DUMAI (RIAUPOS.CO) - Warga Tionghoa yang ada di beberapa daerah termasuk di wilayah Kota Dumai, RIAU sudah berbenah dan bersiap untuk menghadapi dan merayakan Imlek yang tahun ini merupakan shio ular.
Termasuk melengkapinya semua peralatan yang bakal dipergunakan untuk kegiatan ritual pada hari pertama Imlek nanti.
Ketika fajar menyingsing, satu unit sepeda motor yang dikendarai Hasan (55) berhenti di depan gapura Pasar Tradisional Bunda Sri Mersing di Jalan Sultan Hasanuddin, Kelurahan Rimba Sekampung, Kecamatan Dumai Kota.
Isterinya bernama Ayu (50) turun dari motor dan menganyunkan langkahnya bergegas masuk ke dalam pasar tradisional Bunda Sri Mersing.
''Biasalah Pak. Tak lama lagi kan mau Imlek. Kami ke pasar mau beli barang-barang buat keperluan perayaan Imlek nanti,'' kata Hasan sambil mendorong motornya untuk mencari tempat parkiran kendaraan.
Perayaan Imlek pada shio ular ini, tampaknya bakal sama seperti yang telah dilakukan sebelumnya.
Pada hari pertama kegiatannya ditandai dengan melakukan ritual yang dilakukan oleh seluruh keluarga.
''Untuk ritual ini, biasanya dilakukan di rumah. Tapi ada juga yang dilaksanakan di kelenteng-kelenteng,'' kata Hasan seraya menambahkan peralatan ritual harus disiapkan.
Tak lama berselang, Ayu keluar dari dalam pasar tradisional Bunda Sri Mersing sambil membawa dua batang tebu manis.
Tebu yang dibelinya tersebut memiliki panjang sekitar satu meter setengah dan masih utuh.
Tebu tersebut memiliki daun dan akar sedikit. Selain tebu, Ayu juga menenteng empat butir buah nanas.
''Tebu dan nanas ini, setiap kali ada perayaan Imlek, selalu ada,'' kata Ayu sembari menata tebu dan nanas di sepeda motor yang sudah diduduki Hasan.
Harga untuk sepasang batang tebu ini berkisar antara Rp 25 ribu hingga Rp 30 ribu. Sedangkan untuk nanas, harganya berkisar antara Rp 8 ribu hingga Rp 10 ribu.
''Sepasang tebu ini nanti dipasang di rumah,'' kata Hasan seraya menambahkan sedang nanas biasa ditempatkan di meja altar.
Pemasangan dua batang tebu lengkap dengan daunnya itu memiliki makna keluarga yang merupakan sebuah rumpun atau satu kesatuan. Gilirannya dalam keluarga rasa kebersamaan harus senantiasa dijaga.
Selain itu, Kehadiran tebu dalam perayaan Imlek menyiratkan makna kebaikan dan cinta kasih manusia harus terus tumbuh dari kecil sampai dewasa. Selayaknya buah tebu yang semakin tua semakin manis.
Sedangkan nanas, dalam perayaan Imlek melambangkan kekayaan dan keberuntungan. Nanas yang biasanya disiapkan sebanyak dua buah tersebut biasanya diletakan di rumah.
''Dalam perayaan Imlek, tebu dan nanas serta buah lainnya jangan sampai tidak ada,'' kata Hasan seraya menyalakan motornya dan terus bergerak meninggalkan pasar tradisional Bunda Sri Mersing. (sah)
Editor : M. Erizal