Defisit Empati, Surplus Validasi

Redaksi • Dipublikasikan Senin, 19 Oktober 2026 | 05:06 WIB
Samsul Nizar
Samsul Nizar

Oleh : Samsul Nizar  

Sungguh, kehidupan akhir zaman begitu mencekam. Sebab, manusia telah kehilangan empati pada sesama. Tampil anggun ingin menguasai semua yang diinginkan tanpa peduli halal atau haram. Bahkan, kabut asap yang menyesakan pernafasan disebabkan pemilik lahan yang defisit empati, tapi surplus validasi untuk menampil-kan kemewahan "kelas atas"(high class).

Lihat siapa yang memanfaatkan lahan pasca kebakaran. Mereka bukan orang "sembarangan". Fenomena yang berulang, tapi selalu "didiamkan" dan mengiris hati. Secara sederhana, defisit empati bermakna keadaan jiwa yang tak mampu atau enggan memahami dan merasakan perasaan atau apa yang dialami orang lain.

Sedangkan surplus validasi ketika kondisi kejiwaan yang mengharap pujian, pembenaran, atau pengakuan secara masif (luas dan berlebih-an) atas perasaan, tindakan, prestasi, atau varian lainnya. Harapan yang berlebihan tanpa peduli pada kebenaran objektif (realita sebenarnya). Sifat surplus validasi tak peduli atas dampaknya yang merugikan orang lain (peradaban). Namun, sifat ini secara psikologis membuatnya rapuh ter-hadap kritik, "luluh" pada pujian, dan tak bisa menerima kenyataan jika ada orang lain lebih hebat (benar) dibanding dirinya.

 Baca Juga: Alda Callista, Miss Indonesia Pertama dari Tanah Papua, Berikut Profil dan Perjalanan Kariernya

Ketika kedua fenomena di atas terjadi se-cara bersamaan atau melekat pada diri —biasanya didukung media sosial atau ling-kungan yang terpolarisasi—, maka kehadir-an siklus psikologisnya begitu berbahaya. Sebab, defisit empati dan surplus validasi menggiring manusia hanya menuntut pembenaran atas dirinya (surplus validasi). Akibatnya, ia akan kehilangan kemampuan untuk memahami atau menghargai perasa-an orang lain (defisit empati).

 Kondisi ini diperparah oleh kehadiran "para penjilat" dan budaya media sosial yang begitu masif mempublikasikannya. Sebab, medsos meru-pakan algoritma peradaban yang memang dirancang memuaskan ego penggunanya.

Secara spesifik, defisit empati dan surplus validasi begitu nyata dalam kehidupan. Pe-ngembangannya antara lain :

Pertama, Defisit empati. Secara teoritis, defisit empati terjadi ketika seseorang tidak mampu atau tidak mau melihat me-nyelaraskan diri dengan emosi, kebutuhan, dan sudut pandang orang lain. Sifat ini memunculkan ego diri berlebihan tanpa peduli pada sesamanya.

Defisit empati terindikasi tatkala "hati mati rasa" atas perasaan dan derita orang lain, sulit mendengarkan nasihat, suka menghakimi, atau menyepelekan masalah orang lain dan tak perlu dipedulikan. Akibatnya, hilang keharmonisan, semakin dangkal hubungan antar pribadi, hilang rasa kepedulian sosial, dan semakin subur sikap mementingkan diri (ego-narsistik).

Untuk itu, Islam mengajarkan agar manusia berempati pada sesamanya. Dalam hal ini, Rasulullah ﷺ menjelaskan dalam sabdanya : "Perumpamaan orang-orang beriman dalam cinta, kasih sayang, dan kelembutan mereka layaknya tubuh. Bila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuhnya turut merasakan susah tidur dan demam." (HR. Bukhari dan Muslim).

Perumpamaan hadis di atas begitu jelas, tapi acapkali dinafikan. Mungkin hati manu-sia telah mati rasa (lumpuh) atau membatu.

Kedua, Surplus validasi. Surplus validasi adalah karakter manusia yang hanya menerima atau menuntut pengakuan dan pujian (sanjungan) secara berlebihan atas apa pun yang dilakukan atau dipikirkan. Si-fat ini membuatnya begitu ketergantungan pada komentar yang berisi pujian yang dialamatkan untuk menghargainya. Untuk itu, ia hanya menginginkan komentar yang berisi dukungan atas semua perilaku dan tindakannya (echo chamber). Sifat ini membuatnya merasa selalu --paling-- benar, rapuh terhadap kritik, dan tidak bisa menerima kenyataan jika ada orang lain yang berbeda pendapat atau lebih baik dari dirinya. Untuk itu, ia hanya peduli dan menghargai pada sosok pribadi atau komunitas yang memujinya. Sebaliknya, ia sangat membenci (dendam) pada pribadi atau komunitas yang berseberangan deng-an dirinya. Ruang ini membuat hadirnya "para penjilat" yang memanfaatkan kelemahan "manusia surplus validasi" untuk memperoleh apa yang diinginkan. 

Baca Juga: Menteri Kebudayaan Fadli Zon Lepas Arak-arakan HKN di LAMR

Kehadiran para penjilat membuat manusia surplus validasi semakin kehilangan "akal sehat". Ia terbuai semakin tinggi melampaui awan. Namun, ketika saatnya terjatuh, ia akan kehilangan "para penjilat" yang selama ini mengagungkannya. Ketika itu, ia bagaikan "sampah" yang tak lagi disentuh, bahkan oleh lalat sekalipun. 

Ketika seseorang mengalami defisit empati dan surplus validasi, mereka akan menjadi pribadi yang egosentris. Mereka merasa berhak mendapatkan perhatian dan pembenaran penuh dari lingkungan sekitarnya (surplus validasi), namun di saat yang sama, mereka menutup mata dan hati terhadap penderitaan atau hak-hak orang lain di sekitarnya (defisit empati).

Manusia yang defisit empati memiliki sifat ego yang begitu tinggi. Ketika ada tujuan penuh "pengharapan", kata dan janji manis terangkai melebihi manisnya madu. Silaturrahim begitu intens dilakukan dengan kepala "tertunduk" penuh harap. Bak pepatah Melayu "licin anak tangga" sampai tujuannya tercapai. Tapi, begitu harapan telah digapai, "berdebu anak tangga" tak pernah lagi dikunjungi dan putus silatur-rahim. Andai bersua, "kepala tegak dan membusungkan dada" melebihi kesombong-an Fir'aun. Seakan tak pernah menerima kebaikan dan pertolongan dari sesama.

Meski hati kecil "bergumam kebenaran", tapi nafsu keakuan menafikannya. Untuk itu, upaya validasi menjadi cara menampil-kan keberhasilan diri agar terlihat hebat tanpa bantuan. Kondisi psikologis manusia yang demikian dinyatakan Allah melalui firman-Nya : "Sekali-kali tidak !. Sungguh, manusia itu benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya sudah cukup" (QS. al-’Alaq : 6-7).

Menurut Wahbah Az-Zuhaili, ayat dinatas menjelaskan bahwa manusia cenderung menjadi sombong dan angkuh. Ia tertipu oleh ilusi bahwa kekayaan, kepintaran, kekuasaan, atau kedudukan merupakan hasil usaha sendiri dan membuatnya tak membutuhkan orang lain, bahkan bantuan Allah SWT. Mereka bagaikan sifat Qorun yang "lupa kacang akan kulitnya".

Merasa hebat tanpa pernah menerima bantuan atau melupakan kebaikan orang lain merupakan jebakan ego (ujub) yang mengeraskan hati. Sifat ini membuat manusia menafikan dan lupa pada takdir-nya sebagai makhluk sosial yang lemah dan selalu bergantung pada pencipta-Nya. 

Anehnya, sifat defisit empati dan surplus validasi hadir pada manusia cerdas secara intelektual dan memiliki status dalam kehidupan sosial. Tapi, manusia yang demikian tak merasa hilangnya rahmat dan keberkahan Allah dari dirinya. Untuk itu, Allah mengingatkan melalui firman-Nya : “Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa dan tidak berterima kasih.” (QS. Hud : 9).

Menurut Ibn Katsir, ayat di atas menjelas-kan tabiat dasar manusia yang kerap kali tidak stabil dalam menyikapi nikmat dan ujian dari Allah SWT. Ketika memperoleh nikmat, membuatnya lupa diri dan luput bersyukur (terimakasih). Tapi, begitu musibah menimpa, membuatnya goyah, putus asa, berburuk sangka, membangun opini negatif (fitnah), kehilangan iman dan lepas kendali layaknya hewan buas.

Baca Juga: Upaya Menjaga Warisan Hijau Kampar. Merawat Harapan bagi Keanekaragaman Hayati

Sungguh, peradaban akhir zaman sedang mengalami defisit empati dan surplus validasi. Kepedulian penuh kepentingan dan medsos dipenuhi ruang untuk meraih validasi. Bahkan, hal-hal sepele dan sege-lintirnya bersifat privasi ikut dipamerkan. Anehnya, "kuasa dan status" menjadikan semua yang dipamerkan mendapat pujian. Pujian dari komunitas toxic akan merusak akal sehat dan semakin jauh dari rahmat-Nya. Namun, manusia hanya peduli pada berbagai pujian dan "murka" bila disalah-kan. Sikap masa bodoh dikedepankan bak peribahasa"anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu". Meski begitu nyata kemung-karan dan kemunafikan dipertontonkan, lidah berkelit memutar alasan dan pamer kesalehan (validasi) untuk menutupi semua kesalahan. Padahal, perilaku yang demikian telah diingatkan oleh Rasulullah ﷺ dalam sabdanya: "Barangsiapa yang memper-dengarkan amalnya (sum'ah), maka Allah akan memperdengarkan (aibnya) kepada manusia. Dan barangsiapa yang memperlihatkan amalnya (riya), maka Allah akan memperlihatkan (aibnya) kepada manusia" (HR. Bukhari dan Muslim).

Meski Islam melarang umat agar menjauhi buruk sangka atas kebaikan sesamanya, apalagi "mempertontonkannya", tapi Allah Maha Tahu isi hati hamba-Nya yang fujur atau taqwa. Untuk itu, Islam memerintah-kan agar fokus menjaga ibadah dengan pondasi keikhlasan, bukan berharap pujian apalagi terselubung ruh kemunafikan. Secara logika terbalik, semakin kokoh budaya validasi dan kepentingan, maka semakin hilang empati pada diri dan kebenaran. Manusia yang mengedepankan validasi akan menyuburkan "keakuan" dan runtuhnya kepedulian (empati). Mereka bukan kurang ilmu dan tak mengerti hukum atau agama, tapi kehilangan "ruh kemanusiaan" dan iman dari diri dan kehidupannya, na'uzubillah. Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***

Prof Samsul Nizara adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis

 

 

 

 

Editor : Edwar Yaman
defisit surplus validasi empati