BANTEN (RIAUPOS.CO) - Ternyata, jenazah Mr X yang ditemukan di Perairan Pulau Enggano, Bengkulu pada 12 September atau hari kelima operasi SAR pencarian penumpang kapal yang membawa 5 jurnalis saat liputan erupsi Gunung Anak Krakatau, adalah Surakman, salah seorang kru kapal tersebut.
Hal ini diketahui lewat pencocokan DNA, dimana polisi mengidentifikasi jenazah Surakman, kru kapal Arupadhatu 1 yang hilang di Selat Sunda saat membawa lima jurnalis.
Jenazah Surakman ditemukan di Perairan Pulau Enggano, Bengkulu, pada 12 September atau hari kelima operasi SAR. Hasil identifikasi itu menjadi temuan besar dalam upaya pencarian kelima jurnalis dan ketiga kru kapal.
Baca Juga: Tiga Perwira Berganti di Jajaran Polresta Pekanbaru
Kapolda Banten Irjen Pol Hengki menyampaikan, hasil identifikasi bersumber dari pencocokan DNA jenazah mister X dengan data ante mortem keluarga 5 jurnalis dan 3 krup yang hilang kontak sejak Senin (7/9/2026).
Ciri-ciri fisik jenazah itu bertinggi 163 sentimeter, umur lebih kurang 50 tahun, dan mengenakan celana pendek hitam.
”Hasil identifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan DNA operasi DVI Pusdokkes Polri terhadap seorang mayat Mr. X yang ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, bahwa secara genetik PM/62/P.ENGGANO/01 itu kode jenazah Mr. X tadi, teridentifikasi sebagai Surakman atau ABK kapal,” kata Hengki kepada awak media pada Rabu (23/9/2026).
Baca Juga: 19 Anggota DPRD Sudah Dipanggil Penyidik Polres Kuansing
Jenderal bintang dua Polri itu menyatakan bahwa Surkaman adalah ayah biologis pemilik data antemortem bernama Yayat. Dia merupakan putra kandung Surakman, kru Kapal Arupadhatu 1.
Data-data primer seperti gigi, sidik jari, dan DNA mister X dinyatakan identik dengan keluarga kandung Surakman. Dalam operasi SAR tersebut, fokus Tim SAR Gabungan adalah mencari delapan orang yang hilang.
Yakni Warta selaku kapten kapal, Surakman selaku anak buah kapal (ABK), Heriyanto selaku guide, M. Bagus Khoerunnas dari Antara, Arie Basuki dari Merdeka, Yudhistiro Pranoto dari iNews, Firdaus Wajidi dari Anadolu, dan Donal Husni jurnalis freelance.
Operasi SAR yang berlangsung selama 10 hari sempat diperluas sampai ke Samudera Hindia, Pesisir Lampung, Pesisir Bengkulu, dan beberapa pulau tidak berpenghuni di sekitar Gunung Anak Krakatau.
Meski demikian, operasi laut, darat, dan udara tersebut tidak kunjung membuahkan hasil. Baru hari ini, ada temuan signifikan terkait hilangnya lima jurnalis yang diumumkan oleh Polda Banten.
Temuan itu diperoleh dari informasi dan laporan Polda Bengkulu kepada Polda Banten.
Baca Juga: Ratusan Narkoba dari Pekanbaru Gagal Edar di Jakarta, Mulai dari Ekstasi, Sabu hingga Gnaja
Laporan tersebut lantas ditindaklanjuti dengan mengirimkan data antemortem keluarga 5 jurnalis dan 3 krup kapal dari Banten ke Bengkulu. Hari ini hasilnya telah diumumkan oleh kapolda.
Editor : Eka G PutraSumber : jawapos.com