Nabi Musa, Pemabuk, dan Seekor Anjing

Redaksi • Dipublikasikan Senin, 5 Oktober 2026 | 05:01 WIB

 

Samsul Nizar
Samsul Nizar

Oleh : Samsul Nizar  

Dalam kitab Mukasyafah al-Qulub, Imam al-Ghazali mengisahkan bahwa suatu hari, ke-tika nabi Musa bermunajat, Allah SWT memerintahkannya untuk mencari makhluk yang derajatnya (nilai) yang lebih rendah dibanding dirinya. Mendapat perintah tersebut, nabi Musa bergegas mencari ciptaan-Nya yang dimaksud. Beliau sangat berhati-hati dalam menilai dan menemukan makhluk yang paling hina.

Beliau sadar bahwa setiap ciptaan-Nya memiliki nilai kemuliaan (QS. Ali Imran : 191) tersendiri. Ketika nabi Musa berjalan di pasar, beliau melihat seorang pemabuk yang kotor dan terlunta-lunta. Mungkin ini hamba-Nya  yang paling buruk dan rendah derajatnya. Ketika nabi Musa mendekati si pemabuk, terlintas dalam hati dan pikirannya, "bagaimana bila di akhir hidup si pemabuk memperoleh nikmat ampunan-Nya. Berarti, ia akan lebih mulia. Sebab, manusia tidak pernah tahu akhir hidup nya maupun orang lain. Akhirnya, nabi Musa mengurungkan penilaiannya dan melanjutkan perjalanan melaksanakan perintah-Nya untuk menemu-kan makhluk yang derajat (nilai) lebih rendah dibanding dirinya. 

Di tengah jalan, nabi Musa bertemu seekor anjing tua, kurus, kotor, dan dipenuhi kudis (penyakit kulit) yang begitu menjijikan. Da-lam hatinya berkata, mungkin ini makhluk yang paling rendah derajatnya. Namun, ketika beliau berniat membawa si anjing ke hadapan Allah, tapi hati kecilnya berkata, "memang anjing ini hewan najis, kotor, berkudis, dan hina, tapi ia hanya melaksanakan fitrahnya sebagai seekor anjing. Ia tak pernah melanggar aturan-Nya".

Sebab, seluruh makhluk --selain jin dan manusia-- diciptakan-Nya dalam kondisi musakhkhar (ditundukkan secara mutlak) untuk patuh pada sunnatullah (hukum alam) dan perintah-Nya. Mereka tidak memiliki ikhtiyar (kebebasan memilih) seperti yang diberikan pada jin dan manusia. Semua makhluk senantiasa menjalankan fitrahnya tanpa pernah ber-maksiat atau melanggar aturan Allah. Hal ini dinyatakan dalam firman-Nya : "Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka..." (QS. al-Isra' : 44).

Menurut al-Qurthubi, ayat di atas menjelas-kan bahwa seluruh makhluk senantiasa mensucikan dan mengagungkan Allah. Semua merupakan bukti nyata (dalālah) atas keesaan dan kekuasaan-Nya. Sementara manusia yang berakal, tampil anggun dan menawan, tapi acapkali ber-peluang berperilaku sebaliknya. Justeru manusia selalu melakukan berbagai pelanggaran terhadap perintah-Nya. Hanya pintar menilai sesama tapi enggan dan jahil untuk menilai diri sendiri.

Baca Juga: 61 Hotspot Terdeteksi di Tiga Kabupaten di Riau, 51 Titik Panas Ada di Inhil

Dengan kesadaran tersebut, nabi Musa memutuskan untuk melepaskan anjing tersebut. Nabi Musa akhirnya sadar bahwa makhluk yang hina dan rendah derajatnya adalah setiap diri yang merasa mulia, tapi mengingkari dan melanggar perintah-Nya.

Kesadaran ini membuat nabi Musa kembali menghadap Allah dengan "tangan hampa" seraya bersujud memohon ampunan-Nya. Dalam sujudnya, nabi Musa menilai bahwa dirinya merupakan sosok yang paling hina dibanding makhluk lain. Mendengar peng

akuan hamba-Nya tersebut, lalu Allah berkata : "benar apa yang engkau lakukan dan katakan. Bila engkau bawa si pemabuk atau anjing yang ditemui sebagai makhluk yang rendah derajatnya, maka akan Ku hapus namamu sebagai utusan-Ku".

Adab nabi Musa yang tawadhu' dan bijak-sana telah mengimplemenasikan firman-Nya : "Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa" (QS. an-Najm : 32).

Menurut al-Qurthubi, ayat di atas menjelas-kan bahwa orang-orang yang berbuat baik (al-muhsinin) adalah hamba-Nya yang se-lalu menjauhkan diri dari dosa-dosa besar dan perbuatan keji. Mereka tak pernah merasa dirinya paling suci dan terhindar dari sifat tercela (sombong, bangga atas amal ibadah, atau menilai diri paling suci dihadapan Allah). Sifat hamba-Nya yang meraih tingkat ihsan yang hakiki.

Bila dianalisa secara cermat, kisah nabi Musa di atas menjelaskan beberapa pem-belajaran karakter manusia, antara lain :

Baca Juga: Peserta Siap Berebut Tiket Juara, TM dan Drawing Honda DBL Riau

Pertama, Karakter manusia yang meng- harap rahman dan rahim-Nya, bukan validasi tampilan fisik atau amaliahnya. Hal ini diingatkan oleh Rasulullah ﷺ dalam sabdanya : "Tidak ada seorang pun dari kalian yang masuk surga karena amalnya." Para saha-bat bertanya, "Apakah termasuk Engkau, wahai Rasulullah?" Beliau men-jawab, "Ya, demikian juga aku, kecuali jika Allah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepadaku" (HR. Bukhari dan Muslim).

Menurut jumhur ulama, hadis di atas menjelaskan bahwa semua amal saleh yang dilakukan seorang manusia tidak sebanding atau tidak bisa "membeli" nikmat surga dan menyelamatkan dari siksa neraka secara mutlak tanpa rahmat Allah SWT. Untuk itu, mengandalkan atau membanggakan amal yang dilakukan se-cara mutlak adalah bentuk kelemahan hati dan kesombongan diri. Ketika merasa lebih hebat dan suci akan menyuburkan kesom-bongan. Padahal, manusia seharusnya ber- adab dengan menyandarkan harap kepada karunia Allah yang Maha Rahman dan Rahim. Sadar dan malu atas ketidaksempurnaan diri merupakan adab dan tawadhu' hamba pilihan yang ditampilkan oleh nabi Musa AS. 

Kedua, Karakter manusia yang beradab dan senantiasa mengoreksi kelemahan diri (muhasabah) sebagai hamba yang sadar atas kelemahan diri. Hal ini terlihat pada adab nabi Musa. Meski mata melihat dan akal menilai sosok pemabuk dan seekor anjing yang ditemuinya, tapi hati dan imannya mem-bimbing untuk melihat kuasa-Nya semata. Sosok yang demikian meruoakan manusia bijaksana. Hal ini sesuai sabda Rasulullah ﷺ : "Orang yang cerdas adalah orang yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri dan beramal untuk kehidupan setelah mati, sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan ber-angan-angan terhadap Allah" (HR. Tirmidzi).

Hadis di atas menjelaskan ukuran orang cerdas dan lemah. Manusia cerdas senan-tiasa fokus pada muhasabah (introspeksi) diri. Sedangkan manusia yang lemah (jahil) selalu membanggakan kesempurnaan diri dan fokus melihat kesalahan orang lain. Manusia membiarkan dirinya dikendalikan oleh hawa nafsu duniawi, namun tetap berharap mendapat ampunan dan surga Allah tanpa mau beramal dan beradab. Sungguh sosok manusia yang merugi dan tertipu oleh "angan-angan" kosong tanpa pernah beramal. Hal ini diingatkan melalui firman-Nya : "Pahala Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan bukan (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain Allah" (QS. an-Nisa' : 123).

Menurut al-Qurthubi, ayat di atas turun untuk menegur orang-orang yang merasa cukup hanya dengan status "beragama dan asesoris kesalehan semu" atau se-kadar berangan-angan kosong (tamanni) masuk surga tanpa mau membuktikannya dengan amal saleh dan akhlak mulia. Untuk itu, Islam menegaskan bahwa setiap klaim keimanan harus berjalan selaras dengan perbuatan (amaliah dan adab) nyata.

Ketiga, karakter manusia yang sibuk menilai diri yang paling mulia dan benar. Tapi, sifat munafik muncul bila menilai sosok yang bisa "digantungkan harapan". Sejelek dan senista apa pun perilakunya justeru dianggap mulia. Pemilik sifat ini sedang memperlihatkan kehinaan diri yang paling nyata. Sebab, hanya Allah yang berhak menilai kualitas kemuliaan setiap hamba sesuai penilaian-Nya. Bila terhadap sesama saja begitu sombong dan merasa mulia, apalagi terhadap seorang pemabuk yang kotor dan seekor anjing (hewan yang najis) yang menjijikan. Manusia yang demikian akan tergelincir dan hina di hadapan-Nya melebihi hewan yang paling hina (QS. al-A'raf : 179).

Sungguh, nabi Musa mampu melewati ujian-Nya. Ia mampu menghadirkan Allah dalam setiap ciptaan-Nya. Sebab, tak ada hak hamba menilai mulia atau hina sesama-nya. Sifat ini akan menghantarkan manusia sebagai sosok yang tak pernah lupa diri. Menilai bantuan sesama sebagai bentuk bantuan-Nya melalui hamba. Anehnya, ma-nusia pada umumnya justeru berperilaku sebaliknya. Menilai diri paling mulia tanpa dosa dan lupa atas kebaikan yang pernah diterima. Padahal, kesalahan begitu meng-gunung dan bantuan begitu nyata. Namun, bila menilai sesamanya --terutama yang dibenci-- sejuta kebaikan tak pernah akan terlihat. Tapi, setitik noda (salah) begitu besar dan nyata di matanya.

Anehnya, sifat ini kebanyakan menjangkiti pada manusia yang memiliki status dan berpendidikan. Mereka saleh secara lahiriyah dan mulia dihadapan manusia, tapi busuk dalam pan-dangan-Nya. Memiliki kuasa dan status agar dipuja dan diagungkan oleh masyarakat. Padahal, sosoknya simbol kehinaan di sisi Allah. Mereka menjadikan dunia dan posisi sebagai "ladang kesombongan" menyemai kekufuran. Sifat yang demikian menghantar-kannya sebagai pengikut setia Fir'aun, Qarun, Haman, Bal'am, Abu Lahab, atau Abu Jahal. Untuk itu, Rasulullah ﷺ mengingatkan : "Demi Allah, sesungguhnya dunia lebih hina di sisi Allah daripada bangkai anak kambing ini bagi kalian" (HR. Muslim).

Baca Juga: Festival Sastra Tapak Bayang 2026 Melihat Karya Sastra tanpa Bias Gender

Sungguh, Allah menjadikan dunia begitu indah bagi manusia yang serakah dan cinta dunia. Tapi, manusia lupa hari akhirat dan tempat kembali yang baik (surga) atau buruk (neraka). Mungkin, manusia tampil dengan kata indah dan mempesona, tapi hatinya penuh dusta (QS. al-Mursalat : 47), dan "bau" perilakunya melebihi bangkai yang paling busuk (QS. al-Hujurat : 12). Setiap manusia diberi pilihan (QS. asy-Syams : 8) sesuai kadar imannya. Sungguh, kejahatan merupakan perilaku nista. Tapi, merasa diri paling suci dan mulia merupakan sifat nista dan hina. Semua tergantung kualitas iman, akal, dan hati setiap diri. Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***

Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis

 

 

Editor : Edwar Yaman
nabi musa Seekor anjing pemabuk