PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Balairung Tenas Effendi Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) menjadi saksi sejarah pada Rabu (15/4), saat buku berjudul “Jalan Hidup Anak Pujud” resmi diluncurkan. Acara peluncuran buku autobiografi Brigadir Jenderal TNI (Purn) H Saleh Djasit SH ini berlangsung khidmat dengan balutan tradisi Melayu yang sangat kental.
Prosesi diawali dengan tepuk tepung tawar sebagai bentuk syukur dan doa keberkahan yang dilakukan oleh Ketua Majelis Kerapatan Adat (MKA) LAM Riau, Datuk Seri H Raja Marjohan Yusuf, bersama Ketua Dewan Pimpinan Harian (DPH) LAM Riau, Datuk Seri Taufik Ikram Jamil. Puncak acara ditandai dengan penandatanganan sampul buku oleh sejumlah tokoh penting Riau, yang merupakan gubernur dan wakil gubernur di masanya, di antaranya H Syamsuar, H Arsyadjuliandi Rachman, H Wan Thamrin Hasyim, H Mambang Mit, dan H Wan Abu Bakar. Turut membubuhkan tanda tangan anggota DPR RI Hendry Munief, tokoh pendiri LAM Riau OK Nizami Jamil, serta sejumlah tokoh lainnya.
Kontemplasi 18 Tahun
Saleh Djasit dalam sambutannya mengungkapkan bahwa buku ini merupakan hasil kontemplasi mendalam yang disusun selama 18 tahun, dimulai sejak 2008 dan baru tuntas pada 2026. Dia berharap karya ini menjadi warisan berharga bagi generasi muda untuk memahami arti sebuah perjuangan.
Baca Juga: Dibuka Resmi! Lab Indonesia 2026 Hadirkan "Laboratoriaum Raksasa" Interakktif dengan 900+ Inovasi
“Semuanya dilalui dengan kerja keras. Saya mulai sekolah dasar pada umur 11 tahun karena di kampung saat itu tidak ada sekolah. Untuk bersekolah SMP ke Sedinginan saja harus naik kapal seharian. Bahkan diiringi azan agar selamat sampai tujuan,” kenang Saleh Djasit.
Ia juga menceritakan dinamika masa mudanya saat merantau ke Padang untuk sekolah SMA hingga rencana kuliah di Bandung yang sempat terkendala. Termasuk kisah saat ia harus menjual celana kawannya demi bertahan hidup di masa awal pendidikan militer. Namun, ketekunan membawanya menapaki pengabdian sebagai Bupati Kampar dua periode, Gubernur Riau, hingga anggota DPR RI, seiring dengan karier militer cemerlang dengan pangkat terakhir brigadir jenderal.
Guru bagi Pejabat Riau
Apresiasi mendalam juga datang dari Pemerintah Provinsi Riau melalui Sekdaprov Riau, Syahrial Abdi. Hadir mewakili Plt Gubernur Riau, Syahrial mengenang Saleh sebagai sosok pemimpin yang lebih suka mendengar daripada bicara dan menjadi guru bagi banyak pejabat di Riau.
Baca Juga: Gencarkan Razia Pemberantasan Narkoba
Ia menceritakan sisi disiplin sang jenderal yang dikenal santun namun tegas, yang mana salah satu cirinya adalah telinga yang memerah atau penggunaan kata sapaan tertentu saat memberikan atensi serius. “Beliau jarang marah. Tapi kalau sudah menyebut Anda atau telinganya memerah, itu tandanya beliau marah,” ujar Syahrial Abdi.
Ketua MKA LAM Riau, Datuk Seri H Raja Marjohan Yusuf, dalam petuah amanahnya menyampaikan bahwa buku ini bukan sekadar catatan riwayat hidup, melainkan sebuah perenungan mendalam. Baginya, membaca karya ini ibarat berdiri di depan cermin karena ditulis dengan jujur apa adanya, merangkum segala suka maupun duka.
Sebagai sosok yang pernah menjabat Kepala Biro Organisasi saat Saleh Djasit menjabat Gubernur, Datuk Seri Raja Marjohan bersaksi bahwa sang jenderal telah menancapkan tiang pancang pembangunan Riau yang kokoh di masa awal reformasi.
Ia menekankan bahwa buku ini harus menjadi pelajaran bagi anak cucu agar jejak perjuangan tidak hilang, sekaligus membuktikan bahwa segala pencapaian harus diperjuangkan dengan semangat dan keikhlasan.
Senada dengan itu, Ketua DPH LAM Riau, Datuk Seri Taufik Ikram Jamil, berharap langkah Saleh Djasit dalam membukukan perjalanan hidupnya dapat menjadi tradisi baru bagi tokoh-tokoh Riau lainnya. Mengingat tradisi literasi telah mengakar kuat di Riau sejak masa lampau, LAM Riau sangat mendukung agar tradisi menulis buku ini terus diteruskan.
Terkait prosesi adat yang dilakukan, Datuk Seri Taufik menjelaskan bahwa tradisi tepuk tepung tawar terhadap buku ini bertujuan agar karya tersebut menjadi berkah. Menurutnya, sejak dulu adat Melayu senantiasa menyambut sesuatu yang baru dengan tepung tawar, sebagai bentuk doa dan penghormatan, termasuk pada peluncuran buku monumental ini.
Makhluk Futuristik hingga Kisah Inspiratif
Dalam sesi diskusi yang dipandu moderator Prof Dr Firdaus, dibahas mengenai pengaruh besar kepemimpinan Saleh Djasit. Ketua Umum MUI Riau, Dr Saidul Amin, menyebut Saleh sebagai pemimpin yang futuristik karena telah merumuskan Visi Riau 2020 dan memikirkan konektivitas wilayah melalui Riau Airlines (RAL) jauh sebelum masanya.
Saidul Amin bahkan menyebut Saleh Djasit sebagai makhluk futuristik dalam paparannya. Baginya, Saleh memahami bahwa tanpa visi, kepemimpinan tidak memiliki arah yang jelas. Senada dengan itu, Prof Nazir Karim menekankan bahwa Saleh Djasit adalah peletak dasar pembangunan Riau yang kokoh di masa transisi reformasi.
Sisi lain kehidupan sang jenderal diulas secara emosional oleh Rektor Unilak, Prof Dr Junaidi. Selain membacakan puisi, ia membedah novel berjudul Ayah Keduaku karya Muhammad Amin, salah seorang editor buku ini yang merupakan penerima Anugerah Sagang 2013.
Novel ini terinspirasi dari kisah hidup Saleh Djasit. Prof Junaidi memaparkan bagaimana novel tersebut memotret visi besar seorang ayah bernama Djasit atau Kholifah Kholid yang berkorban demi pendidikan anaknya agar anak yang lain sukses.
“Novel ini memotret visi besar seorang ayah bernama Djasit yang terpaksa mengorbankan pendidikan salah satu anaknya agar anak yang lain sukses. Saleh Djasit akhirnya sukses dan menjadi sosok ‘ayah’ bagi keluarga besar dan masyarakat Riau,” ungkap Prof Junaidi.
Ia menekankan bahwa kesuksesan Saleh Djasit tidak lahir begitu saja, melainkan berakar dari pengorbanan keluarga yang luar biasa, sehingga nilai-nilai kekeluargaan Melayu menjadi ruh di balik pencapaian beliau.
Di sisi lain, Prof Dr Irwan Efendi menekankan pentingnya mentransformasikan nilai-nilai perjuangan Saleh Djasit ke dalam format yang lebih relevan dengan zaman. Ia berpendapat bahwa keteladanan Saleh Djasit jangan sampai berhenti di rak buku saja. Prof Irwan mendorong agar sari pati kejujuran dan keikhlasan sang jenderal dikemas secara sederhana melalui platform kekinian seperti media sosial agar bisa menjangkau generasi muda.
Hal ini bertujuan agar pesan moral dan integritas beliau tetap hidup dan relevan bagi generasi mendatang, sehingga jejak langkah sang jenderal tidak lekang oleh panas dan tidak lapuk oleh hujan.(sol)
Editor : Arif Oktafian