PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Karya sastra adalah gambaran dari peradaban manusia, baik masa kini maupun masa lalu, juga di masa depan. Karya sastra yang baik bisa mencerminkan kehidupan manusia meski itu hanya dunia rekaan. Meski begitu, karya sastra sangat penting bagi kehidupan manusia.
Hal itu dikatakan oleh sastrawan muda Riau, Redovan Jamil, ketika membedah cerpen-cerpen Alvi Puspita yang masih berbentuk naskah manuskrip. Cerpen-cerpen tersebut diuji terlebih dahulu dalam sebuah bedah karya untuk melihat kedalamannya dan memberi masukan sebelum nantinya dibukukan.
Kegiatan ini diselenggarakan bersama oleh Kelompok Diskusi Arengkaisme, Komunitas Paragraf, dan Mazhab Panam, di Warung 369, Simpang Tiga, Pekanbaru, Ahad (28/7/2024). Hadir beberapa sastrawan muda Riau seperti Andreas Mazland yang menjadi moderator, Romi Zarman, Windi Syahrian Djambak, Anton Widiyanto Putra, Siti Salmah, penulis jurnalisme perjalanan Fatris MF, sastrawan senior Olyrinson, serta Alvi Puspita sendiri.
"Saya melihat cerpen-cerpen Alvi bermakna sangat dalam, termasuk bagaimana dia memasukkan kritik-kritik yang halus terhadap kondisi politik saat ini. Saya sangat mengapresiasi apa yang ditulis Alvi sebagai satu dari sedikit penulis perempuan di Riau," jelas alumni Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra STKIP Sumbar tersebut.
Selain kritik terhadap kondisi politik, dalam lima cerpen Alvi yang dibahas tersebut, juga mengkritik dunia pendidikan, kebudayaan, dan banyak hal lainnya. Kata Redovan, hal itu wajar karena Alvi adalah seorang pendidik (dosen) yang memahami konsep-konsep pendidikan, kebudayaan, politik, dan yang lainnya yang dianggap belum pas dalam dunia nyata.
Novelis dan cerpenis Olyrinson berpendapat bahwa Alvi masih bisa mengembangkan dan menajamkan cerpen-cerpennya pada beberapa bagian jika ingin dibukukan. Menurut Oly, ada beberapa bagian dalam beberapa cerpen Alvi yang memang perlu penajaman dan analisis yang lebih mendalam.
"Saya percaya, Alvi punya potensi besar untuk mengembangkan cerpen-cerpennya menjadi lebih baik lagi berdasarkan masukan dari diskusi ini maupun dari tambahan bacaan dan riset-risetnya," jelas penulis beberapa novel termasuk Sinambella Dua Digit ini.
Hal yang sama juga disampaikan Anton Widiyanto Putra. Menurutnya, potensi besar pada cerpen-cerpen Alvi bisa dilihat pada tema dan cara Alvi dalam memasukkan unsur-unsur budaya tradisional, terutama budaya Kampar.
"Tema-tema budaya lokal bisa menjadi kekuatan yang baik jika dikelola dan digarap dengan serius dan mendalam," ujar lelaki yang lama berkarya di Solo, Yogyakarta, dan Kalimantan Selatan ini.Baca Juga: Tetap Kekinian dan Sat Set Beraktivitas Menembus Kemacetan Pekanbaru Pakai Fazzio, Simak Fitur Lengkap Produk Yamaha Nan Fashionable dan Stylish Ini
Pada bagian lain, Siti Salmah menyambut baik kerja-kerja budaya yang dilakukan beberapa kelompok atau komunitas sastra di Riau seperti Arengakaisme, Paragraf, dan Mazhab Panam, termasuk melakukan diskusi bedah karya seperti ini.
"Diskusi seperti ini sangat bagus dijadikan agenda tetap, misalnya bulanan, dan dibuat secara bergiliran di beberapa komunitas sastra yang ada," ujar pendiri Salmah Publishing ini.
Alvi sendiri mengucapkan terima kasih atas pembahasan kritis yang dilakukan Redovan dan seluruh peserta diskusi atas cerpen-cerpennya. Dia akan menerima masukan-masukan tersebut dengan melakukan banyak perbaikan sebelum nanti dibukukan menjadi kumpulan cerpen.
"Terima kasih atas semua masukannya. Ini sangat bergizi bagi saya," ujar akademisi di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Lancang Kuning tersebut.
Adapun lima cerpen dibahas adalah "Kalelek", "Anak Laki-Laki di Bawah Pohon Kamboja", "Dia dan Istrinya di Sepertiga Malam", "Pabrik Tikus Siap Saji", dan "Dan Anak Kucing dan Mesin Jahit". Ditambah beberapa cerpen lagi, kata Alvi, cerpen-cerpen tersebut sedang dalam tahap untuk diterbitkan menjadi buku.
Laporan: Hary B Koriun
Editor : RP Edwar Yaman