CO) - Guru dan murid di Gorontalo yang beradegan mesum dan direkam diam-diam oleh siswi lainnya tersebar di dunia maya hingga berdampak luas. Kini, pemeran video guru dan murid di Gorontalo tersebut dikeluarkan dari sekolah.
Pria dalam video yang diketahui adalah guru dan wanita adalah seorang siswi di sekolah MAN yang sama tempat mereka menjadi tenaga pendidik dan pelajar di Gorontalo pun sudah ditetapkan sebagai tersangka.
Di mana sang guru yang ditetapkan kepolisian setempat sebagai tersangka, diancam belasan tahun penjara.
Agar tidak meluasnya kasus serupa, sehingga dalam menghadapi kasus kekerasan seksual di lingkungan sekolah, sejumlah organisasi yang tergabung dalam Jejaring Aktivis Perempuan dan Anak (Jejak Puan) Provinsi Gorontalo mengajak semua pihak untuk memberikan perlindungan kepada siswa korban.
Sebab, alih-alih mengeluarkan mereka dari sekolah, dukungan yang berkelanjutan sangat diperlukan agar korban dapat melanjutkan pendidikan dan pulih dari trauma yang dialami.
Demikian ditegaskan Ketua Bidang Riset Sahabat Anak, Perempuan, dan Keluarga (Salam Puan), Novi R. Usu, menekankan bahwa dalam kasus yang melibatkan oknum guru dan siswa di Gorontalo, pihak sekolah memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan siswa tersebut tetap dapat melanjutkan pendidikannya.
Menurut Novi, sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman bagi siswa untuk pulih dan mendapatkan dukungan, bukan malah mengeluarkannya.
"Kami sangat menyayangkan mengapa pihak sekolah justru memutuskan untuk mengeluarkan siswa tersebut," ujar Novi dalam konferensi pers yang diselenggarakan oleh Jejak Puan, dikutip dari Gorontalopost.jawapos.com.
Baca Juga: Skandal Video Rebecca Klopper Muncul Lagi, Haji Faisal: Jangan Tanya, Saya Bukan Pakar
Ia menegaskan, sekolah adalah rumah kedua bagi siswa, sehingga sudah sepatutnya memberikan perlindungan dan pendampingan. Terlebih lagi, korban kekerasan seksual sering kali adalah anak di bawah umur, yang rentan mengalami trauma berkepanjangan.
Novi juga mempertanyakan apakah pihak sekolah telah mempertimbangkan kebutuhan dan keinginan korban.
Baca Juga: Video Guru dan Murid di Gorontalo Berdurasi 7 Menit, 3 Fakta Baru Ini Terungkap Terkait para Pemeran
"Filosofi pendidikan di Indonesia adalah berpihak pada peserta didik. Apakah pihak sekolah sudah pernah menanyakan kepada korban mengenai keinginannya untuk tetap sekolah atau tidak? Saya sedang membayangkan saat ini anak tersebut sedang apa? Siapa yang menemani dan jadi tempatnya bercerita? Dukungan apa yang dia perlukan?" tambahnya.
Baca Juga: Video Viral Kejadian Begal di Duri Hoaks, Kapolsek Minta Masyarakat Lakukan Cek dan Ricek
Di sisi lain, Direktur Woman Institute for Research and Empowerment of Gorontalo (WIRE-G), Kusmawaty Matara, juga mengkritisi keputusan sekolah yang mengeluarkan korban dan berencana memindahkannya ke sekolah lain.
Ia menyoroti risiko perundungan yang mungkin dihadapi korban di lingkungan baru.
"Apakah ada yang bisa menjamin korban ini tidak akan mengalami perundungan di sekolah barunya? Di tempat yang baru dia justru akan merasa sendiri, tidak ada yang dikenalinya dan belum tentu lingkungan barunya akan berempati padanya," ungkap Kusmawaty.
Baca Juga: Pria Penjaga Keramba Ikan Gantung Diri saat Video Call, Berawal Diputuskan Pacar
Menurut Kusmawaty, dukungan dari sekolah lama sangat penting untuk membantu korban pulih dari trauma. Sekolah yang bertindak dengan pendekatan yang berfokus pada kepentingan korban akan sangat membantu proses pemulihan, baik secara fisik maupun mental.
Sikap yang sama juga diungkapkan oleh Direktur Lembaga Riset, Hukum, dan Gender (Leaders) Gorontalo, Hijrah Lahaling.
Baca Juga: Video Guru dan Murid Gorontalo, Ini Alasan Penyebar hingga Jadi Viral Menurut Polisi
Ia berharap pihak sekolah tidak merasa malu atau khawatir reputasinya akan tercoreng karena kasus ini.
Justru, menurutnya, sekolah akan mendapat apresiasi jika menunjukkan dukungan penuh terhadap korban.
"Siswa-siswa lainnya juga akan memiliki keberanian untuk bicara jika mengalami kekerasan di lingkungan sekolah karena mereka percaya bahwa pihak sekolah akan mendukungnya," ujar Hijrah.
Sebagai salah satu bentuk dukungan, Hijrah mengusulkan agar sekolah mengadakan sosialisasi kepada seluruh siswa, meminta mereka untuk tetap berempati, tidak merundung, dan membantu korban memulihkan kepercayaan diri.
Baca Juga: Profil Fauzana, Penyanyi Minang Viral di Youtube
Dengan begitu, korban dapat kembali fokus belajar dan menyelesaikan pendidikannya dengan baik.
Jejak Puan, yang terdiri dari berbagai organisasi dan komunitas seperti Woman Institute for Research and Empowerment of Gorontalo (WIRE-G), Salam Puan, Leaders Institute, Gusdurian Kota Gorontalo, Pustaka Bergerak Indonesia, KOHATI Cabang Gorontalo, KOPRI PMII Ichsan, Sekolah Kampung Gorontalo, Teater Peneti Gorontalo, Indung Art Project, KOPRI Kota Gorontalo, KOMAKI Gorontalo, dan KOHATI Bone Bolango, terus mendesak pihak sekolah untuk mengambil langkah yang lebih bijak dalam menangani kasus ini.
Mereka berharap, korban kekerasan seksual di lingkungan sekolah mendapat perlindungan yang semestinya, tanpa harus merasa terisolasi dari pendidikan yang menjadi haknya.
Sumber: Gorontalopost.jawapos.com
Editor : RP Eka Gusmadi Putra