Berkibar sang Merah Putihku

Redaksi • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 05:06 WIB
Samsul Nizar
Samsul Nizar

 

SETIAP tanggal 17 Agustus seluruh rakyat Indonesia, mulai sabang sampai merauke bersuka ria dan bangga memperingati hari kemerdekaan RI. Suatu kebanggaan men-jadi bagian bangsa Indonesia. Bangsa ber-martabat dan heroik yang tak kenal kata menyerah mengusir para penjajah. 

Sejarah panjang membuktikan watak kesatria, ulet, dan harga diri para pejuang yang tak kenal menyerah, apalagi menjual harga dirinya.

Berkibarnya sang Merah Putih tanggal 17 Agustus 1945 menandakan kemerdekaan seluruh rakyat Indonesia. Kegagahan ben-deraku menandakan harga diri bangsaku yang tak akan pernah terjajah. Makna me-rah putih menembus awan nusantara bukan sebatas euforia tanpa makna, tapi momen mengoreksi diri atas apa yang telah dan akan dilakukan bagi membangun negeri.

Bukan sekedar hormat formalitas, tapi nyatanya sedang menginjak-injak kesakralan nilai luhur yang dikandungnya.

Ada beberapa nilai filosofis Merah Putih untuk jadi renungan dan menyadarkan akal dan hati seluruh elemen bangsa, yaitu :

Pertama, Warna merah melambangkan darah yang mengalir pada setiap diri anak negeri. Secara medis, fungsi utama darah untuk mengalirkan oksigen, mengeluarkan karbon dioksida, mendistribusi nutrisi, melawan infeksi, menyembuhkan luka, membuang sisa matabolisme, dan menjaga suhu tubuh. Darah mengalir ke seluruh tubuh untuk memastikan setiap organ tetap hidup dan bekerja dengan baik.

Baca Juga: Capella Honda Sambut Kunjungan BGTK Kemendikdasmen Riau dan Bakal Calon Kepala Sekolah

Darah yang baik dihasilkan dari makan dan minum yang baik (halal) untuk memompa energi kebaikan. Tapi, andai penghasil darah diperoleh dari makanan dan minuman yang buruk (haram), maka darah akan mengalirkan energi kejahatan keseluruh tubuh dan berdampak terhadap peradaban.

Darah merupakan simbol kehidupan dan sumpah setia. Bak pepatah, "selama hayat dikandung badan" tak sejengkal tanah negeri ini rela digadaikan apatahlagi dijual kepada bangsa asing. Warna merah melambangkan raga (hidup), keberanian, semangat juang, pengorbanan tanpa pamrih, dan darah perjuangan yang siap menetes untuk membangun negeri. Per-juangan yang diperuntukan karena-Nya semata, bukan karena ada apanya. Hal ini diingatkan Allah melalui firman-Nya : "Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepada-mu yang diyakini (ajal)" (QS. al-Hijir : 99).

Menurut Ibn Katsir, ayat di atas merupakan janji (niat) hamba-Nya untuk istiqamah berbuat dan berperilaku dengan muara  sebagai wujud ibadah sepanjang hidup hingga ajal menjemput. Hal ini sesuai dengan semangat seluruh butir sila yang termuat pada Pancasila.

 Baca Juga: Berantas PETI, Polsek Kampar Kiri Bakar Dua Rakit Tambang Emas Ilegal di Sungai Batang Bio

Kedua, Warna putih melambangkan kesuci-an hati dan niat yang tulus untuk senantiasa membangun negeri.

Dalam makna lain, putih tulang berarti "lebih baik mati, ketimbang terjual harga diri". Hal ini menjadi filosofi leluhur negeri ini "lebih baik putih tulang daripada putih mata". Filosofi leluluhur penuh makna. Me-ngajarkan prinsip lebih baik mati berkalang tanah daripada harus menanggung malu sampai ke anak cucu, apatahlagi bila tercatat dalam sejarah hitam kelam.

 

Ketiga, Gabungan warna merah putih melambangkan hadirnya keseimbangan antara tindakan yang berani (sesuai aturan) dan niat yang suci (ikhlas). Sifat hakiki generasi "merah putih" mengimple-mentasikan sabda Rasulullah : "Sesung-guhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya" (HR. Bukhari dan Muslim).

Merujuk hadis di atas, prinsip Keseimbang-an sang Merah Putih merupakan gabung-an antara niat dan tindakan meliputi : (1). Harmonisasi antara niat suci (Ikhlas) akan membimbing seluruh aktivitas menuju ridha-Nya semata. Bersihnya hati dari sifat riya (pamer) atau pamrih pujian menjadi fondasi penentu (utama) kualitas pahala batiniah. (2) Korelasi antara niat, perilaku, dan aturan (kebenaran). Ketegasan tanpa  melanggar batasan (hukum dan agama). Sebab, tak semua niat ikhlas berkorelasi dengan tindakan yang baik, dilakukan sesuai aturan, dan pertimbangan nilai-nilai kemanusiaan.

Fenomena kebijakan penunjang beban kerja pendidik yang segunung dan admi-nistratif yang segudang, dirasakan jadi penghambat terlaksananya niat untuk menyebarkan dan mengembangkan ilmu. Kebijakan yang berpotensi membuka lebar "ruang haram" (transaksi) untuk memenuhi-nya. Bayangkan, biaya tulisan agar masuk di jurnal scopus begitu mahal (3000-7000 USD) tak sebanding pendapatan (gaji) yang diperoleh. Kondisi ini meletakkan ilmuan "mengemis" jurnal terindeks. Padahal, idealnya ilmuan dihargai dan dimuliakan (QS. al-Mujadalah : 11), bukan ingin mulia dengan "mengemis" minta dihargai. Mungkin roda sejarah telah terbalik. Akibatnya, keberkahan ilmu tak lagi jadi tujuan (QS. al-Baqarah : 269). Kelak, semua akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya (QS. al-Isra' : 36). Tapi, manusia baru sadar bila derita dan murka Allah telah menimpanya.

Alangkah bijak bila dilakukan kajian men-dalam atas semua kebijakan di negeri Merah Putih. Apakah ada korelasi antara kebijakan dengan peningkatan kualitas pendidikan (intelektual dan moral) dan bangunan peradaban yang diharapkan. Kajian atas dampak kebijakan dan keber-manfaatan untuk mencerdaskan moral anak bangsa. Mungkin ada, tapi seberapa besar manfaat dan mudharat yang akan ditimbulkan. Jangan latah menjadikan negara yang berperadaban maju, tanpa pertimbangan kondisi negeri yang sedang terjadi. Kajian bijak dan obyektif, bukan kajian "latah" yang tak berkorelasi dengan penghargaan terhadap pemilik ilmu.

Wahai Merah Putih ku, seyogyanya ilmu-wan dan penuntut ilmu sejati menjunjung tinggi kehormatan diri, tawadhu' (rendah hati), dan tak menjual martabat ilmunya demi validasi, penghargaan, dan pemenuh-an syarat administratif yang terkadang memaksa untuk "menjual marwah".

Dalam al-Qur'an, manusia yang "menjual marwah" atau kehormatan diri dan agama disetarakan dengan konsep menjual ayat-ayat Allah dengan harga murah (tsamanan qalīlā), yaitu menukar kebenaran, kehormat-an, dan prinsip agama demi kepentingan duniawi yang sesaat. Hal ini diingatkan oleh Allah melalui firman-Nya : "Maka celakalah orang-orang yang menulis kitab dengan tangan mereka (sendiri), kemudian berkata, 'Ini dari Allah,' (dengan maksud) untuk menjualnya dengan harga murah..." (QS. al-Baqarah : 79).

Ibn Katsir menjelaskan bahwa ayat di atas berisi ancaman kebinasaan dan siksaan berat (al-wail) bagi ahli kitab (Yahudi) yang sengaja memalsukan isi firman-Nya. Mereka mengklaim sebagai firman Allah demi meraup keuntungan duniawi yang sedikit. Jangan sampai mengklaim se-bagai kebijakan yang berupaya untuk  meningkatkan kualitas, tapi sebenarnya menghancurkan kejujuran dan moralitas.

Baca Juga: Sambut HUT Ke-81 RI, Pemerintah Desa Penyengat dan Forum Perangkat Desa Tanam 5.000 Mangrove

Andai penentu kebijakan berada pada situasi, posisi, tugas, fungsi, dan "kasta" yang sama, mungkin kebijakan akan difikir lebih bijaksana. Tapi, bila Merah Putih ku tak lagi mampu mewarnai watak generasi, maka teruskanlah membuat berbagai kebijakan yang sesuai dengan keinginan agar terlihat semakin nyata karakter yang disembunyikan. Hanya saja, ingatlah janji Allah yang disampaikan melalui sabda Rasulullah : "Barangsiapa yang memberi kemudharatan kepada seorang muslim, maka Allah akan memberi ke-mudharatan kepadanya. Dan barang siapa  

yang menyusahkan (memberatkan) urusan seorang muslim, maka Allah akan menyusah-kannya" (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi).

Mungkin ancaman kemudharatan yang diingatkan oleh Rasulullah di atas tak di-tuai dan muncul seketika. Tapi, janji Allah dan Rasul-Nya pasti adanya. Pada waktu-nya, semua niat dan perilaku akan terlihat nyata tanpa mampu beretorika atau mem-bangun validasi kemunafikan.

 

Keempat, dalam tataran ilmu sosial (adat), "merah dan putih" pertanda manusia me-masuki masa kedewasaan. Bila demikian, warna merah putih menandakan bangsa berkarakter dewasa dalam semua tindak perilakunya. Mendahulukan akal cerdas, kearifan, kebijaksanaan, dan senantiasa menjaga martabat diri (bangsa).

Telah 81 tahun bangsa ini di bawah naungan Sang Merah Putih. Bagaikan usia manusia, angka tersebut menandakan kematangan, bukan "anak-anak ingusan" yang hanya mengedepankan kesenangan, bermain, atau berebut sesuatu yang bukan miliknya. Angka tersebut seyogyanya menyadarkan atas apa yang diraih dan telah diberikan untuk pewaris masa depan. Di sisi lain, angka tersebut sebaiknya jadi cermin pembanding guna melihat negara lain yang usianya lebih muda, tapi maju peradaban dan sejahtera seluruh lapisan rakyatnya. Usia dewasa yang tak perlu malu mengakui kelemahan dan tak pula jumawa atas keberhasilan. Demikian tanda dan sifat bangsa yang dewasa.

Sudah 81 tahun Sang Merah Putih berkibar dengan gagah di seluruh pelosok negeri ini. Menghantarkan bangsa yang dewasa, cerdas, dan amanah. Simpul ikatan Merah Putih merupakan ruh pengikat persatuan seluruh anak bangsa demi terwujudnya 

cita-cita setiap butir sila yang terkandung dalam Pancasila. Untuk itu, jangan biarkan Merah Putih dirobek oleh "tangan-tangan" rakus dan culas yang hanya memuaskan kepentingan diri dan golongan semata. Sebab, negara ini bukan milik pribadi yang dikuasai oleh segelintir manusia dan golongan, tapi milik seluruh rakyat RI.

Ruh Merah Putih tak akan pernah berubah. Tapi, sifat dan watak manusia yang meng-isi kemerdekaan acapkali berpotensi "berbalik arah" dan mengalami abrasi moral. Tampil bak "baling-baling di atas bukit".  Semakin tinggi ilmu dan status, semakin terbuka ruang "abu-abu" untuk berperilaku terbalik dan merusak cita-cita kemerdekaan. Teori setinggi awan, kenyataannya "di kolong jembatan". Ketika pola fikir dan kebiasaan salah didiamkan, maka kebenaran akan dinilai kesalahan dan kesalahan justeru dianggap suatu

kewajaran. Gempita kemunafikan ini akan terjadi tatkala punggawa candradimuka menjual kebenaran, tuli, bisu, hilang harga diri, dan hanya mencari "ruang selamat". Demikian akibatnya bila manusia tak lagi merujuk pada kebenaran agama dan hukum (QS. al-Baqarah : 7). Semua panca indera, akal, dan hati tertutup rapat untuk melihat kebenaran, tapi terbuka lebar untuk melihat kesempatan (kesenangan).

Dalam perspektif kemakhlukan, ketika sang Merah Putih berkibar, ia sedang me-nyaksikan kualitas kedewasaan seluruh elemen bangsa. Semoga, bukan sekedar kemeriahan "kekanak-kanakan". Anehnya, sejumlah lomba anak-anak, tapi dilakukan orang tua. Sungguh, "kini ibu pertiwi, semakin bersusah hati. Air matanya berlinang, emas intannya digarong. Orang tua jauh tersesat, tak tau lagi jalan pulang".

Dirgahayu negeriku ke-81 dan berkibar gagah Merah Putihku selamanya. Teriring ucapan terimakasih berbungkus doa buat leluhur kusuma bangsa yang ikhlas telah menghantarkan negeri ini merdeka untuk selamanya. Semua kebaikanmu akan menjadi ladang amal sepanjang masa di alam baka, aamiin. Al-Fatihah. Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***

 

 

Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis

Editor : Edwar Yaman
sang merah putih samsul nizar 17 agustus