PEKANBARU dan JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Kasus dugaan keracunan menu makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terjadi di Dumai, Kamis (13/8). Berdasarkan data dari kepolisian, sebanyak 45 murid di Sekolah Dasar mengalami sakit perut dan mual-mual usai menyantap makanan yang disalurkan melalui dapur pelaksana program MBG di Kelurahan Buluh Kasap, Kecamatan Dumai Timur.
Dari jumlah tersebut, 43 merupakan murid SDN 013 Jalan Hangtuah dan dua lagi merupakan murid SD Negeri 015 Laborhausing. Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Wilayah Riau, Kepri dan Sumbar dr Syartiwidya mengatakan, pihaknya masih melakukan penyelidikan terkait kejadian ini. “Masih kami perdalam penyebabnya apa,” katanya.
Pihaknya juga akan memberikan tindakan tegas kepada SPPG jika terbukti lalai dalam peristiwa ini. “SPPG-nya akan diberi sanksi ditindak tegas,” tambahnya.
Baca Juga: Kasus Keracunan MBG di Dumai, SPPG Ditindak Tegas
Sementara itu, Lurah Buluh Kasap, Suyono yang dikonfirmasi Dumai Pos (RPG) mengatakan, hingga pukul 15.00 WIB sesuai laporan yang diterima, jumlah korban terdampak keracunan dari MBG sebanyak 38 anak. Jumlah tersebut bisa saja bertambah atau menyusul.
“Bisa saja jumlah korban bertambah, karena kekuatan dan kekebalan tubuh anak-anak berbeda-beda. Bisa saja sore atau malam nanti (kemarin, red) mulai terasa,” ujar Suyono, yang mengaku masih berada di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Suhatman Dumai.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Riau Pos, pasokan menu MBG tiba di SDN 013 Dumai, sekitar pukul 08.00 WIB. Sesuai prosedur pendaftaran dan penerimaan, penanggung jawab (Person in Charge/PIC) sekolah bernama Atmawirawan, langsung melakukan pemeriksaan awal terhadap kemasan serta sampel makanan.
Baca Juga: Usai Menyantap MBG, Puluhan Murid Kelas 6 di Dumai Mengeluh Sakit Perut hingga Diare
“Prosedur penerimaan MBG ada beberapa guru yang ditunjuk untuk menerima, termasuk saya salah satu yang bertugas sebagai PIC untuk melihat makanan yang datang, dan mencium,” kata Atmawirawan saat dikonfirmasi Riau Pos, Kamis (18/8) malam.
Ia menjelaskan bahwa pada pemeriksaan awal pukul 08.00 WIB, kondisi fisik makanan secara visual bersih dan tidak menunjukkan tanda-tanda mencurigakan.
Sekitar pukul 08.30 WIB, makanan mulai dibagikan kepada siswa, dan kemudian dikonsumsi oleh para siswa pada pukul 09.00 WIB. Adapun menu MBG yang dibagikan hari saat itu terdiri dari nasi putih, bakso goreng bersambal, tempe goreng, tumis labu siam dan wortel, serta buah jeruk.
Sekitar 30 menit hingga satu jam pasca mengonsumsi makanan tersebut, atau sekitar pukul 10.00 WIB, sejumlah siswa mulai mengeluhkan rasa sakit pada bagian perut.
Baca Juga: Tercatat 38 Siswa dari Dua SD di Dumai Keracunan MBG, Korban Bisa Saja Bertambah
“Siswa seperti biasa makan makanan tersebut. Namun selang beberapa menit, sekitar 30 menit setelah makan, awalnya siswa mengeluhkan sakit perut sebanyak 11 orang, dan kemudian bertambah sehingga total siswa yang mengeluhkan masalah kesehatan sebanyak 40 orang,’’ jelas Atmawirawan.
Selain mengeluhkan sakit perut, mual, dan muntah, beberapa siswa juga merasakan mengalami diare. Pada waktu yang bersamaan sekitar pukul 10.00 WIB, dua ompreng sisa makanan yang belum dibagikan saat diperiksa, mulai mengeluarkan aroma tidak sedap.
“Makanan saat datang terlihat bersih dan secara visual tidak ada bentuk yang mencurigakan. Setelah banyak siswa mengeluhkan sakit perut, saya memerika dua ompreng makanan lagi yang belum dibagikan dan kemudian terasa aroma bau,” tambahnya.
Atmawirawan menyebutkan bahwa menu yang disajikan sekolah sebenarnya selalu bervariasi. Pekan sebelumnya, pihak sekolah juga menerima menu olahan bakso namun tidak menimbulkan permasalahan kesehatan pada siswa.
“Untuk menu di sekolah tersebut memang diberikan secara variatif atau berganti-ganti, untuk hari ini bakso goreng yang dikasih sambal. Minggu lalu ada menu bakso juga namun bakso besar dan alhamdulillah tidak terjadi apa-apa,” tuturnya.
Selanjutnya pihak sekolah segera menghubungi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk melakukan tindakan awal. Sebelum dirujuk ke rumah sakit, para siswa sempat dipindahkan ke ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS) untuk diistirahatkan, diolesi minyak kayu putih, serta diberi minum susu putih untuk menetralkan rasa sakit.
“Sebelum siswa dibawa ke rumah sakit, pihak SPPG sudah datang dan diberikan penanganan awal untuk dibaringkan di UKS sekolah dan diberikan minyak kayu putih serta susu putih agar dapat menetralisir sakit perut,” jelas Atmawirawan.
Baca Juga: Diduga Terlilit Pinjaman, Pemuda di Dumai Ditemukan Tewas Tergantung
Namun, karena keluhan sakit perut dan mual tidak kunjung mereda, pihak sekolah dan petugas mendampingi para siswa menuju RSUD dr Suhatman Kota Dumai guna mendapatkan pertolongan medis lanjutan. “Para siswa sekitar pukul 16.00 WIB (kemarin, red) sudah tuntas semua pulang ke rumah masing-masing, tersisa satu siswa yang masih dirawat,” ujar Atmawirawan.
Dikutip dari mediacenter.riau.go.id, Kasi Humas Polres Dumai AKP Zaini Waluyo justru menjelaskan, dari laporan awal, sebanyak 43 siswa SDN 013 dan 2 siswa SDN 015 mengalami gejala sakit perut dan mual-mual. “Korban dari SDN 013 sebanyak 43 orang dan dari SDN 015 sebanyak dua orang. Seluruh korban telah mendapat penanganan medis di RSUD dr Suhatman Kota Dumai,” ujarnya.
Peristiwa berawal ketika makanan MBG tiba di SDN 013 sekitar pukul 08.00 WIB. Menu yang dibagikan terdiri dari nasi putih, bakso orek, tempe goreng, tumis labu siam dan wortel, serta buah jeruk. Pihak sekolah kemudian melakukan pemeriksaan awal terhadap makanan sebelum dibagikan kepada murid.
Baca Juga: Cendana dan SMAN 1 Dumai Menang Meyakinkan
Sekitar pukul 09.00 WIB, makanan mulai dikonsumsi para murid. “Sekitar pukul 10.00 WIB, sejumlah murid mulai mengalami mual dan muntah. Pihak sekolah kemudian menghubungi SPPG yang menyalurkan makanan tersebut,” katanya.
Sekitar pukul 10.15 WIB, tiga orang perwakilan SPPG tiba di sekolah. Mereka melakukan pengecekan terhadap kondisi siswa dan meminta makanan MBG yang telah didistribusikan segera ditarik. Tak lama kemudian, ambulans Pemerintah Kota (Pemko) Dumai datang secara bergantian untuk membawa siswa yang mengalami keluhan ke rumah sakit.
Selanjutnya, pihak kepolisian bersama Dinas Kesehatan (Diskes) Kota Dumai melakukan pemeriksaan di sejumlah lokasi, termasuk SDN 013, SDN 015, dan dapur SPPG Yayasan Mahudun Untuk Negeri. Dari keterangan awal petugas Dinas Kesehatan, kondisi dapur SPPG ditemukan dalam keadaan basah dan disebut belum memiliki pengontrol suhu panas.
Kondisi tersebut diduga dapat memengaruhi kualitas makanan dan mempercepat pertumbuhan mikroorganisme. “Namun, penyebab pasti dugaan keracunan masih menunggu hasil pemeriksaan dan uji laboratorium terhadap sampel makanan maupun air,” terangnya.
Baca Juga: Riau Pos-HSBL 2026 Seri Dumai Dibuka Meriah, HLK Green Arena Penuh
Juru masak SPPG kepada petugas menerangkan proses memasak dimulai sekitar pukul 00.00 WIB. Setelah selesai dimasak, makanan terlebih dahulu dicicipi dan saat itu disebut tidak ditemukan bau tidak sedap. Makanan kemudian dikemas dalam kondisi dingin sekitar pukul 04.00 WIB.
Saat proses pengemasan berikutnya sekitar pukul 08.30 WIB, petugas packing disebut menemukan bau menyengat dari masakan bakso. Temuan itu kemudian dilaporkan kepada ahli gizi dan juru masak.
Setelah mencicipi makanan tersebut, juru masak menyatakan bakso orek tidak layak dikonsumsi dan meminta dilakukan penarikan makanan yang telah didistribusikan. Namun, sebelum penarikan dilakukan, sebagian makanan sudah dikonsumsi siswa SDN 013 dan SDN 015.
Makanan dari SPPG Yayasan Mahudun Untuk Negeri di Jalan Gajah Mada, Kelurahan Buluh Kasap, Kecamatan Dumai Timur, tersebut sedianya didistribusikan untuk 3.199 penerima manfaat. Selain SDN 013 dan SDN 015, distribusi juga menyasar sejumlah sekolah dan posyandu.
Baca Juga: Dorong UMKM Naik Kelas dan Ciptakan Lapangan Kerja
“Dalam laporan kepolisian disebutkan makanan untuk Yayasan Al-Huda sebanyak 107 porsi dan SLB Negeri Dumai sebanyak 133 porsi tidak diterima karena disebut sudah berbau atau basi,” ungkapnya.
Makanan yang sempat disalurkan ke SDN 017 dengan 248 penerima manfaat juga langsung ditarik kembali. Sementara makanan untuk SMPN 23 sebanyak 479 porsi, SMPN 2 sebanyak 1.067 porsi, serta Posyandu Buluh Kasap sebanyak 338 porsi belum disalurkan.
Polisi telah mengamankan sejumlah sampel makanan dari sisa makanan yang dikonsumsi siswa maupun sampel makanan dari dapur SPPG. Dinas Kesehatan Kota Dumai juga mengambil sampel makanan dan air dari dapur SPPG untuk pemeriksaan lebih lanjut. “Satreskrim Polres Dumai mengamankan barang bukti berupa sampel makanan untuk dilakukan penyelidikan lebih lanjut,” ujar Zaini.
Polisi masih melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab dugaan keracunan tersebut. Perkembangan kondisi para siswa yang menjalani perawatan di RSUD dr Suhatman Kota Dumai juga terus dipantau.
Sementara itu, dikutip dari RiauGreen.com, kemarin, Koordinator Legal dan Humas Yayasan Mahuddun Untuk Negeri, Yonfen Hendri menjelaskan, pihaknya hingga kini belum dapat memastikan makanan yang disajikan menjadi penyebab keracunan, karena masih menunggu hasil uji laboratorium.
“Pertama, kami meminta maaf atas musibah ini. Kami belum bisa menyimpulkan penyebabnya karena masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan,” jelas Yonfen Hendri saat dikonfirmasi, RiauGreen.com, Kamis (13/8).
Lebih lanjut, terang Yonfen Hendri, sembari menunggu hasil laboratorium keluar, pihaknya akan melakukan koordinasi dan pengumpulan data secara internal. “Kita akan koordinasi dengan penanggung jawab dapurnya dan internal Yayasan sehingga diharapkan nanti diketahui secara menyeluruh faktor penyebabnya. Jika hasil laborotorium keluar dan data yang diperoleh cukup, kita akan jelaskan sejelas-jelasnya ke publik,” ujarnya.
Tak Penuhi Standar SLHS
Badan Gizi Nasional (BGN) menutup permanen 504 dapur MBG atau SPPG. Penutupan ini dikarenakan dapur MBG tersebut dinilai tidak memenuhi standar Sertifikat Laik Higine Santitasi (SLHS). Kepala BGN Sudaryono mengatakan, penutupan tersebut dilakukan setelah mendapat laporan dari Dinas Kesehatan disampaikan melalui Kementerian Kesehatan.
Di mana sebelumnya, BGN memberikan tenggat waktu kepada seluruh SPPG hingga Senin, 10 Agustus 2026 untuk merampungkan SLHS. “Sampai dengan hari ini laporan yang per tanggal 10 Agustus, ada 504 dapur menurut laporan dari Dinas Kesehatan di seluruh Indonesia yang dilaporkan melalui Kementerian Kesehatan ada 504 dapur yang kemudian kami tutup,” kata Sudaryono di Kemendagri, Kamis (13/8).(sol/bay/rio/rpg/das)
Laporan TIM RIAU POS dan JPG, Pekanbaru dan Jakarta
Editor : Arif Oktafian