Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Kejari Dumai Nyatakan Perang dan Lawan TPPO

Abu Kasim • Rabu, 3 Desember 2025 | 11:30 WIB
Jaksa Bidang Intelijen Kejari Kota Dumai Randi Ahyad Sarwandi SH MH (tengah) dan Tabah Santoso SH MH berdialog di Riau Televisi (RTv) dalam siaran Jaksa Menjawab dari Kejari Dumai.
Jaksa Bidang Intelijen Kejari Kota Dumai Randi Ahyad Sarwandi SH MH (tengah) dan Tabah Santoso SH MH berdialog di Riau Televisi (RTv) dalam siaran Jaksa Menjawab dari Kejari Dumai.

 

DUMAI (RIAUPOS .CO) - Di Kota Pelabuhan yang sibuk oleh kapal-kapal yang datang dan pergi, ada kisah-kisah yang berjalan lirih. Kisah tentang seseorang yang berangkat membawa doa dari rumah kecilnya. Doa tentang rezeki yang lebih lapang, tentang keluarga yang ingin dibahagiakan.

Seperti itulah kisah pejuang Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang berangkat ke luar negeri secara ilegal. Tetapi tak semua jalan menuju harapan itu lurus dan mulus. Sebagian disamarkan oleh janji-janji manis yang ternyata berujung pada kehilangan. Menempa nasih di negari orang demi keluarga, melalui jalan ilegal yang berujung sangat merugikan.

Ini disampaikan dua jaksa Bidang Intelijen, Randi Ahyad Sarwandi SH MH dan Tabah Santoso SH MH dalam dialog di Riau Televisi (RTv) dalam siaran Jaksa Menjawab dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Dumai yang berlangsung beberapa hari lalu di studio RTv di Pekanbaru.

Randi Ahyad Sarwandi menyebutkan, dengan tutur yang teduh namun tegas, mereka membuka mata, bahwa Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) bukan lagi kejahatan yang datang mengetuk pintu. Namun mereka menyelinap melalui layar ponsel, menyamar sebagai kesempatan, dan berbisik di antara percakapan-percakapan digital yang tampak tak berbahaya.

Ia mengingatkan, banyak korban yang melangkah dengan niat suci untuk membahagiakan keluarga, namun tanpa sadar memasuki lorong yang tak mereka pahami. Gaji besar yang dijanjikan tanpa alasan, keberangkatan yang diminta terburu-buru, atau ajakan menyerahkan paspor adalah tanda-tanda yang sering dianggap angin berlalu.

"Ya, ketika akhirnya mereka kembali, yang pulang bukan hanya tubuh yang lelah, tetapi hati yang membawa cerita yang belum sempat dirapikan," ucapnya.

Dari ruang dialog RTv itu, mengalirlah pembahasan tentang pencegahan yang terus dijalankan Kejaksaan Negeri Dumai. Pencegahan yang tidak hanya berhenti di spanduk dan seruan, tetapi hadir lewat penerangan hukum di tingkat kecamatan, penyuluhan di sekolah dan kampus, Program Jaksa Masuk Sekolah, dan tentu program Jaksa Menyapa serta Jaksa Menjawab, yang menjadikan hukum lebih dekat dengan manusia.

Lewat frekuensi radio dan gelombang televisi, hukum tidak lagi terasa jauh, ia duduk di ruang tamu masyarakat, berbicara dengan bahasa yang bersahabat, dan mengetuk pintu kesadaran pelan-pelan.

Kejaksaan pun memilih untuk berada di tepi-tepi yang rawan. Di Posko Kejaksaan di Pelabuhan Penumpang Dumai, petugas hadir sebagai penjaga senyap memberi edukasi, mengingatkan, dan memastikan bahwa langkah-langkah masyarakat tidak bertemu dengan bahaya yang tersembunyi.

"Pelabuhan dan pesisir bukan hanya tempat keberangkatan para PMI ilegal yang menyamar sebagai pelancong, tetapi tempat berjaga agar sebuah mimpi tidak berubah menjadi bujur sangkar yang menjerat.

Baca Juga: Jack Grealish Bawa Everton Raih Kemenangan di Kandang Burnley

Namun para narasumber juga mengingatkan, ketika pencegahan tak lagi cukup, ketegasan penindakan harus menjadi pagar terakhir. Maka Kejaksaan Negeri Dumai, dengan kewenangan menuntut, menggunakan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan TPPO sebagai pedoman untuk menghadirkan keadilan.

"Dari pasal tentang perekrutan, pengangkutan, hingga berbagai bentuk eksploitasi, Kejaksaan memastikan bahwa pelaku dituntut tanpa ragu dan tanpa celah.
Sebab di kota ini, martabat manusia bukan benda yang bisa diperdagangkan," jelas Randi.

Di pengujung dialog, ada satu kalimat yang menggema dan meresap seperti senja yang turun perlahan,

“Perang melawan TPPO bukan hanya tentang menghukum. Ini tentang menjaga agar tidak ada lagi masa depan yang patah oleh sebuah janji yang palsu.”

"Ini menjadi pengingat halus bagi kita semua, bahwa perlindungan tidak selalu dimulai dari sirene atau laporan besar, tetapi dari percakapan dalam keluarga, dari langkah yang lebih hati-hati, dan dari keberanian sederhana untuk bertanya. Apakah ini aman?" ucap Randi sang narasumber.

Menurutnya, terkadang satu kehati-hatian kecil dari masyarakat, dapat menjadi terang yang menyelamatkan seseorang dari gelapnya jerat perdagangan manusia.(ksm)

 

Editor : Edwar Yaman
#pekerja migran indonesia #kejari dumai