
Oleh: Samsul Nizar
Manusia merupakan makhluk yang mulia. Ia dianugerahkan dari cahaya-Nya (ruh-Nya). Bila ingin cahaya-Nya, maka manusia perlu selalu mendekati dan menyamakan frekuensi cahaya dengan pemilik cahaya. Dengan demikian, derajat manusia akan diangkat sebagai hamba-Nya yang terpilih. Sungguh hamba yang beruntung ketika bisa meraih dan diterangi oleh cahaya-Nya.
Cahaya-Nya hanya bisa dirasakan melalui hati yang selalu tunduk dan rindu pada-Nya. Rindu dalam kalbu yang menyeruak pada perilaku. Cahaya bukan pada aspek zahir, tapi batin yang selalu "memanggil-Nya". Keadaan zahir bisa menipu, tapi keadaan batin yang lepas dari ego kemakhlukan akan masuk pada ruang "penghambaan" yang paling dalam. Kenikmatan yang tiada tara, tanpa pernah perlu validasi semu.
Sebalik, bagi manusia yang keluar dari rotasi dan frekuensi cahaya Ilahiah akan mengalami kegelapan. Keadaan zahir mungkin "bercahaya" dengan aksesoris kesalehan yang memukau. Tapi, batinnya gersang dan gelap dari keikhlasan. Akibatnya, hadir sifat menghakimi dan merasa paling suci. Selalu melihat kesalahan orang lain, tapi tak mau disalahkan.
Sungguh celaka manusia yang hanya mencari kesalahan atau aib sesama, sedangkan tak pernah mau disalahkan dan melihat aibnya. Padahal, si pencari kesalahan (aib) orang lain acapkali merupakan sumber dan pelaku utama kesalahan dengan aib yang menganga. Hal ini dinyatakan Allah melalui firman-Nya: "Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain" (QS. al-Hujurat : 12).
Baca Juga: Rayo Vallecano Beri Penghormatan Istimewa untuk Emil Audero usai Juara FIFA ASEAN Cup 2026
Begitu jelas firman-Nya, tapi banyak ma-nusia yang tertutupi oleh gelapnya akal dan hati. Ayat yang tak mau dipedomani dan sulit diimplementasikan. Bagaikan hadir di tengah kegelapan. Meraba kian ke-mari untuk menemukan apa yang ada disekitarnya, tanpa pernah menyentuh diri sendiri. Hanya sibuk mencari kesalahan orang lain, tanpa tau boroknya diri.
Sedangkan hamba yang hadir dengan cahaya akan sibuk melihat dan menata diri, serta area disekitarnya agar nyaman dan rapi. Ia hadirkan Allah (tajalli) pada semua isi alam sembari bersama-sama bertasybih mengagungkan-Nya. Sebab, Allah hadir pada semua yang ada, tapi bukan semua yang ada merasa menjadi tuhan dengan keangkuhan yang nyata.
Untuk itu, saksikan semua yang ada di alam semesta sebagai bukti kuasa-Nya. Bukti kasih sayang-Nya agar manusia mengenal dan menuju cahaya-Nya. Padahal, Allah telah menampilkan ciptaan-Nya se-bagai i'tibar bagi manusia menuju cahaya-Nya, antara lain :
Pertama, Lebah mencari madu di setiap kelopak bunga tanpa merusak dahan, atau apa pun yang disentuhnya. Matanya hanya tertuju mencari kebaikan di tengah keburukan. Meski berada ditumpukan sampah, ia selalu mencari madu untuk disantapnya. Bagaikan sosok manusia yang diterangi cahaya-Nya akan mencari kebaikan dalam rimbunnya kejahatan. Untuk itu, Allah meng-abadikan lebah sebagai surah (an-Nahl) dalam al-Quran, bukan lalat atau sejenisnya.
Dalam Islam, lebah diangkat sebagai per-umpamaan karakter mukmin yang diterangi cahaya-Nya. Filosofi lebah tertuang pada sifatnya yang selalu mengkonsumsi kebaikan (halal thayyibah), memproduksi madu yang manis, bergizi, dan membawa kebajik-an (kesehatan) bagi yang meminumnya. Lebah simbol ulet bekerja sesuai keahlian, rukun, menjaga alam, menyuguhkan kebaikan, taat aturan, dan tak mau mengusik tapi pantang diusik. Keistimewaan dan sifat lebah diabadikan Rasulullah ﷺ dalam sabdanya : "Perumpamaan orang mukmin itu seperti lebah ; ia memakan yang baik, menghasil-kan sesuatu yang baik, dan ia hinggap (di atas ranting) tanpa mematahkan dan merusaknya" (HR. Ahmad).
Baca Juga: Baznas Salurkan Dana Zakat Tahun 2026 kepada Masyarakat Kuansing
Koloni lebah memiliki tingkat disiplin yang tinggi, kepemimpinan yang adil (ratu lebah), pembagian tugas yang profesional, berintegritas, dan kerja sama untuk membangun sarang berbentuk hexagonal yang kokoh. Keberaniannya menjaga martabat, bukan "menjual" harga diri atau menebar validasi.
Ia wujudkan bukti, bukan sekedar janji. Kedua, lalat makan yang kotor, hidup dari kotoran, dan selalu mencari sampah meski ditumpukan madu. Sebab mata dan instink-nya menyenangi "sesuatu yang busuk dan menjijikan". Demikian karakter manusia berwatak lalat selalu hidup mencari secuil kesalahan di tengan rimbunnya kebaikan. Meski al-Quran sekali menyebutkannya (QS. al-Hajj : 73), tapi digunakan sebagai perumpamaan untuk menunjukkan kelemah-an makhluk, merendahkan kesombongan, serta simbol sifat buruk yang suka kotoran dan menyebarkan penyakit (kenistaan).
Lalat merupakan serangga pemakan segala macam kotoran dan menyukai tempat yang busuk. Hewan ini sangat cepat memindahkan kuman penyakit yang berbahaya, memiliki penciuman tajam, dan mengalami metamorfosis sempurna.
Lalat hidup dan berkembang biak di tumpukan sampah dan lingkungan yang kumuh. Setiap makanan, minuman, atau benda yang disentuh lalat akan cepat membusuk dan mengundang sumber penyakit. Lalat tak pernah peduli atas akibat yang ditimbul-kan atas apa yang dilakukannya.
Bahkan, ia akan puas bila manusia sengsara. Karakter manusia yang bermental atau berwatak lalat begitu suka mencari-cari kesalahan, keburukan, dan menebar kerusakaan di mana saja ia berada. Hal ini diperparah tatkala media sosial digunakan sebagai jembatan menuju neraka. Semua prestasi terpublikasi untuk validasi yang disombongkan atau membuka aib sesama dengan penuh kepuasan.
Ketiga, Laron (Kelekatu) mencari cahaya. Ia rela mati bersama cahaya. Banyak yang tidak memahami eksistensi laron. Sebenarnya laron adalah calon raja dan ratu dari kasta reproduksi yang keluar dari sarang pada malam hari untuk kawin dan membentuk koloni rayap baru.
Baca Juga: Manuel Neuer Blunder, Robin Fellhauer Mencetak Gol Tercepat dalam Sejarah Bundesliga Jerman
Calon raja dan ratu yang diseleksi secara alamiah dengan ruang penuh cahaya. Sementara segelintir manusia justru menentukan "raja dan ratu" dengan cara sembunyi dalam kegelapan, rekayasa dibalik layar, atau transaksi di bawah meja.
Metafora laron mati di sekitar cahaya mengajarkan tentang bahaya obsesi yang tanpa perhitungan. Meski hidup sangat singkat, siklus hidup laron mengajarkan beberapa nilai filosofi, antara lain : (1) Totalitas dalam menggapai tujuan. Laron terbang dengan sayapnya untuk mencari cahaya dan pasangan. Mereka mengajar-kan keberanian untuk keluar dari zona nyaman (sarang) dan mengejar apa yang diyakini sebagai tujuan hidup tanpa ragu, namun tanpa perhitungan yang matang. (2) Pengorbanan. Laron melepaskan sayap ketika menemukan cahaya dan pasangan-nya untuk memulai siklus kehidupan baru.
Proses ini merupakan simbol bahwa ada fase pengorbanan yang harus dilakukan demi keberlanjutan zuriyatnya. (3) Ambisi akan membutakan akal dan hati. Bagi laron, cahaya adalah pedoman navigasi. Namun, ketika laron menganggap lampu sebagai cahaya bulan atau bintang, maka ia tertipu dengan ambisinya. Laron hanya berputar tanpa henti hingga kelelahan atau terpanggang.
Sifat ini mengajarkan agar manusia tak terjebak dan hancur oleh ilusi (nafsu) yang nampak indah dari luar, ternyata bahaya yang mematikan. Sifat ambisius laron membuatnya lupa diri atas bahaya yang siap membakarnya. Fenomena ini mengingatkan manusia atas jalan dan perilaku yang dipilih. Ketika nafsu dunia jadi tujuan, membuat manusia lupa bahaya yang akan menimpanya, setidaknya di hari pembalasan. Hal ini diingatkan dalam firman-Nya : "Pada hari itu manusia seperti laron yang beterbangan" (QS. al-Qari'ah : 4).
Menurut Ibn Katsir, ayat di atas menggambar-kan kondisi hari kiamat. Ketika itu, manusia berlarian dan kacau balau tak tentu arah bak laron yang berterbangan. Betapa lemah dan tak berdaya saat menghadapi kedahsyatan hari kiamat. Meski ketika di dunia begitu leluasa dan berkuasa "terbang" ke mana saja atau berbuat sekehendak hati, namun semuanya sirna ketika hari pembalasan tiba. Semua tertunduk tak berdaya tanpa mampu berkelit (dusta) sebagaimana dilakukannya ketika di dunia.
Melalui ayat di atas, Islam mengingatkan agar terhindar dari pesona "cahaya" duniawi. Sebab, laron mati karena mengejar cahaya. Untuk itu, bentengi diri dari jeratan manusia berkarakter iblis. Jangan ajarkan iblis deng-an ilmu, sebab iblis lebih berilmu. Jangan melawan iblis dengan data, sebab iblis lebih pintar memutarbalikan fakta. Jangan ajak iblis berdebat, sebab iblis begitu pintar merangkai kata dan logika. Melawan iblis hanya dengan sifat tawadhu' (rendah hati), sebab iblis tak pernah mampu memiliki sifat tersebut.
Demikian terhadap sosok manusia yang meniru sifat Iblis. Ia tak bisa melihat kebaikan, tapi hanya melihat kejahat-an (aib) sesamanya. Ia hanya melihat kele-bihan dan kemuliaan diri, tapi menafikan semua kesalahan yang dilakukannya. Un-tuk itu, iblis menuntunnya mencari sejuta alasan untuk membenarkan semua kesalah-annya dan menyombongkan atas semua kelebihan atau status yang dimilikinya.
Meski secara teori dan keimanan manusia sadar atas tipu daya iblis, namun tataran praktik justeru tampil elegan sebagai iblis. Fenomena yang bertolakbelakang dengan lisan yang menyuarakan keimanan, tapi perilaku memilih kemungkaran. Ketika posisi diraih, sejuta puji disenandungkan dan kesalahan dianggap kewajaran dengan sejuta pembelaan Tapi bila posisi telah sirna, puji berganti caci dan sejuta aib akan terbuka.
Melalui lebah, lalat, dan laron, Allah me-nyampaikan ayat-Nya pada manusia agar bijak memilih sifat. Namun, meski ketiga jenis hewan di atas begitu nyata di pelupuk mata, namun acapkali "membutakan" untuk melihat pesan-Nya. Semua tertutup oleh kejahilan, kemunafikan, dan kesombongan akut yang membuatnya lupa diri.
Begitu jelas semua ayat-Nya, tapi tergantung kualitas iman dan adab yang dimiliki, bukan iman imitasi. Pilihan yang tepat dan bijak mungkin dibenci penduduk bumi, tapi selalu dibanggakan dan disenangi penduduk langit. Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***
Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis
Editor : Edwar Yaman