Filosofi Tanah

Redaksi • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 05:06 WIB
Samsul Nizar
Samsul Nizar

 

 

Oleh : Samsul Nizar 

Eksistensi tanah begitu familiar. Semua tahu asal (proses) penciptaan, hidup di atas tanah, dan kembali ke tanah. Meski sederhana, kehadiran tanah bisa memberi manfaat bila digarap dengan bijak.

Namun, tanah bisa berakibat mudharat bila kepemilikannya diperebutkan atau dikuasai secara zalim dan serakah. 

Dalam Islam, alam semesta merupakan ayat-Nya. Ayat kauniyah yang dihamparkan begitu nyata dan dekat, tapi hanya sedikit yang mau dan mampu memahaminya. Di antara ayat kauniyah yang diperlihatkan-Nya adalah tanah. Adapun nilai filosofi tanah antara lain :

Pertama, Tanah memberikan kehidupan (awal kehidupan) dan menjadi tempat akhir kehidupan. Bak pepatah mengingat-kan "dari tanah, kembali ke tanah". Hal ini sesuai firman-Nya : "Dari bumi (tanah) itu-lah Kami menciptakan kamu dan kepada-nya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain" (QS. Thaha : 55).

Menurut Ibn Katsir, ayat di atas menjelas-kan tentang siklus kehidupan manusia. Asal penciptaan dari tanah, hidup di atas tanah, dan kembalinya jasad (dikubur) da-lam tanah sebelum dibangkitkan kembali setelah kiamat tiba. Sungguh, tanah simbol kehidupan manusia. Bila hadir sosok manusia yang baik, maka kehadirannya akan memberi manfaat pada sesama. Tapi, bila tampil sosok manusia nista, maka kemudharatan yang akan dibawa dan menghancurkan peradaban. Hal ini dinyatakan melalui firman-Nya : "Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan izin Tuhan; dan tanah yang buruk, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana..." (QS. al-A'raf : 58). Ibn Katsir menafsirkan ayat di atas sebagai perumpamaan kondisi hati (sifat) manusia dalam menerima hidayah dan ilmu. Sifat yang diibaratkan seperti perbedaan jenis tanah tatkala disiram air hujan. Bila hati suci akan tumbuh subur kebaikan (amal saleh). Pohonnya rindang dengan buah yang lebat. Sebaliknya, bila hati kotor akan tumbuh benalu. Pohonnya berulat dengan buah yang busuk berbelatung. Pohon yang layak untuk ditebang dan dimusnahkan.

 Baca Juga: Konsumsi 5 Buah Berikut Ini Saat Sarapan, Bisa Bantu Jaga Berat Badan

Kedua, Tanah begitu tabah (sabar). Meski diinjak-injak, tapi tak pernah mengeluh dan balas dendam. Sifat ini merupakan per-umpamaan (metafora) filosofis tentang kesabaran tingkat tinggi. Dalam Islam,

 

sifat tabah dan tidak membalas dendam merujuk pada konsep sabar (ash-shabr) dan memaafkan (al-'afwu). Sungguh, tanah telah mengimplementasikan firman-Nya :  “...Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (QS. az-Zumar : 10).

Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa ayat di atas berisi seruan agar sabar dalam ke-taatan akan menerima ganjaran pahala yang tidak terhitung jumlahnya.  Melalui "ayat tanah", Allah mengajarkan sifat mulia tanah (memberi manfaat, menopang kehidupan, dan bersabar ketika manusia memperlakukannya secara zalim). Hal ini seyogyanya menjadi cermin dan refleksi diri agar manusia memiliki kerendahan hati (tawadhu') dan ketabahan, tanpa  kehilangan (terjual) harga diri.

Ketiga, Tanah akan murka bila keserakahan dan kezaliman melampaui batas. Suatu saat, tanah akan melepaskan amarahnya. Bila ia tak mau lagi menyerap air, maka air akan meluluhlantakkan semuanya. Terjadi banjir bandang dan longsor. Semua akibat murka alam atas ulah manusia yang serakah dan sombong. Keserakahan eks-ploitasi hutan dan abrasi pantai membuat tanah muak dengan perilaku manusia. Meski tanah tak dendam, tapi ia akan men-jelaskan semua kebenaran janji-Nya bagi manusia yang serakah. Hal ini dinyatakan dalam firman-Nya :"Telah nampak kerusak-an di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)" (QS. ar-Rum : 41).

Imam al-Qurthubi menafsirkan ayat di atas sebagai bentuk hilangnya keberkahan di semua aspek akibat perbuatan manusia yang menyebarkan kezaliman di muka bumi. Akibatnya akan dirasakan seluruh manusia yang membiarkan terjadinya kemaksiatan. Murka-Nya bisa dalam bentuk kekeringan, paceklik, berkurangnya tanaman, hilangnya keberkahan rezeki akibat kemusyrikan, kemaksiatan, dan kezaliman. Kesemua azab akan ditimpa-kan agar manusia menjadi sadar, segera bertobat, dan kembali ke jalan Allah.

 Baca Juga: Titik Api Karhutla di Kerumutan Berhasil DiPadamkan,Tim Gabungan Fokus Pendinginan 

Keempat, Tanah tak pernah membuka aib manusia. Padahal, aroma "bangkai" tubuh manusia begitu busuk dan menyengat. Dengan sabar, tanah menutupnya rapat. Berbeda sifat manusia. Bau orang lain tercium busuk dan dibuka, tapi lupa pada bau dirinya yang lebih busuk dan sangat menyengat.

Ketika manusia kembali ke tanah (mati), tanah akan menyambutnya dengan sam-butan berbeda. Bagi manusia pemilik kebaikan, tanah akan "memeluknya" lembut dengan rahmat-Nya. Hal ini dinyatakan Rasulullah ﷺ melalui sabdanya : "Dilapangkan baginya kuburnya sejauh mata memandang, dan kuburnya diterangi cahaya..." (HR. Tirmidzi)

Sifat tanah yang menutup kebusukan ma-nusia menjadikannya hamba yang patuh. Hal ini merupakan cermin hamba yang mengimplementasikan sabda Rasulullah ﷺ : "Barang siapa menutupi aib seorang Muslim, Allah akan menutupi aib orang tersebut di dunia dan akhirat" (HR. Ibnu Majah, Muslim, dan Bukhari).

Sifat mulia yang diajarkan-Nya melalui sifat tanah. Namun, meski manusia hidup di atas tanah, tapi jauh dari sifat tanah. Di era digital, manusia acapkali bangga bila bisa membuka aib sesama. Sementara, bila aibnya terbuka, sejuta alasan dimuncul-kan dan ranah hukum ditempuh. Manusia seakan melupakan adanya kehidupan di alam barzah. Sebab, bagi manusia fasik, munafik, kufur, zalim, serakah, dan varian lainnya, meski tanah akan menutupi bau busuk dirinya, tapi tanah akan menghimpitnya dengan kasar sebagai bentuk murka-Nya. Bahkan,  tulang-tulangnya hancur saling berhimpitan. Siksa ini dikhabarkan oleh Rasulullah ﷺ melalui sabdanya : "Dikatakan kepada bumi, himpitlah dia, maka dihimpitlah jenazah tersebut sampai tulang rusuknya berserakan, dan ia akan selalu merasakan azab sampai Allah bangkitkan dari tempat tidurnya tersebut" (HR. at-Tirmidzi).

Meski ayat-Nya dan sabda Rasulullah

diketahui begitu jelas, namun segelintir manusia justeru dengan angkuh melang-garnya. Sungguh, manusia telah melapaui

batas sebagai manusia yang berakal. Hal ini telah mencampakan derajat manusia sebagai hamba yang hina nista melebihi hewan (QS. al-A'raf : 179).

Berbagai pelanggaran yang terjadi acapkali melibatkan "kooperasi" (kerjasama banyak pihak) yang secara sadar dan bersama-sama melanggengkan  berbagai bentuk kemungkaran. Anehnya, sebagiannya justeru dilakukan oleh kaum cendekia yang secara ilmu lebih tau, ekonomi begitu mapan, dan status mumpuni. Mungkin, semua ini merupakan jawaban atas kekhawatiran Rasulullah yang disampaikan melalui sabdanya : "Seandainya anak Adam me-miliki satu lembah emas, niscaya ia ingin yang kedua. Tidak ada yang memenuhi mulutnya (rongga perutnya) melainkan tanah, dan Allah menerima taubat siapa saja yang bertaubat" (HR. Bukhari dan Muslim).

Merujuk hadi di atas, kata tanah digunakan sebagai majaz batas akhir keserakahan manusia. Nafsu terhadap harta akan ber-henti ketika manusia sudah masuk ke liang kubur (tertutup tanah). Namun, batas ter-sebut menandakan tertutupnya waktu untuk taubat atas keserakahan, kezaliman, dan kesombongan yang dipertahankan.

Kelima, Tanah jujur menampilkan kualitas pohon yang tumbuh. Bila bibitnya berkua-litas, maka tumbuh pohon dan buah yang berkualitas. Tanah akan menghadirkan nikmat-Nya yang terbaik. Sebaliknya, bila bibitnya penghasil virus akan tumbuh pohon racun yang mematikan. Tanah tak menutupi atau me-rekayasa kualitas pohon. Sementara manusia justeru berpotensi melakukan rekayasa atas kualitas sesamanya. Rekayasa atas kepentingan "kooperasi dan pundi" meng-hantarkan manusia melakukan kezaliman. Menyingkirkan sosok yang berkualitas dan mengangkat sosok yang bisa "membawa tas" (pundi). Padahal, Rasulullah ﷺ deng-an tegas telah mengingatkan : "Jika suatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya” (HR. Bukhari).

Meski hadis di atas begitu populer, tapi ia kalah oleh dorongan harapan popularitas. Menitipkan amanah pada pengkhianat, pe-cundang, atau varian lainnya. Manusia tak lagi peduli, bahkan begitu nyata selalu mempersendaguraukan ayat-Nya dan sabda Rasulullah. Sungguh manusia benar-benar telah melampaui batas (QS. al-'Alaq : 6). Suatu saat, ketika manusia kembali ke tanah, ia akan merasakan pahitnya buah atas tanaman kezaliman yang ditanamnya. Penyesalan yang tak lagi berguna, retorika yang terkunci, status yang tak memberi manfaat, dan pengikut yang tak bisa mem-bantu. Sebab, Allah akan jawab semua rintihan hamba yang teraniaya (QS. al-Qomar : 10). Andai kumpulan hamba yang teraniaya mengapungkan rintihan, maka langit akan bergetar terguncang hebat. Mungkin manusia telah kehilangan rasa takut pada-Nya, dikalahkan rasa takut pada posisi dan kepentingan dunia semata.

Meski manusia sadar asal kejadian dan tempat kembalinya (QS. al-Baqarah : 156), tapi acapkali tak mau peduli. Mereka asyik terbuai oleh kesenangan dunia yang me-lalaikan tujuan hidup yang hakiki (QS. al-'Alaq : 6). Bila tak juga sadar, maka teruslah berbuat kerusakan dan kezaliman di muka bumi sampai mulut terisi tanah. Ketika waktu tersebut tiba, tak ada ruang taubat dan penyesalan.  Na'uzubillah..lWa Allahua'lam bi al-Shawwab.***

Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis

 

 

 

 

Editor : Edwar Yaman
filosofi tanah Redaksi samsul nizar