Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Tragedi Latihan Terjun Payung di Pangandaran: Dua Atlet Tewas, 3 Penerjun Syok Akibat Perubahan Angin Ekstrem

Redaksi • Rabu, 31 Desember 2025 | 09:59 WIB

Ilustrasi: Tragedi terjun payung Pangandaran 2 atlet tewas akibat perubahan angin ekstrem, 3 selamat.
Ilustrasi: Tragedi terjun payung Pangandaran 2 atlet tewas akibat perubahan angin ekstrem, 3 selamat.
 

PANGANDARAN (RIAUPOS.CO) – Sesi latihan dan uji kemampuan lima atlet terjun payung dalam agenda Kejurda Jawa Barat berubah menjadi tragedi maut di Pangandaran, Selasa (30/12/2025). Langit Pangandaran mendadak berubah mencekam tatkala perubahan arah angin  menghantam para penerjun pada ketinggian sekitar 10.000 kaki.

Dalam hitungan detik, kendali parasut terganggu, dan lima atlet itu terpental keluar dari zona pendaratan yang telah ditentukan. Lima atlet tersebut melompat dari pesawat latih Cessna 185 PK-SRC milik Fly School Ganesha yang lepas landas dari Bandara Nusawiru.

Semua prosedur penerjunan disebut telah dilakukan sesuai standar. Namun faktor cuaca menjadi titik awal malapetaka. Menurut keterangan kepolisian dan tim SAR, angin tiba-tiba berubah arah cukup drastis dan membuat penerjun terseret menjauh dari Drop Zone (DZ) Bojongsalawe.

 Baca Juga: Sesuai Target, Jalur Pejalan Kaki Jembatan Siak 1 Sudah Bersih dari Kabel dan Pipa

Dari lima atlet tersebut, tiga di antaranya berhasil melakukan pendaratan darurat di area pantai meski dalam kondisi syok dan mengalami luka ringan.

"Tiga atlet berhasil mendarat darurat di Pantai Bojongsalawe dalam kondisi selamat, sementara dua atlet lainnya jatuh ke perairan laut," ujar Humas Polres AKBP Andri Kurniawansebagaimana dikutip dari pojoksatu.id.

Mereka adalah Khudlori (54), Karni (56), dan M. Almusthofa (56). Ketiganya langsung dievakuasi tim medis untuk mendapatkan pertolongan pertama. Namun dua atlet lainnya hilang dari pantauan setelah terhempas menuju arah laut terbuka.

Warga sekitar yang kebetulan berada di Pantai Bojongsalawe melihat momen itu dengan panik. Sejumlah saksi mengatakan parasut korban tampak berputar tak stabil sebelum akhirnya jatuh di perairan.

Tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, Polairud, TNI, dan relawan langsung mengerahkan perahu karet untuk melakukan pencarian cepat. Korban pertama ditemukan dalam keadaan tak bernyawa beberapa saat setelah tim menyisir area laut. Sementara itu, korban kedua sempat dilaporkan hilang sebelum akhirnya ditemukan juga dalam kondisi meninggal di titik yang tidak jauh dari lokasi pertama.

Keduanya diketahui merupakan atlet senior yang sering mengikuti agenda penerbangan olahraga: Rusli, pria 64 tahun asal Medan, dan Widiasih, atlet wanita asal Bandung berusia 58 tahun.

Kapolres Pangandaran dan tim penyelenggara Kejurda langsung menghentikan kegiatan terjun payung sesaat setelah tragedi terjadi. Evaluasi internal dilakukan untuk menelusuri potensi faktor lain, meskipun indikasi utama tetap mengarah pada perubahan angin mendadak.

Polisi juga mengimbau agar seluruh kegiatan ekstrem berbasis udara ke depan harus benar-benar memastikan koordinasi dengan BMKG dan otoritas lapangan.

Peristiwa ini tidak hanya mengguncang dunia olahraga terjun payung.

Tetapi juga membuat masyarakat heboh karena banyak warga di sekitar pantai menyaksikan proses evakuasi secara langsung. Momen dramatis ketika tim SAR menarik tubuh korban dari air bahkan disebut-sebut menjadi viral di media sosial. Meski aparat meminta publik untuk tidak menyebarkan visual sensitif terkait para korban.

Hingga berita ini ditulis, seluruh atlet selamat telah mendapatkan perawatan lanjutan, dan jenazah dua korban telah dievakuasi ke rumah duka masing-masing.

Sementara itu, penyelidikan lebih rinci mengenai kondisi angin, rute penerjunan, serta kesiapan tim lapangan masih terus dilakukan oleh pihak terkait. Tragedi terjun payung Pangandaran menjadi pengingat bahwa aktivitas ekstrem di udara membutuhkan pengawasan cuaca yang sangat ketat.

Di sisi lain, keberanian para atlet yang tetap menjalani latihan meski berhadapan dengan risiko tinggi membuat publik memberikan penghormatan mendalam atas dedikasi mereka.***

Editor : Edwar Yaman
#Perubahan Angin Ekstrem #pangandaran #Latihan Terjun Payung #terjun payung