Oleh : Samsul Nizar
Istilah "toxic" menunjuk sifat manusia yang secara konsisten berperilaku negatif, merugikan atau merusak emosional, dan kehadirannya membuat rasa tidak nyaman. Perilakunya cenderung "aneh".
Tujuannya untuk memperoleh simpatik, apresiasi, dan pujian dari lingkungannya. Dalam psiko-logi, manusia bersifat toxic cenderung narsis (narsisme). Sifat ini menghantar-kannya hanya peduli dan kagum terhadap diri sendiri. Sikapnya terindikasi dengan ego yang tinggi, arogan, dan merasa paling benar.
Bila dalam batas wajar, sikap ini bisa membangun rasa percaya atau citra diri. Namun, bila muncul berlebihan dan masif, maka perilaku ini menjadi "Narcissistic Personality Disorder" (NPD). Varian bentuk gangguan mental akut yang berbahaya.
Ketika manusia toxic berwujud NPD, maka menjadikannya sosok yang sombong, lupa diri, licik, picik, ingin dikagumi atau dipuji, hilang empati pada sesama, dan munafik. Sifat ini menghantarkannya berkarakter ala "mesias" (sosok agung atau hebat), pada-hal sebatas "pahlawan kesiangan".
Baca Juga: Night Ride 2026 Jadi Ajang Wako Agung Tinjau Perkembangan Kota, Ribuan Warga Keliling Pekanbaru
Manusia bersifat toxic berbalut NPD begitu mudah diidentifikasi dan terlihat dalam kehidupan nyata, antara lain :
Pertama, Manipulatif ; sering memutar-balikkan fakta (fitnah) atau membuat lawan pada posisi atau merasa selalu bersalah (gaslighting). Semua dilakukan agar terlihat dirinya hebat, suci, mulia, dan mumpuni. Melalui kepiawaian manipulatif yang dimainkan, terbangun penilaian posi-tif atas dirinya padahal penuh kemunafikan.
Kedua, Egois dan kurang empati ; sosok-nya hanya peduli pada diri dan penjilat dengan mengabaikan perasaan orang lain. Kata dan perilakunya tak terkontrol. Hanya peduli pada rasa dan keinginannya. Semua aturan tegak dan tajam untuk orang lain, tapi "roboh dan tumpul" untuk diri dan pe-ngikutnya. Padahal, Allah begitu tegas mengingatkan melalui QS. an-Nisa' : 135.
Ketiga, Berharap validasi ; berbagai bentuk "keanehan sikap atau kata" merupakan bentuk gejolak emosional yang menunjuk-an keinginan untuk "diakui" (didengarkan, dipuji, dan diapresiasi). Kata sanjungan se-kedar "cari muka" tanpa secuil kerja nyata.
Pengharap validasi terlihat ketika dalam wujud interaksinya. Ketika berkomunikasi lisan acapkali suka memotong pembicara-an. Sedangkan ketika berkomunikasi di media sosial terlihat kebiasaannya tak
mau menghargai pembicara sebelumnya. Memotong komunikasi dengan mengung-gah konten "recehan" yang tak berhubung-an dengan isu yang sedang dimuat. Tujuan-nya hanya untuk mempublikasikan diri, me-raih simpatik "komunitas sejenis", dan me-rusak interaksi yang tak disenangi. Sosok yang demikian patut diwaspadai mentalnya.
Baca Juga: Cuaca Berawan, BPBD Kampar Minta Masyarakat Waspadai Hujan dan Angin Kencang
Keempat, Suka menjatuhkan (meremeh-kan) lawan dengan kritik destruktif dan sinis ; senang mengkritik secara berlebih-an, meremehkan pencapaian lawan meski "menggunung" dan memuliakan capaian diri atau kawan yang sedebu dengan ber-bagai "bumbu" gosip murahan. Manusia toxic memilih objek isu yang digosipkan pada manusia berkualitas rendah. Ia sadar bila gosip dan fitnah yang disebarkan hanya bisa diterima komunitas yang sederjat dengannya. Untuk memperkuat kualitas gosipnya, berbagai bantuan, janji, pujian, dan "oleh-oleh" disuguhkan. Semua dilakukan untuk menunjukan kebaikannya. Padahal, semua yang dilakukan bersifat sementara (semu) sekedar untuk menarik simpatik. Ketika tujuannya tercapai, ia bisa berbalik arah sesuai kondisi dan situasi seakan sosok yang suci.
Kelima, Pintar bermain drama (manipulasi) dan "bermuka seribu". Upaya menciptakan konflik baru atau membesar-besarkan masalah sepele sehingga lingkungan sekitar menjadi tidak nyaman dan tak harmonis. Untuk itu, Allah telah mengingat-kan melalui firman-Nya : "Wahai orang-orang yang beriman !. Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan) yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu" (QS. al-Hujurat : 6).
Imam al-Qurthubi menjelaskan ayat di atas menekankan agar tabayyun (memeriksa kebenaran) saat menerima informasi dari orang fasik. Tujuannya agar mampu men-cegah penyesalan dan kezaliman akibat mempercayai berita bohong yang disebar-kan manusia berkarakter toxic dan NPD. Namun, manusia berkualitas rendah lebih percaya tanpa usul periksa.
Keenam, Tidak konsisten (munafik) ; ucap-an dan perbuatannya sering berubah-ubah sehingga sulit dipercaya. Meski nyata ke-rusakan dan kezaliman yang dilakukan, tapi acapkali berkilah sebagai bentuk kebaikan. Manusia yang demikian telah dinyatakan Allah melalui firman-Nya : "Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Jangan-lah berbuat kerusakan di bumi!' Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami hanyalah orang-orang yang melakukan perbaikan" (QS. al-Baqarah : 11).
Alasan yang sering dilakukan, padahal be-gitu jelas telah disindir oleh Allah. Mungkin manusia tak lagi mempertahankan kema-nusiaannya. Sebab, manusia toxic (perusak komunikasi) dan NPD (gangguan jiwa klinis) sulit diperbaiki atau disembuhkan. Secara teori, munculnya gangguan kejiwa-an toxic dan NPD terindikasi persoalan yang kompleks antara faktor biologis, psikologis, dan sosio-kultural.
Ada beberapa faktor penyebab muncul sifat toxic dan NPD, antara lain : (1) pola asuh dilingkungan keluarga yang tidak harmonis. (2) trauma masa kecil atau kurang kasih sayang. (3) gangguan genetik dan neurobiologi. (4) stres, konflik batin, dan keluarga yang tidak harmonis. (5) penyalahgunaan dan kecanduan narkoba.
Kesemuanya acapkali berkelindan dan su-lit untuk dipisahkan. Manusia bersifat toxic dan NPD selalu mencari "sensasi". Semakin dipuji atau dikritik semakin menggebu kesombongan dan perilaku menyimpang dilakukannya. Untuk itu, hindari berinteraksi dengan manusia yang demikian. Jalan bijak harus ditempuh agar memutus "perkembang biakannya" adalah jangan pernah mau merespon atau acuh (abaikan) semua kata dan perilakunya. Anggap saja eksistensi-nya tak pernah ada dan tak perlu ada. Sikap ini akan mampu meminimalkan akses negatif yang ditimbulkannya. Lang-kah ini disebutkan Allah melalui firman-Nya : "Dan bersabarlah (Muhammad) terhadap apa yang mereka katakan dan tinggalkanlah mereka dengan cara yang baik. Dan biarkanlah Aku (yang bertindak) terhadap orang-orang yang mendustakan itu, yang memiliki segala kenikmatan hidup, dan berilah mereka penangguhan waktu sebentar" (QS. Muzammil : 10-11).
Menurut Ibn Katsir, ayat di atas berisi pe-doman bagi manusia beriman ketika meng-hadapi kaum kafir dan fasik. Caranya agar menghindari perdebatan dan menyerahkan semua yang dituduhkan kepada Allah SWT. Sebab, hanya Allah sebaik-baik pem-beri hukuman (QS. at-Tin : 8).
Dalam Islam, perilaku sifat toxic dan NPD berkaitan erat dengan penyakit hati, yaitu :
(1) 'Ujub (bangga diri). Hal ini diingatkan dalam firman-Nya : “Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia (Allah) paling mengetahui tentang siapa yang bertakwa” (QS. an-Najm : 32).
Dalam tafsirnya, Imam al-Qurthubi men-jelaskan bahwa ayat di atas turun sebagai pedoman agar manusia selalu menjaga kerendahan hati dalam beramal. Sebab, amal yang berkualitas memadam api riya' dan menghidupkan dimensi penghambaan yang menghantarkan pada derajat ihsan.
(2) al-Kibr (sombong). Allah begitu benci terhadap manusia yang sombong. Allah berfirman : “Dan janganlah kamu mema-lingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri” (QS. Luqman : 18).
Menurut Ibn Katsir, ayat di atas begitu tegas melarang sifat sombong dan me-mandang remeh orang lain. Hal ini sesuai nasehat Luqman agar anak-anaknya selalu bersikap ramah, tawadhu' (rendah hati), dan memandang sama setiap hamba-Nya. Sebab, kemuliaan hamba hanya diukur pada taqwanya (QS. al-Hujurat : 13).
(3) Sum'ah (ingin didengar, dilihat, atau dipuji orang lain). Rasulullah ﷺ mengingat-kan melalui sabdanya : "Barangsiapa yang beramal karena ingin didengar oleh orang lain (sum'ah), maka Allah akan memper-dengarkan (aibnya) di hari kiamat. Dan barangsiapa yang beramal karena ingin dilihat oleh orang lain (riya'), maka Allah akan memperlihatkan (aibnya) di hari kiamat" (HR. Bukhari dan Muslim).
Sungguh, rangkaian interaksi manusia ber-sifat toxic dan NPD hanya mengedepan-kan ego ingin dihargai, dipuji, dan tak mau disalahkan. Anehnya, sosok ini acapkali mendapat ruang, respon, dan diterima oleh komunitas serupa. Demikian sunnatullah yang dijelaskan-Nya (QS. an-Nur : 26). Respon ini akan semakin menyuburkan tanaman racun bagi mental dirinya dan sulit untuk diperbaiki. Namun, ada pula respon atas ketidaktauan atas watak aslinya. Respon jenis ini memungkinkan ruang bagi kesadaran begitu mengetahui watak sebenarnya sosok yang "dipuja".
Manusia berkarakter toxic dan NPD tak pernah mau mengakui kesalahan diri, tapi berupaya mencari kesalahan orang lain. Sosoknya tampil sebagai "pengacara" bagi dirinya, tapi "hakim" terhadap orang lain. Ia berupaya menonjolkan kehebatan dan lupa diri atas kebaikan orang lain. Hanya ber-selindung dibelakang layar dan takut bila berhadapan. Sebab, ia sadar tak memiliki kemampuan dan keberanian yang bisa dibanggakan, kecuali mental toxic yang hanya berharap validasi. Sosok ini begitu berbahaya (masif) bila melekat pada pe-milik pengaruh (intelektual dan sosial). Bila semangat hijrah tak mampu merubahnya, maka virus manusia toxic dan NPD akan menghancurkan bangunan peradaban. Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***
Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis
Editor : Edwar Yaman