Oleh : Samsul Nizar
Sepanjang tahun 2026, belahan dunia diterpa berbagai bencana (musibah). Mulai gempa bumi, banjir bandang, longsor, laut bergelora, letusan gunung merapi, abrasi, kemarau, sampai asap tebal (ad-Dukhan) disebabkan KARHUTLA. Alam meronta menyampaikan pesan-Nya.
Musibah yang beririsan jeritan rakyat atas kondisi ekonomi yang semakin menghimpit. Begitu berat cobaan yang datang silih berganti. Sayangnya, semua hanya didekati secara teoritis-politis, tanpa menghubungkaitkan dengan wilayah vertikal (agama). Berbagai analisa ilmiah dan upaya mitigasi dilakukan (kuratif) untuk mengurangi risiko dan dampaknya terhadap masyarakat. Ketika bencana hanya dikaitkan secara ilmiah, maka semua penyebab (persoalan) dianggap "biasa dan wajar" (alamiah). Namun, manusia lupa bila semua musibah merupakan ayat-Nya yang berkaitan atas pengkhianatan segelintir manusia. Pengkhianatan yang mengundang hadirnya musibah. Seakan, manusia "cuci tangan".
Tak ada introspeksi diri atas perilaku yang menyebabkan semesta murka dan turun azab-Nya. Padahal, Allah telah mengingatkan dalam firman-Nya : "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan manusia. (Melalui hal itu), Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)" (QS. ar-Rum : 41).
Menurut Ibn Katsir, ayat di atas menjelaskan penyebab terjadinya berbagai bentuk kerusakan di darat dan laut akibat kezaliman, kemaksiatan, dan dosa yang dilakukan oleh segelintir manusia. Namun, akibat (azab) yang ditimbulkan acapkali menimpa pada semua manusia yang tak berdosa. Kondisi ini diperparah tatkala kemungkaran yang dilakukan segelintir pelaku, tapi didiamkan dan dibiarkan.
Baca Juga: Harumkan Nama Rupat, Atlet Teqball Bengkalis Sumaya Raih Medali Perak di Asian Games
Azab yang hadir bertujuan agar manusia sadar, taubat, jera, dan kembali ke jalan yang benar. Namun, ketika teguran-Nya tak mampu menyadar-kan pelaku kemungkaran, maka pada waktu-nya akan turun azab-Nya yang lebih pedih (QS. as-Sajadah : 21). Sungguh begitu nyata kemungkaran dan kezaliman sebagai penyebab alam meronta menghadirkan azab-Nya dan menimpa semua makhluk-Nya.
Bagi manusia pilihan-Nya, berbagai bentuk musibah sebagai media muhasabah untuk memperbaiki diri. Terbangun kesadaran dan khawatir bila dirinya menjadi penyebab timbul murka-Nya. Tapi, bagi manusia yang telah ditutup hidayah-Nya, semua musibah tak membuatnya sadar, bahkan semakin menyebarkan varian kezaliman lainnya. Bila penyebab musibah dikaji melalui pendekatan vertikal (imani), maka setiap mu-sibah menjadi media koreksi, antara lain :
Pertama, Manusia sebagai penyebab dan mengundang bencana. Bila dianalisa secara obyektif, sebagian besar musibah dan bencana yang terjadi akibat perbuatan, kelalaian, atau ulah tangan manusia yang sewenang-wenang merusak alam, zalim pada sesamanya, serta melanggar aturan dan agama.
Dalam Islam, perilaku dosa dan pelanggar-an terhadap nilai moral (kezaliman, kemung-karan, atau dosa lainnya) sebagai penyebab turunnya peringatan dan azab dari Allah. Hal ini ditegaskan dalam firman-Nya : "Dan apa pun musibah yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri..." (QS. asy-Syura : 30).
Menurut Ibn Katsir, ayat di atas menjelaskan bahwa musibah atau cobaan apa pun yang dirasakan oleh manusia di dunia bersumber dari dosa dan kesalahan yang telah atau sedang diperbuatnya. Namun, sebagian besar kesalahan yang dilakukan manusia telah memperoleh ampunan-Nya. Andai azab ditimpakan sesuai kadar dosa dan kesalahan yang dilakukan manusia, niscaya alam semesta akan hancur binasa. Anehnya, meski musibah silih berganti, tapi manusia tak pernah menyadari dan terus melakukan kesalahan yang serupa tiada henti, bahkan semakin nista. Seakan manusia "menantang Allah" dan meragu-kan semua ancaman yang difirmankan-Nya (QS. al-Ankabut : 53). Berbagai kemu-nafikan, kebohongan, kemungkaran, dan kezaliman terus dilakukan tiada henti.
Baca Juga: Pembelajaran Jarak Jauh di Pekanbaru Diperpanjang 21-22 September
Kedua, Membiarkan terjadinya berbagai pelanggaran atas aturan Allah tanpa upaya untuk mencegahnya. Berbagai bentuk dosa, maksiat, dan kezaliman di depan mata justru jadi kebanggaan tanpa rasa sungkan. Kondisi ini disebabkan ketika pemilik kebenaran (ilmuan dan ulama) membiarkan terjadinya berbagai kemung-karan (kemaksiatan). Padahal, semua di-ketahui secara jelas dan pasti. Rasulullah ﷺ telah mengingatkan dalam sabdanya: "Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya (kuasa). Jika tidak mampu, maka dengan lisannya (nasehat). Dan jika tidak mampu lagi, maka dengan hatinya (penolakan hati), karena itu adalah selemah-lemahnya iman" (HR. Muslim).
Dalam ajaran Islam, para ilmuan dan ulama memikul tanggungjawab yang sangat besar. Mereka berkewajiban menyampai-kan kebenaran (al-haq) dan mencegah kemungkaran atau kezaliman. Ketika ilmuan dan ulama memilih diam, menyembunyi-kan kebenaran, membiarkan atau ikut serta melakukan kezaliman demi keuntungan diri, maka Allah akan menurunkan azab yang lebih pedih. Hal ini telah diingatkan dalam firman-Nya : "Sungguh, orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami jelaskan kepada manusia dalam Kitab (Al-Qur'an), mereka itulah yang dilaknat Allah dan dilaknat (pula) oleh mereka yang melaknat" (QS. al-Baqarah : 159).
Menurut Ibnu Katsir, ayat di atas menjelas-kan tentang ancaman keras bagi orang yang sengaja menyembunyikan atau menafikan kebenaran, tapi membela kemungkaran. Ancaman tersebut terutama ditujukan pada ilmuan dan ulama yang membiarkan atau ikut bersama melakukan kezaliman.
Ancaman di atas kembali diingatkan oleh Rasulullah ﷺ dalam sabdanya : "Sejujurnya apabila manusia melihat orang yang berbuat zalim lalu mereka tidak mencegahnya, maka hampir saja Allah menjatuhkan hukuman kepada mereka semua" (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Demikian jelas dan tegas ancaman Allah dan peringatan Rasulullah agar manusia yang mengerti agar mencegah kebatilan. Namun, acapkali ancaman tersebut dikalahkan oleh nafsu duniawi yang lebih mendominasi. Untuk itu, Allah membukti-kan kebenaran firman-Nya dengan menurunkan berbagai teguran-Nya. Namun, semua tak pernah sadar dan mau sadar. Menganggap semua bencana yang terjadi hanya gerak (hukum) alam yang didekati melalui teori ilmiah semata, tanpa jalur iman.
Pada ayat selanjutnya (QS. al-Baqarah : 160), Allah SWT memberikan jalan keluar (pintu taubat). Musibah yang berisi murka-Nya akan dicabut ketika manusia sadar, taubat, memperbaiki diri, serta ulama dan ilmuan tampil ke permukaan menjelaskan secara jujur kebenaran yang sebelumnya disembunyikan. Namun, masihkah tersisa sosok yang berani menjelaskan kebenaran di tengah kepalsuan yang begitu nyata?
Ketiga, Musibah sebagai ujian bagi pemilik iman. Baginya, musibah merupakan cara Allah mengukur kualitas iman hamba-Nya (QS. al-Baqarah : 155-156). Sebab, musibah adalah sunnatullah yang ditetapkan Allah agar manusia senantiasa melakukan instrospeksi (muhasabah) atas amaliah-nya. Untuk itu, tak semua musibah bermakna hukuman. Sebab, bagi para nabi dan orang-orang saleh, musibah bisa menjadi bentuk ujian yang bertujuan menaikkan derajatnya agar semakin mendekatkan diri kepada Allah. Kehadiran musibah menjadi media pengingat agar manusia kembali kepada jalan yang benar dan meningkatkan ketaat-an sesuai ajaran-Nya. Bagi hamba pilihan-Nya, kehadiran musibah merupakan cara Allah menghapus dosa, melatih kesabaran, dan memperteguh kualitas keimanan se-bagai hamba pilihan-Nya.
Tak ada yang tau tujuan terjadinya semua musibah. Sebab, turunnya berbagai bentuk musibah bersifat netral. Ia menimpa siapa saja yang dikehendaki, apakah terhadap manusia yang baik maupun para pendur-haka atas ayat-ayat-Nya. Untuk itu, kehadir-an berbagai musibah bisa jadi media ujian bagi orang beriman, teguran (peringatan) bagi orang yang lalai agar bertobat, atau azab bagi manusia yang kufur dan melakukan kezaliman tanpa mau bertobat.
Baca Juga: Lewat Pilots, KPKNL dan LPP RRI Pekanbaru Dekatkan Edukasi Pemanfaatan Aset Negara kepada Publik
Ketika musibah tak mampu menyadarkan, tapi justeru membuat manusia semakin lalai dan melanggar peringatan-Nya, maka azab yang lebih besar sedang menanti. Hal ini disampaikan Ummu Salamah RA, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda : "Jika kemaksiatan telah tampak di bumi, maka Allah akan menurunkan azab-Nya kepada penduduk bumi tersebut." Aku bertanya: "Wahai Rasulullah, padahal di antara mereka ada orang-orang saleh ?". Beliau menjawab : "Ya, di antara mereka ada orang-orang saleh. Mereka terkena azab yang menimpa seluruh manusia, kemudian mereka (di akhirat) kembali mendapatkan ampunan dan ridha-Nya" (HR. Ahmad).
Ketika alam meronta, tanda Allah sedang mengingatkan hamba-Nya. Panca indera, akal, dan hati mungkin bisa berdusta. Tapi, alam selalu jujur membuktikannya. Tak ada yang bisa ditutupi, meski berbagai rekayasa dilakukan untuk menutupinya. Peringatan alam menandakan sulitnya menemukan sosok yang mau meluruskan kebatilan. Sungguh, kerusakan moral, akidah, dan maksiat yang begitu nyata. Diamnya bukan karena tak tau, tapi takut untuk menegakkan kebenaran-Nya yang bisa berdampak "masa depan". Fenomena akhir zaman yang demikian telah dikata-kan oleh Rasulullah ﷺ dalam sabdanya : "Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api” (HR. Tirmidzi).
Hadis di atas menjelaskan begitu berat tantangan dan "rasa takut" pemilik iman dan kebenaran di tengah dinamika hidup yang penuh kemunafikan. Tapi, tampillah sebagai hamba pilihan-Nya. Kuatkan iman, kesabaran, dan terus berbuat yang benar. Semoga, kebajikan mampu menggantikan musibah menjadi rahmat-Nya, aamiin. Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***
Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis)l
Editor : Edwar Yaman