Persekongkolan Kucing dan Tikus

Redaksi • Dipublikasikan Senin, 2 November 2026 | 05:04 WIB
Samsul Nizar
Samsul Nizar

Oleh: Samsul Nizar

Dikisahkan, suatu desa berada di dataran subur sedang melakukan panen raya. Seluas mata memandang, terhampar sawah dengan kilauan padi yang menguning. Hasil padi yang melimpah membuat rakyat harus membuat lumbung padi yang besar. Agar padi yang tersimpan aman dari tikus, maka rapat warga sepakat "menyewa" seekor kucing untuk menjaga lumbung padi dari serangan gerombolan tikus.

Pada minggu pertama, si kucing begitu gesit melaksanakan tugasnya. Tak ada tikus yang berani mendekat lumbung padi. Pencitraan yang begitu prestisius. Hal ini membuat tikus bermusyawarah untuk mencari solusi menghadapi si kucing sang penjaga lumbung padi. Akhirnya, tikus sepakat mengutus "staf ahli" negara tikus untuk mendekati dan melakukan negosiasi yang bertaburan janji "surga" (hadiah) untuk sang kucing.

Keesokan malam, "staf ahli" tikus menemui si kucing penjaga lumbung padi. Dengan begitu santun, staf ahli tikus berkata "wahai tuan kucing yang gagah. Tahukah engkau, bila lumbung padi aman dan engkau bisa menangkap kami semua, maka engkau akan diberhentikan dan tak diperlukan lagi. Sebaiknya, beri kami kesempatan meng-ambil sedikit padi untuk kami makan.

 Baca Juga: Akulaku Capital Indonesia Terima Persetujuan OJK sebagai PIKK Nonoperasional Akulaku Group

Dengan demikian, engkau akan tetap bekerja dan sekaligus membuka "lapangan kerja" bagi kronimu (kucing) lainnya. Engkau tak perlu capek bekerja sendirian, tapi justeru terbantu oleh adanya timmu tersebut".

Saran staf ahli tikus yang begitu santun mampu meyakinkan si kucing. Malamnya, si kucing "mengendorkan" penjagaannya.

Beberapa ekor tikus berhasil masuk dan mencuri beberapa ikat padi. Paginya, si kucing melapor pada tuannya bahwa tadi malam ada beberapa ekor tikus menyusup masuk ke lumbung padi. Luasnya lumbung dan banyaknya padi memerlukan tambahan kucing untuk menjaga lumbung padi agar aman. Saran si kucing disetujui pemilik padi. Keesokannya, dilakukan "perekrutan" kucing penjaga lumbung padi dan kucing pertama diangkat sebagai koordinatornya.

Si kucing begitu senang dan tak lagi sendiri-an. Tugasnya hanya mengkoordinir kucing-kucing penjaga sesuai tupoksinya. Sementara, si koordinator hanya tidur, makan, dan menerima laporan.

Namun, ternyata kucing-kucing penjaga lainnya juga melakukan transaksi serupa dengan para tikus. Mereka bersama-sama melapor agar petani bisa menambah lagi kucing penjaga karena tikus semakin banyak mencuri padi. Si petani kembali membuka pendaftaran bagi kucing untuk menjaga lumbung padinya.

Dari sekian kucing yang direkrut pada tahap kedua, terdapat seekor kucing cerdas yang begitu amanah. Ketika ia melaksanakan tugasnya, ia tahu permainan para kucing senior penjaga lumbung padi. Ternyata, ada traksaksi licik antara kucing dan tikus. Keadaan ini membuatnya gerah dan melaporkan kejadian sebenarnya kepada pemilik lumbung padi. Namun, kejadian yang sebenarnya justeru "dibelokan" oleh kumpulan kucing lainnya.

Baca Juga: Moto3 Malaysia 2026: Begini Kata Veda Ega Pratama Usai Naik Podium Kedua di Sepang

Mereka berkata bahwa kucing cerdas (jujur) tersebut yang mencuri padi dalam jumlah yang besar. Karena mayoritas kucing bulat mengata-kan si kucing jujur sebagai dalang utama melakukan pencurian dan dinyatakan bersalah, membuat pemilik lumbung padi memukul dan mengusirnya. Kondisi ini membuat para kucing "khianat" merasa aman melaksanakan negosiasi dengan ai tikus. Bahkan, kucing-kucing tersebut sepakat membiarkan tikus mencuri di lumbung padi. 

Dalam ilmu psikologi, fenomena ini dikenal dengan istilah "normalisasi korupsi". Istilah ini bermakna suatu kondisi atau pandangan ketika tindakan korupsi, kolusi, gratifikasi, atau persekongkolan pengkhianatan lainnya tak lagi dianggap sebagai pelanggaran, melainkan diterima sebagai hal yang wajar (keniscayaan), lumrah, aji mumpung, atau bagian dari keseimbangan sosial. Akibat-nya, simpanan makanan di lumbung padi menjadi kosong dan habis tak bersisa. Sebab, kucing dan tikus rukun bekerjasama.

Sungguh, bila dianalisa secara seksama, timbunan beras di lubung padi habis dan kosong bukan karena banyaknya tikus, tapi banyaknya kucing yang menjaga, diberi makan, dan digaji oleh pemilik lumbung padi yang berkhianat. Sebab, para kucing membiarkan tikus begitu leluasa mencuri padi. Bahkan,  terkadang justeru kucing ikut menikmati hasil curian tersebut sesuai pembagian yang disepakati.

Namun hukum akhir zaman semakin aneh. Ketika seekor kucing mencuri, ia dituduh pelaku sebagai kejahatan. Tapi, bila semua kucing mencuri dan tercipta sistem maling kolektif justeru dianggap kewajaran dan di-legalkan. Dalam sistem yang begitu busuk, kehadiran seekor kucing yang jujur justru dianggap pengkhianat, salah, dan harus disingkirkan.

Kisah fiksi di atas menghadirkan beberapa pelajaran, antara lain :

Pertama, Kucing penjaga yang khianat dan serakah. Awalnya begitu tegar menjaga amanah dan bekerja sepenuh hati. Ia diberi kepercayaan, makan, gaji, dan fasilitas, tapi tak pernah disyukuri. Otak dan hatinya berubah haluan tatkala terbuka peluang melakukan pengkhianatan. Kisah ini berpotensi bisa terjadi pada manusia. Meski memiliki akal dan agama, tapi kontrol hati acapkali berubah.

Ketika berharap suatu hajat (keinginan), sumpah setia atas nama Allah begitu ringan diucap-kan. Namun, tatkala hajat telah sampai, wujud hati (karakter asli) akan terbuka lebar. Untuk itu, Islam menggunakan istilah hati dengan kata al-qalb (bolak balik). Hati manusia sangat mudah berubah-ubah dalam waktu singkat --pagi beriman, sore kufur-- akibat godaan dan penyakit hati. Hal ini diingatkan Rasulullah ﷺ  dalam sabdanya: “Perumpamaan hati itu seperti bulu yang berada di tanah lapang (padang pasir), yang dibolak-balikkan oleh angin” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Bila dicermati secara seksama, hadis di atas menjelaskan bahwa hati manusia sangat mudah berbolak-balik dan terpe-ngaruh oleh keadaan (godaan) di sekitarnya. Meski tampilan dan katanya begitu memukau dan kesantunan yang memukau (menghipnotis), tapi Allah Maha Tahu dan tak bisa ditipu (dihipnotis).

Baca Juga: Pengamat Politik: Kolaborasi Pertamina Jaga Distribusi BBM Wujud Tata Kelola Sumber Daya Strategis

Kedua, Kepiawaian tikus membujuk dan memperdaya kucing agar ikut menikmati "perselingkuhan" atas amanah yang diberi sang petani (pemilik lumbung padi). Sifat ini merupakan kepiawaian setan yang se-nantiasa memperdaya manusia agar me-lakukan kemungkaran. Untuk itu, Allah mengingatkan melalui firman-Nya : “Wahai manusia ! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu” (QS. al-Baqarah : 168).

Ketika makanan yang haram masuk dalam tubuh berwujud darah dan daging, maka iblis akan semakin mudah menyesatkan-nya. Hal ini diingatkan oleh Rasulullah ﷺ dalam sabdanya: “Sesungguhnya setan itu berjalan dalam tubuh anak Adam melalui aliran darah” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis di atas mengandung makna kiasan (majaz) atas kepiawaian setan membujuk manusia terus melakukan kemungkaran, ragu pada kebenaran, dan varian kelalaian lainnya. Kondisi ini dipermudah tatkala darah yang mengalir terisi oleh makanan atau minuman yang haram, baik sifat atau zatnya. Kecenderungan melakukan kemung-karan semakin tak terbendung tatkala ke-mungkaran menjadi kebiasaan dan dibela komunitas yang memiliki sifat serupa. Pem-belaan atas dasar "kepentingan", keinginan, atau mencari muka (perhatian). Namun, semua puji dan pembelaan akan sirna tatkala pelaku terperosok, jatuh, dan hina. Semua "lari" seakan tak pernah kenal atau mencari alibi agar selamat dari kehinaan.

Ketiga, Dalam dunia hewan, kucing dan tikus merupakan musuh bebuyutan. Meski tabiat keduanya tak bisa akur, tapi di dunia manusia, tamsilan keduanya justru begitu harmonis, bergandengan tangan, dan saling membantu. Keduanya terikat oleh tujuan "pemenuhan" nafsu keserakahan dan kepentingan yang sama. Kolaborasi ini diingatkan dalam firman-Nya: "Dan orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah (saling melindungi), niscaya akan terjadi kekacauan di bumi dan kerusakan yang besar" (QS. al-Anfal : 73).

Menurut Ibn Katsir, ayat di atas menjelas-kan potensi aliansi pelaku kemungkaran yang saling melindungi agar kejahatan yang dilakukan tersusun rapi dan dapat ditutupi. Meski awalnya mereka saling bermusuhan, tapi terikat tujuan bersama yang saling menguntungkan.

Keempat, Sosok jujur dan penjaga amanah acapkali dibenci, dikucilkan, dan disingkir-kan oleh persekongkolan (kongkalikong) kawanan pencuri dan "penikmat upeti". Sosok ini dinukilkan dalam sejarah nabi Luth AS. Ketika nabi Luth AS menentang kaumnya melakukan maksiat, para pelaku kejahatan justru mengusirnya dengan alasan yang direkayasa. Mereka khawatir bila kebusukannya terbuka luas. Hal ini dinukilkan dalam firman-Nya: "Maka tidak ada jawaban kaumnya selain mengatakan, 'usirlah Luth dan keluarganya dari negerimu ; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang (menganggap dirinya) suci" (QS. an-Naml : 56).

Menurut al-Qurthubi, ayat di atas menjelas-kan betapa sesatnya manusia. Menilai pe-laku kejahatan sebagai sosok mulia dan penuh kebajikan. Sebaliknya, memandang manusia yang jujur sebagai pihak yang salah, nista, dan patut disingkirkan. Sifat ini begitu kentara dalam kehidupan nyata. Un-tuk itu, Allah mengingatkan agar waspada terhadap manusia yang suka memutarbalik-an fakta. Kadangkala, sosok yang menyerukan kebaikan justru pelaku kerusakan (QS. al-Baqarah : 11-12). Sindiran sekaligus peringatan agar waspada terhadap sosok manusia berkarakter "mendua" (fasik). Meski begitu jelas ayat-Nya dan nyata "di pelupuk mata", tapi manusia acapkali tak mau peduli. Berwatak bak kucing dan tikus yang sepakat berdamai, melupakan dendam kesumat, dan permusuhan asal bisa saling menguntungkan. Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***

Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis

 

Editor : Edwar Yaman
negara tikus lumbung padi staf ahli kucing dan tikus