Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Sebilah Pisau; Pilu Hardiknas

Redaksi • Senin, 4 Mei 2026 | 05:03 WIB
Samsul Nizar
Samsul Nizar

Oleh : Samsul Nizar  

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pisau adalah bilah besi tipis, tajam, dan bertangkai. Ia merupakan alat pengiris dan pemotong. Eksistensinya begitu diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, tak semua hamba-Nya berkesempatan untuk merenung dan mengambil pelajaran dari sebilah pisau.

Ada beberapa filosofi sebilah pisau yang perlu jadi renungan bagi dunia pendidikan di momentum HARDIKNAS, antara lain :

Pertama, Pisau mengajarkan bahwa hidup perlu ditempa melalui ujian (penempaan).  Mulai besi yang tak bernilai, dibakar api menyala, dipukul, dan diasah.  Melalui proses yang panjang dan penuh kesabaran dan skill si pandai besi, pisau semakin tajam. Sebilah pisau di tangan manusia yang bijak dan amanah akan memberi manfaat, bukan merusak. Sebab, pisau melambangkan ketajaman mental, kekuatan, tanggungjawab, dan kemampu-an untuk "memotong" setiap hambatan hidup dengan solusi cerdas dan bijaksana. 

Dalam Islam, kehidupan manusia memang dirancang-Nya sebagai proses penempaan (tarbiyah dan riyadhah). Hal ini bertujuan untuk membentuk karakter, kualitas iman, dan memurnikan tauhid. Hal ini dinyatakan Allah melalui firman-Nya : "yaitu yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya..." (QS. al-Mulk : 2).

Baca Juga: Pencabutan Blokade Laut dan Sanksi Termasuk Dalam 14 Poin Balasan ke AS yang Diajukan Iran

Menurut Ibn Katsir, kehidupan penuh ujian. Buah ujian selama hidup akan dipetik se-telah kematian. Untuk itu, manusia bagai-kan pisau yang ditempa agar "tajam" dan bermanfaat selama di dunia. Perlu keteliti-an dan kesabaran agar tugas kekhalifahan yang diamanahkan membawa manfaat bagi seluruh alam (QS. al-Baqarah : 30). Tapi, manusia acapkali mengambil jalan pintas dan menghalalkan segala cara. Se-mua dilakukan tanpa proses normal.

Kedua, Tajam ke bawah, tumpul ke atas. Pamer dan ingin dikenal oleh sesama, tapi tak kenal dan dikenal oleh Allah. Sebab, manusia acapkali lupa atas ayat-Nya. Kadangkala, ketajaman pisau hanya di bawah, membuat pemiliknya lupa diri dan berbuat kezaliman. Ketajaman pisau hanya fokus untuk "mencabik-cabik objek di bawah". Tapi, manusia acapkali lupa, bila Allah membuka aibnya, pisau yang tajam di bawah bisa melukai dan memotong jarinya. Meski semua bukti begitu nyata, tapi "pisau bermata tunggal" tetap tajam untuk melukai "objek di bawah" dan tumpul pada "objek di atas". Ketika kebenaran Ilahi terbuka dan sang penjaga hukum "teriris" oleh pisau yang digunakannya, tak mem-buat efek jera. Hanya berganti "baju, tanpa merubah isi". Padahal, pelanggaran yang terjadi begitu nyata, tapi tak mau dilihat.

Begitu aroma busuk terkuak, hanya kata "maaf dan siap salah" meluncur ringan tanpa beban. Meski hanya dilakukan segelintir oknum, tapi ia bak sembilu yang menyayat moral institusi (kelembagaan). Wujud kegagalan sistemik pendidikan yang begitu nyata, tanpa ada yang peduli.

Fenomena penegakan aturan (hukum) begitu "tajam" dilingkungan rakyat kecil, tapi acapkali "sangat tumpul" pada komunitas "ruang hampa udara" di luar angkasa. Padahal,

sosoknya sangat mengerti aturan (hukum positif maupun agama). Namun semakin nyata pelang-garan dilakukannya. Jika pepatah leluhur mengatakan "guru kencing berdiri, murid kencing berlari" seakan sudah biasa. Tapi, kekhawatiran justeru mengarah ketika "guru kencing berlari dianggap biasa dan dipuja, tapi murid kencing berdiri dianggap hina dan perlu diadili". Padahal, pepatah lain mengatakan "air cucuran atap jatuh-nya ke pelimbahan juga". Artinya, kejahat-an level bawah hadir meniru perilaku level atas. Aneh bila "guru" mengajarkan dan mempraktekan "ingkar aturan", tapi mengharapkan "murid" taat aturan. Meski semua begitu jelas dipertontonkan, tapi tak ada yang mau dan mampu meluruskan-nya. Atau mungkin Allah ingin memperlihat-kan kebiasaan hamba culas yang selama ini disembunyikan. Kelak azab-Nya yang sangat pedih akan menimpa para pelaku kezaliman (QS. asy-Syura : 42).

Baca Juga: Sering Macet dan Cegah Penyimpangan BBM, Polres Inhu Masifkan Patroli ke SPBU

Mungkin benar pepatah Jepang pernah mengatakan "tempat yang paling gelap adalah di bawah cahaya lampu" (toudai moto kurashi). Bagi manusia berakal, pepatah ini sangat tajam melebihi sembilu. Pepatah ini menjelaskan betapa sulit menyadari dan melihat kesalahan yang berada ditempat yang terang dan dilaku-kan di depan mata. Padahal, begitu jelas terlihat kesalahan yang terjadi meski dilihat jauh melintasi alam semesta. Tapi tak ada yang peduli, apatahlagi berani menyebutnya sebagai sebuah kesalahan. Ternyata, kejahatan yang paling dekat atau akrab justru menjadi hal yang paling tidak diperhatikan dan diperdulikan. Apalagi di-tempat suci dan suluh bagi keadilan. Aki-batnya, kejahatan justeru tampil leluasa dan anggun sebagai sebuah kebaikan.

Sungguh, karakter manusia bak pisau yang hanya tajam di bawah dan tumpul di atas menghadirkan kezaliman dan ketidakadilan. Untuk itu, Rasulullah ﷺ secara tegas mengingatkan pentingnya menegakkan keadilan (hukum) tanpa pandang bulu. Hal ini tertuang dalam sabdanya : "Sesungguhnya yang (telah) membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah ketika orang mulia di antara mereka mencuri, mereka membiarkannya. Namun jika orang lemah di antara mereka mencuri, mereka menegakkan hukum atasnya. Demi Allah, sekiranya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku sendiri yang memotong tangannya" (HR. Bukhari dan Muslim).

Demikian tegas dan jelas Rasulullah meng-ingatkan umatnya dalam menegakkan keadilan. Namun, umat Rasulullah acapkali hanya sekedar berharap syafaat tapi khianat, posisi umat tapi sebatas siasat, tampil saleh tapi hobinya berbuat salah, mulut manis tapi berbisa, perilaku beradab tapi hati biadab, dan seakan ikhlas tapi serakah tanpa batas. Tuntunan Rasulullah hanya dijadikan sebatas "permainan". Larangan dan perintah hanya untuk dipersendaguraukan. Meski kesalahan begitu nyata, tapi tak ada yang mau peduli. Semua terpaku oleh gemerincing pundi dan gemuruh puji yang membahana.

Ketiga, Runcing ke depan, rata dan tumpul di belakang. Kesalahan orang (di depan mata) terlihat nyata. Tapi, kesalahan diri tak pernah mau diakui, tak mau peduli, dan "goyang kaki" menikmati "posisi". Padahal, Rasulullah  pernah mengingatkan : "Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim dan yang dizalimi." Seorang sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, saya menolong orang yang dizalimi, tapi bagaimana menolong orang yang berbuat zalim ?" Rasulullah  menjawab, "Engkau mencegahnya dari berbuat zalim, itulah cara menolongnya" (HR. Bukhari).

Menilik hadis di atas sulit dilaksanakan. Se-bab, pelaku kezaliman sulit dan tak pernah mau diingatkan (diluruskan). Sebab, kebe-naran telah tertutup baginya. Hal ini diingatkan oleh Allah dalam firman-Nya : "Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat pedih"  (QS. al-Baqarah : 7).

Menurut Ibn Katsir, ancaman pada ayat di atas disebabkan oleh penolakan terhadap kebenaran. Akibatnya, mereka tidak dapat menerima petunjuk dan diancam dengan siksaan yang sangat pedih (QS. al-Buruj : 10).

Dalam teori hukum, dikenal adagium "fiat justitia ruat caelum" (hendaklah keadilan ditegakkan, walaupun langit akan runtuh). Adagium indah sebatas konsep, namun "menguap" bak amonia di ruang terbuka.  Persoalan terang saja tak terlihat, apalagi tersembunyi di tengah gelapnya malam.

Meski semua kemungkaran begitu nyata, tapi tak ada yang peduli. Bahkan, kemung-karan terkesan dibiarkan. Bukan berarti tak ada yang mengerti (berilmu). Mungkin, ada beberapa alasan berbagai kemungkaran yang kasat mata dibiarkan dan tak lagi di-peduli, yaitu : (1) takut bila "pisau-pisau" tersebut akan melukai. (2) "pisau-pisau" sudah menutup "mulut kebenaran" dengan berbagi hasil upeti yang menjijikan. (3) ketidakpeduliannya sebagai cara untuk "menyembunyikan boroknya". Sebab, ternyata ia adalah pelaku atau ikut melaku-kan kemungkaran. 

Berbahagialah manusia yang memiliki ke-merdekaan dalam menegakan amar ma'ruf nahi munkar (mengajak kebaikan dan mencegah keburukan). Mereka telah dijanjikan-Nya sebagai manusia terbaik  (khaira ummah), penolong sesama mukmin, dan orang-orang yang beruntung. Kemuliaan ini didasarkan pada QS. Ali 'Imran : 104 dan 110 ; serta QS. at-Taubah : 71.

Baca Juga: Respons Kelangkaan BBM Subsidi, Bupati dan Kapolres Pelalawan Tinjau SPBU Dundangan 

Pilihan selalu diberikan Allah pada hamba-Nya yang beriman. Senantiasa memetik pelajaran pada setiap fenomena sebagai ayat-Nya. Tapi, pilihan yang diberikan-Nya acapkali ditolak oleh hamba yang kufur, fasik, dan mendurhakai-Nya. Bila demikian, teruskanlah berbuat kemungkaran, kesera-kahan, kezaliman, kemunafikan, dan kesombongan di muka bumi.  Mungkin pilihan tersebut akan memuaskan nafsu iblis yang subur dalam hati. Na'uzubillah.

Meski eksistensi pisau menyisakan makna negatif, namun pisau tak bisa menentang kehendak-Nya. Pada saatnya, "pisau-pisau" akan diminta pertanggungjawabannya di-hadapan Allah Yang Maha Adil. Ketika saat itu terjadi (pengadilan-Nya), "pisau-pisau" akan kehilangan arogansi atas ketajaman yang dibanggakannya selama ini. Ketika itu, "sang pisau" telah berkarat dan hanya mampu merintih pilu dalam penyesalan tanpa pernah memperoleh ampunan-Nya (QS. al-An'am : 27). Hanya saja, manusia acapkali menafikan ajaran agama dengan berperilaku secara berlawanan. Membantu bila ada pundi dan maksud tersembunyi, meski wujud kesalahan. Tapi, bila bantuan tanpa "bingkisan", maka kebenaran dinilai kesalahan. Ibn Khaldun pernah berkata, "suatu saat kejahatan menjadi profesi dan pelakunya dihargai dan dihormati. Aneh-nya, pemilik kebenaran dibenci dan diang-gap sampah yang harus disingkirkan". Sebilah pisau menjelaskan kualitas dan karakter produk pendidikan (mutu atau pilu). Bukan hanya sebatas dimensi man-faat (ilmu, gelar dan ijazah), tapi dampak kemudharatan (ketidakadilan dan kezalim-an) yang ditimbulkannya bagi semesta. Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***

Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis

 

Editor : Edwar Yaman
#sebilah pisau #pilu hardiknas