Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Harun Masiku dan Ronald Tanur

Redaksi • Senin, 4 Agustus 2025 | 05:05 WIB
Samsul Nizar
Samsul Nizar

Oleh: Samsul Nizar

Misteri sosok Harun Masiku yang hilang (ghaib) tanpa jejak dan kasus Ronald Tanur telah membongkar jaringan mafia pengadilan telah menyisakan kepedihan. Akibatnya, akal sehat dan "kepercayaan" tercabik-cabik.

Kedua kasus hanya "butiran salju" yang sedang "apes". Andai, butiran tersebut digelindingkan pada areal yang lebih luas, maka bola salju ini akan menggunung dan menenggelamkan semua manusia di muka bumi.

Sosok Harun Masiku dan Ronald Tanur hanya "sedebu" yang masuk ke mata keadilan di tengah tebalnya debu letusan gunung merapi atas persoalan serupa. Sedebu yang sangat memedihkan mata dan panasnya mencabik-cabik harga diri. Apalagi bila gumpalan debu panas kasus lainnya ikut "meletus". Ia akan meluluh-lantakkan peradaban dan alam semesta.

Andai cara mengungkap kedua kasus ini dilakukan secara obyektif, berkelanjutan, serius, dan menggunakan "jaring pukat harimau"(komprehensif), maka akan banyak "vampir" semisalnya yang terjerat. Bila hal ini dilakukan, maka negeri ini akan terbebas dari penyakit serakahnomics. Sungguh, "penyakit korupsi dilakukan karena uang halal tak pernah cukup untuk membiayai kejahatan". Meski telah dihukum, ternyata tak bisa menyurutkan hasrat serakah pada masa selanjutnya.

Bila dianalisa secara seksama, kedua kasus di atas memiliki beberapa kesama-an "skenario". Kesamaan ini seyogyanya mempermudah kerja penegakan hukum. Sebab, modus operandinya memiliki kemiripan berkelindan. Sayangnya, skenario tersebut acapkali tak dijadikan acuan. Semua menunggu "titipan bidikan" atau masa "apes" kembali terjadi. Padahal, leluhur pernah berpesan, "jangan sampai pisang berbuah dua kali". Tapi, manusia memang suka membiarkan "pisang berbuah berkali-kali" agar puas "memanen" sampai mulutnya terisi tanah.

Ada beberapa kesamaan skenario besar kasus Harun Masiku dan Ronald Tanur untuk menjadi i'tibar, antara lain:

Pertama, kemampuan untuk mengatur dan "menutup mulut". Dengan kadigjayaan (kuasa) dan pundi, seseorang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi atau mengendalikan kejahatan. Upaya ini dilaku-kan dengan melibatkan sumber daya atau pengaruh yang dimiliki. Bila "kuasa" diguna-kan untuk kebaikan, maka ia bermuara ketaqwaan. Tapi, bila digunakan untuk memuaskan hasrat serakah (fujur), maka terjadi kezaliman. Pilihan ini berkorelasi dengan kualitas dan karakter setiap diri.

Kedua, Rekayasa hasil dan mengangkangi proses. Ketika Harun Masiku mencoba merekayasa urutan hasil suara pileg, maka Ronald Tanur merekaya kebenaran. Kedua-nya sama-sama culas. Praktik merekayasa "hasil" begitu banyak terjadi. Ia bisa saja menimpa siapa saja yang dilakukan oleh semua elemen dan status sosial. Biasa-nya, prilaku kebatilan bertopeng kebajikan (kemunafikan). Karakter ini diingatkan melalui firman-Nya :"Di antara manusia ada yang mengatakan, kami beriman kepada Allah dan hari kemudian, padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya"  (QS. al-Baqarah: 8-9).

Pada ayat lain, Allah kembali mengingat-kan : "Dan janganlah kamu campuraduk-kan kebenaran dengan kebatilan dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran, sedang kamu mengetahuinya" (QS. al-Baqarah : 42).

Baca Juga: Tidak Juga Ditemukan, Pencarian Korban Hilang di Sungai Rokan Akhirnya Dihentikan

Meski ayat begitu jelas, tapi acapkali tak dipeduli. Kemunafikan lebih mendominasi dan "aji mumpung" jadi dasar berbagai  prilaku kezaliman. Semua keserakahan tampil rapi dengan berselimut "jubah" kesalehan. Bergaya bagaikan malaikat, tapi bersemayam wujud iblis di hati.

Ketiga, Transaksi gemerlap pundi untuk posisi. Padahal, transaksi tersebut ber-muatan "api neraka" yang dimakan dan dipakai. Untuk itu, Allah ingatkan melalui firman-Nya : "Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antaramu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui” (QS. al-Baqarah : 188).

Pada bagian akhir ayat di atas, Allah SWT melarang setiap mukmin untuk mengang-kat urusan harta ke ranah "kelicikan" untuk mengambil harta orang lain yang bukan haknya. Sebab, upaya ini akan membuka ruang transaksi kebathilan (suap menyuap, memutarbalikkan fakta, sumpah dan saksi palsu) atau cara culas lainnya. Semua perbuatan tersebut merupakan prilaku yang sangat terkutuk. Rasulullah mengingatkan melalui sabdanya : “Allah melaknat orang yang menyogok dan yang menerima sogok” (HR. Ibnu Mâjah).

 Baca Juga: Sambut Hari Jadi Ke-68 Provinsi Riau, ASN dan Non ASN di Rohul Kenakan Pakaian Melayu

Meski jelas Al-Qur'an dan hadis melaknat pelaku sogok menyogok, tapi semakin nyata pengingkaran atas ayat Allah dan sabda Rasulullah. Manusia justeru seakan "bangga" menantang atau menipu Allah dan Rasul-Nya. Manusia semakin senang melakukan sesuatu yang dibenci-Nya, tanpa penyesalan (bersalah) sedikit jua.

Keempat, Jaringan pelaku berada di sekitar kasus. Keterlibatan "sekitar pinggang" tak bisa dipandang sebelah mata. Eksis-tensinya membuat sosok pelaku kejahatan tampil rapi nan "suci" akan selalu terjaga.

Menyiasati kedua kasus di atas, terlihat bahwa struktur kejahatan tak berdiri sendiri. Ia ditopang jaringan sekitarnya. Umumnya, pelaku kebaikan dan kejahatan --terutama-- dipengaruhi atau dibantu komunitas seputar dirinya. Jaringan ini memiliki tujuan yang sama atau "imbasan lainnya". Pada umumnya, jaringan pelaku kajahatan (mafia kartel) profesional mem-bentuk ikatan saling menyembunyikan kejahatan lebih intens. Berbeda bila sebatas jaringan amatir yang beralaskan "kepentingan sesaat". Ia akan rapuh bila mendapat tekanan dan membuka semua aib setiap pelakunya.

Peran vital jaringan mafia kartel "seputar pinggang" selalu terjaga dan terpelihara. Untuk itu, "peliharaan" harus siap menjadi tumbal bagi menjaga "tuannya". Sungguh, Rasulullah secara tegas mengingatkan : "Seseorang di atas agama sahabatnya, hendaknya salah seorang dari kalian melihat siapa yang hendak ia jadikan sahabatnya” (HR. Tirmidzi).

Kelima, terkikisnya iman dan hilangnya harga diri. Akibatnya, prilaku melanggar hukum menjadi kebiasaan tanpa beban. Awalnya prilaku negatif hanya diketahui oleh orang terdekat. Namun, "kenikmatan" yang diraih mendorong prilaku kejahatan semakin intens. Ketika "pembiaran" terjadi, maka praktek culas menjadi "rahasia umum" dan terbiarkan mentradisi.

Menyadari potensi kejahatan di atas, maka Rasulullah mengingatkan sikap yang perlu diambil. Beliau bersabda : "Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tanganmu. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisanmu. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatimu, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman" (HR. Muslim).

Baca Juga: Dinas PUTR Rohil Lakukan Penanganan Awal Jalan Rusak di Bagan Sinembah

Rasulullah sangat mencela umatnya yang membiarkan kejahatan yang terjadi. Sikap "mendiamkan" kejahatan "dipelupuk mata" ditamsilkan sebagai sikap "setan bisu". Hal ini dinyatakan Rasulullah bahwa : "Siapa yang diam saja (atas kemungkaran) tidak menyatakan kebenaran (al-haq), maka ia    --bagaikan-- setan bisu" (HR. Muslim).

Sungguh, dunia bergelimang fitnah. Setiap manusia yang memiliki (tersisa) iman dan muru'ah, berkewajiban untuk bersikap tegas. Bila kemungkaran dipelihara dan sebatas "tontonan", berarti membiarkan terjadinya kezaliman (serakahnomics) berkepanjangan.

Dalam Islam, membiarkan kemaksiatan terjadi --langsung atau tak langsung-- me-rupakan perbuatan dayus. Banyak ayat al-Quran dan hadis menjelaskan tentang perintah bagi setiap muslim untuk men-cegah kemungkaran sesuai kemampuan-nya. Jika tidak dilakukan, maka kemaksiat-an akan berkembang dan mengundang hadirnya azab Allah. Hal ini secara tegas diingatkan Rasulullah : "Sesungguhnya jika manusia melihat orang yang berbuat zalim, tetapi mereka tidak mencegahnya, maka hampir-hampir Allah akan

 

menimpa-kan siksaan-Nya kepada mereka semua" (HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Sungguh, musibah yang menimpa Harun Masiku dan Ronald Tanur merupakan cara Allah untuk menyadarkan manusia. Masih banyak persoalan semisal yang lebih besar, menggunung, dan kontinue. Hanya saja, pelakunya kadang tak tersentuh oleh aturan yang bermazha"gajah di pelupuk mata tak telihat, tapi semut di seberang lautan terlihat nyata". Atau persoalan memang sengaja dibiarkan dan menafikan sebagai target yang dituju. Meski semua bisa lepas dari hukum dunia (manusia), tapi tak pernah lepas dari hukum Allah (dunia dan akhirat). Karakter manusia yang demikian sangat sulit untuk disadarkan. Tak ada tersisa fungsi akal (ilmu), hati, panca indera, agama, hukum, dan status. Begitu nyata kejahilan yang dilakukan ber-buah murka-Nya. Allah berfirman : "Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, penglihatan mereka telah tertutup, dan mereka akan mendapat azab yang berat" (QS. al-Baqarah : 7).

Sungguh, kejahatan dalam jumlah tak ter-hingga acapkali dilakukan manusia yang cerdas, hidup mewah, dan memiliki status "mulia". Berbeda dengan kejahatan dalam jumlah terbatas hanya dilakukan manusia yang sekedar memenuhi jeritan perut yang keroncongan dan derita menghimpit.

Pelaku kezaliman acapkali tampil anggun bak penghuni surga, tapi menyembunyikan keserakahan tanpa batas untuk "membeli" murka-Nya. Demi Allah, semua akan diper- lihatkan pada waktunya.

Sungguh, Harun Masiku dan Ronald Tanur sedang apes. Di "seberang lautan" masih berdiri anggun pelaku serupa yang  bebas berselfi ria dan bercanda sambil ngopi. Tampil suci layaknya manusia sempurna tanpa dosa. Kapan kiranya dagelan yang tak lucu ini akan berakhir dan berhasil diberantas secara berkeadilan ? Entahlah... Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***

 

Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis

 

Editor : Edwar Yaman
#harun masiku #Ronald Tanur