DUMAI (RIAUPOS.CO) - Di sebuah sudut kelas di SDN 008 Lubuk Gaung, Kota Dumai, anak-anak tampak antusias membaca buku cerita bergambar. Namun, buku itu bukan terbitan toko buku besar atau karya penulis terkenal. Tokoh utama dalam cerita itu adalah diri mereka sendiri. Ada yang menjadi dokter, guru, polisi, hingga atlet. Ceritanya pun lahir dari imajinasi dan pengalaman mereka sendiri, lalu dibantu disusun menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Inovasi sederhana namun berdampak itu digagas oleh Siti Nurleli SPd, seorang guru ASN di SDN 008 Lubuk Gaung, Dumai, Provinsi Riau. Perempuan kelahiran Selatpanjang, 4 Agustus 1979 itu telah mengabdikan dirinya di dunia pendidikan sejak tahun 2000.
Kariernya dimulai sebagai guru honor di MI Nurul Islam pada 2000–2003. Setelah itu, ia menjadi Guru Bantu Pusat di SDN 008 Lubuk Gaung pada 2003–2006, hingga akhirnya diangkat menjadi guru ASN pada tahun 2006 dan terus mengajar hingga sekarang.
Baca Juga: Takut pada Kecoak hingga Menjadi buku: Cara Bu Leli Menumbuhkan Literasi Anak lewat AI
Bagi wanita yang kerap disapa Bule ini, tantangan terbesar pendidikan hari ini bukan sekadar membuat anak mampu membaca, tetapi membangun kebiasaan memahami isi bacaan. “Literasi itu bukan hanya membaca, tetapi memahami,” ujarnya.
Ia mengaku prihatin karena masih menemukan siswa kelas tiga yang belum lancar membaca. Selain itu, minat baca anak-anak juga kerap rendah karena bahan bacaan terbatas dan metode pembelajaran yang kurang menarik. “Anak-anak cepat bosan. Buku yang tersedia juga terbatas,” katanya.
Keresahan itu membuatnya terus mencari cara agar literasi terasa dekat dan menyenangkan bagi siswa. Hingga suatu hari, ia menemukan video singkat di Facebook Reels tentang pembuatan storybook menggunakan Gemini AI.
Baca Juga: Dua Personel Polres Dumai Dipecat Tidak Dengan Hormat
Ide itu kemudian ia mencoba terlebih dahulu kepada anaknya sendiri, Nayla, yang memiliki ketakutan terhadap kecoak. Ia membuat cerita sederhana dengan Nayla sebagai tokoh utama yang berhasil menghadapi rasa takutnya. Hasilnya di luar dugaan. Nayla justru bersemangat membaca cerita tentang dirinya sendiri.
“Karena tokohnya dirinya sendiri, dia jadi tertarik membaca berulang kali,” kenangnya.
Dari pengalaman itu, Siti Nurleli mulai menerapkan metode serupa di kelas. Ia mengajak siswa membuat buku cerita digital menggunakan fitur storybook di Gemini AI dengan tokoh utama diri mereka sendiri.
Kegiatan tersebut dilakukan secara bertahap. Pertama, ia menjelaskan kepada siswa tentang AI dan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari. Setelah itu, siswa dikenalkan pentingnya membuat prompt atau perintah yang jelas agar AI dapat menghasilkan cerita sesuai keinginan mereka.
Anak-anak diminta memikirkan cerita yang mereka inginkan sendiri—mulai dari alur cerita, cita-cita, pekerjaan impian, hingga tokoh utama yang menggunakan nama mereka sendiri.
Setelah itu, siswa menuliskan prompt ke dalam Gemini AI pada fitur storybook. Dalam waktu singkat, cerita bergambar pun muncul sesuai imajinasi mereka. Suasana kelas berubah menjadi lebih hidup.
Anak-anak tampak antusias melihat hasil cerita mereka sendiri. Bahkan, mereka bergantian maju ke depan kelas untuk menunjukkan dan membacakan cerita masing-masing.
“Anak-anak jadi senang membaca karena mereka merasa memiliki cerita itu,” ujarnya.(ali)
Editor : Arif Oktafian