Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Demokrasi Competitive vs Authoritarianism

Redaksi • Senin, 11 Mei 2026 | 05:05 WIB
Samsul Nizar
Samsul Nizar

Oleh : Samsul Nizar  

DALAM dunia demokrasi, kompetisi sehat (beradab) jadi acuan dan harapan. Tapi, di tengah gempita slogan demokrasi, hadir istilah competitive authoritarianism. Meski istilah ini terkesan sebagai pilihan kata yang kurang tepat, tapi ia terjadi begitu nyata dan sedang "menampar" wajah demokrasi akhir zaman.

Istilah ini dimunculkan oleh Steven Levitsky dan Lucan Way sebagai kritik terhadap praktik sistem demokrasi yang tidak berfungsi secara benar. Sebab, prosesnya "disulap" sebagai kompetisi penuh intrik dan diatur (rekayasa) untuk menciptakan pesta demokrasi yang tidak seimbang (uneven playing field) dan penuh tipu daya. Peng-aturan kompetisi (demokrasi otoritatif) tentu tak lepas dari kepentingan yang direncanakan secara rapi dan melibatkan komunitas (kolektif) yang berorientasi sama. Demokrasi jenis ini dilakukan oleh oknum atau kumpulan pemilik kepenting-an yang terselubung (kolusi, korupsi, dan nepotisme). Akibatnya, kompetisi sebatas teori (lipstik) untuk membungkus kecurang-an agar terlihat obyektif, benar, dan elegan.

Istilah competitive authoritarianism begitu mustahil dalam teori demokrasi. Idealnya, kata kompetisi tak mengenal otoritas dan kata otoritas tak mengenal kompetisi. Tapi, istilah ini justru begitu nyata dalam praktik kehidupan "alam demokrasi". Gaya ini digunakan oleh "rezim hibrida" (hybrid regime) yang ingin memadukan lembaga demokrasi formal dengan kepentingan penuh ambisi.

Baca Juga: UMRI Wisuda 418 Lulusan, Mantapkan Langkah Menuju Akreditasi Unggul dan Rekognisi Internasional

Tampilan proses kompetisi sebatas "balutan baju" demokrasi, tapi gerak dan ruhnya bermuatan otoritas (diktator) sang "dalang" dalam pementasan wayang demokrasi. Konsepnya kompetisi, tapi telah ada komposisi yang terisi. Komposisi atas pertimbangan kolusi (kesepakatan), korupsi (transaksi pundi), atau nepotisme (kekerabatan). Akibatnya, produk yang dilahirkan melalui competitive authori-tarianism merupakan sosok "tanpa malu melakukan kesalahan dan tak gentar membela yang salah" agar gerbong "tirai" kebohongan kolektif bisa tertutup rapat. Meski tertutup rapat, produk "demokrasi hibrida" bak menyimpan "seonggok bangkai". Walau tersembunyi dan tak ter-sentuh, tapi aroma busuknya begitu menyengat, terendus setiap "hidung" yang sehat, dan mengotori atmosfir peradaban. Ada beberapa dimensi praktik competitive authoritarianism, antara lain :

Pertama, Kompetisi sebatas tulisan di atas kertas (jargon atau teori), tapi praktiknya berisi muatan "skenario" yang direkayasa sesuai keinginan. Akibatnya, terjadi ketidakadilan persaingan atas proses (kompetisi) demokrasi. Meski media sosial begitu intens digunakan sebagai ruang pencitraan untuk menjelaskan "keadilan" (obyektivitas), namun "dibalik pentas" terjadi "bisik-bisik dan transaksi" tersembunyi tapi nyata "di alam Ilahiah". Seakan iman tak lagi tersisa. Padahal, Allah telah berulang kali mengingatkan bahwa semua perbuatan hamba tak lepas dari pengawasan-Nya. Hal ini tertera pada QS. al-Baqarah : 110, QS. Ali Imran : 156, QS. al-Maidah : 71, QS. an-Nisa' : 1, QS. al-An'am : 19, QS. at-Taghabun : 2, QS. al-Hujurat : 18, QS. al-Mujadalah : 1, QS. al-'Alaq : 14, QS. al-Hadid : 4, QS. al-Ahzab : 52, QS. al-Fushilat : 40, QS. al-Mulk : 19, dan lainnya. Hanya saja, manusia begitu suka mempermainkan ayat dan menjual asma-Nya untuk "menghalalkan segala cara". Tak ada yang ditakutkan selain "kepentingan" semata.

Baca Juga: Kloter BTH 18 Tutup Rangkaian Keberangkatan Jemaah Calon Haji Riau 

Kedua, Kompetisi penuh intrik kebohongan yang melanggar kebebasan, mengambil hak sesamanya, dan menempatkan hukum yang "diseleksi" agar sesuai kepentingan yang diinginkan. Manusia lupa bahwa ke-bohongan merupakan induk kejahatan dan "pintu" kezaliman. Hal ini diingatkan oleh Rasulullah ﷺ dalam sabdanya : "... Dan jauhilah oleh kalian berbohong, karena bohong membawa kepada kejahatan (fujur / kezaliman), dan kejahatan membawa ke neraka" (HR. Bukhari dan Muslim).

Merujuk ayat dan hadis di atas, pepatah mengingatkan "hasil yang didapat dengan kebohongan adalah hutang pada kebenaran". Setiap hutang wajib dilunasi, baik di kehidupan dunia maupun di akhirat. Hal ini berlaku pada setiap pelaku, pembantu, me-nikmati, dan / atau yang mengetahui tapi tak pernah mau peduli (QS. an-Nisa' : 85).

Dalam al-Quran, Allah berulangkali men-jelaskan dampak kebohongan, antara lain :

QS. al-Baqarah : 10 (penyakit hati), QS. Al-Baqarah : 42 (mencampuradukan kebenar-an dengan kebatilan), QS. an-Nisa' : 112 (kebohongan adalah dosa), QS. al-Hajj : 30 (jauhi dusta), QS. an-Nahl : 105 (pedusta tidak beriman), QS. az-Zumar : 3 (pelaku dusta tidak mendapat petunjuk), dan lain-nya. Meski begitu jelas dan berulang diingatkan, namun manusia acapkali mem-permainkan ayat-ayat-Nya.

Padahal, alasan yang dikemukakan (sumpah) merupakan kebohongan yang nyata dan merupakan sifat tercela yang dimurkai-Nya. Hal ini sesuai firman-Nya : "Tidak perlu kamu membuat-buat alasan karena kamu telah kufur sesudah beriman. Jika Kami memaafkan sebagian dari kamu (karena telah bertobat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain), karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berbuat dosa" (QS. at-Taubah : 65-66).

Sungguh, manusia berwatak "jahiliyah" seakan tak pernah mau peduli dan meng-ingkari semua ayat-Nya. Bertopeng kesalehan untuk menutupi kesalahan ala Abdullah bin Ubay bin Salul, tampil suci menyembunyikan dengki ala Qabil, kata lembut tapi hati berkabut (khianat) ala Hatib bin Abi Balta'ah, tampil terdepan agar tampak pejuang hebat (saleh) ala Qotzman sang penghuni neraka di jabal Uhud, dan varian lainnya. Untuk itu, wajar bila Allah menghadirkan azab-Nya. Sebab, kemungkaran dan kemunafikan manusia begitu nyata dan melampaui batas (QS. al-'Alaq : 6-7). Bahkan acapkali melebihi hewan (QS. al-A'raf : 179).

Baca Juga: Kuansing Masih Berpotensi Diguyur Hujan, Ini Imbauan BPBD 

Ketiga, skenario pat-gulipat untuk kepen-tingan keluarga, kroni, atau pemilik pundi. Meski persyaratan disusun rapi, tapi "kumpulan tangan di bawah meja menari" sesuai "irama musik" kepentingan sang dirigen orkestra. Aturan kompetisi sebatas simphoni lantunan "lagu setuju, dukungan, atau diam tanpa suara". Anehnya, semua "aransemen orkestra" jenis ini justeru membuat para pendengar dan penonton terkesima dan --bahkan-- tertidur pulas.

Istilah "pat-gulipat" sering digunakan untuk menggambarkan tindakan curang, khianat, manipulatif, tidak jujur, dan varian lainnya. Praktek "pat-gulipat" dilakukan secara ter-sembunyi, berikut adanya "transaksi" yang disepakati. Semua pelaku secara sadar melakukan kecurangan agar tujuannya ter-capai. Cara ini pasti beririsan dengan peri-laku kezaliman atas pemilik hak yang seharusnya. Sungguh, siasat "pat-gulipat" (curang) merupakan perbuatan tercela. Hal ini diingatkan Rasulullah ﷺ dalam sabda-nya : "Barangsiapa yang berbuat curang /menipu kepada kami (kaum Muslimin), maka ia bukan termasuk golongan kami" (HR. Muslim).

Melalui hadis di atas, Rasulullah ﷺ men-cela segala bentuk penipuan, manipulasi, ketidakjujuran, dan varian lainnya adalah dosa besar. Bahkan, ia tak diakui sebagai umatnya. Sebuah peringatan keras, namun acapkali dipersendaguraukan dan tak dihiraukan. Bila demikian, terbangun kokoh kemunafikan yang terstruktur (pura-pura beriman tapi kufur). Sifat yang demikian dijelaskan oleh Ibnu Taimiyah dalam Majmu' al-Fatawa (jilid 28) bahwa "bila ada manusia (komunitas *pen) yang takut pada sesuatu selain Allah, maka berarti ada penyakit kronis dalam hatinya". 

Dalam Islam, hamba yang hanya takut pada Allah akan mampu menahan hawa nafsu dan tidak mementingkan urusan duniawi secara berlebihan. Sementara hamba yang takut pada "nafsu" (kepen-tingan) akan mempermainkan Allah dan Rasul-Nya. Sosok manusia yang demikian sangat tercela karena sengaja "memper-mainkan agama". Untuk itu, Allah meme-rintahkan pemilik iman agar menjauhi manusia yang berkarakter tercela. Hal ini diingatkan melalui firman-Nya : "Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadi-kan agamanya sebagai permainan dan kelengahan, dan mereka telah tertipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengannya (Al-Qur’an) agar seseorang tidak terjerumus (ke dalam neraka), karena perbuatannya sendiri. Tidak ada baginya pelindung dan pemberi syafaat (pertolong-an) selain Allah. Jika dia hendak menebus dengan segala macam tebusan apa pun, niscaya tidak akan diterima. Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan (ke dalam neraka), karena perbuatan mereka sendiri. Mereka mendapat minuman dari air yang mendidih dan azab yang pedih karena mereka selalu kufur" (QS. al-An'am : 70).

Menurut Ibnu Katsir, ayat di atas merupa-kan perintah-Nya kepada orang beriman agar meninggalkan orang-orang yang menjadikan agama sebagai permainan dan senda gurau. Mereka adalah kaum musyrikin yang telah menipu dan tertipu kehidupan dunia dengan mengabaikan akhirat. Sungguh, azab-Nya sangat pedih.

Baca Juga: Di Bawah Bayang Disrupsi Digital, Pers Tetap Menjadi Ruang Verifikasi Publik

Anehnya, meski ayat di atas begitu jelas dan tegas, namun manusia seakan tak pernah peduli. Menantang ayat Allah de-ngan "membudidayakan" perilaku tercela dengan menghidupkan dan mendukung mazhab authoritarianism. Komunitas ini begitu bangga atas hasil (duniawi) yang diinginkan dan status yang diraih. Tapi, mereka lupa akan murka dan janji-Nya, serta kesengsaraan yang akan ditimpakan di akhirat kelak. Manusia begitu terlena oleh kesenangan semu (harta dan tahta), namun lalai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya. Sungguh kefasikan yang nyata dengan menjadikan dunia sebagai tujuan utama. Manusia yang demikian akan kekal dalam penderitaan (neraka) akibat kemaksiatan dan kelicikan (kemunafikan) yang dilakukan. Ketika iman, akal, dan hati tak lagi berfungsi, maka lakukanlah semua rekayasa yang diinginkan. Manusia begitu mudah dan bisa tertipu, tapi Allah Maha Tau dan tak bisa diperdaya. Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***

Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis

 

 

 

Editor : Edwar Yaman
#Competitive #Authoritarianism #demokrasi