Kasus Keracunan MBG di Dumai, Kepala SPPG Dinonaktifkan 

Soleh Saputra • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 22:02 WIB
Para murid SD yang diduga keracunan makanan menu Program MBG menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah dr Suhatman Dumai, Kamis (13/8/2026). (BAMBANG RIO/RPG)
Para murid SD yang diduga keracunan makanan menu Program MBG menjalani perawatan di RSUD dr Suhatman Dumai, Kamis (13/8/2026). (BAMBANG RIO/RPG)

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Usai adanya kejadian 40 orang murid dan satu orang guru Sekolah Dasar Negeri (SDN) 013 Buluh Kasap, Kota Dumai, dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Suhatman setelah diduga mengalami keracunan usai menyantap hidangan Makanan Bergizi Gratis (MBG), Kamis (13/8/2026) kemarin. 

Pihak Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Pekanbaru langsung mengambil tindakan tegas berupa mensuspend SPPG berikut penonaktifan kepala SPPG-nya yang mensuplai MBG ke sekolah tersebut.

“Kami sudah mengambil tindakan tegas berupa mensuspend SPPG dan menonaktifkan kepala SPPG -nya,” katanya.

Baca Juga: Serap Naker Disabilitas, Alfamart Raih Penghargaan dari Gubernur Riau 

Terkait hasil pendalaman yang mereka lakukan terhadap dugaan makanan yang menjadi penyebab anak-anak tersebut mengalami keracunan. Pihaknya menduga berasal dari bakso yang disajikan dengan cabai yang menjadi menu saat ini.

“Dugaan sementara itu berasal dari cabai baksonya. Tapi untuk pastinya kami masih menunggu hasil laboratorium,” sebutnya.

Sedangkan untuk kondisi anak-anak yang sebelumnya sempat mendapatkan perawatan dirumah sakit, ia menyebut bahwa saat ini sebagian besar sudah diperbolehkan untuk pulang. Hanya tersisa satu orang lagi yang masih berada di rumah sakit.

Baca Juga: Wako Agung Luruskan Polemik HGB STC, Tak Pernah Sebut Ada Rekomendasi Mendagri, Keputusan Berdasarka

“Kalau untuk anak-anak yang sebelumnya sempat mendapat perawatan dirumah sakit sudah pulang semua, hanya tinggal satu orang lagi,” ujarnya.

Agar kejadian serupa tidak terulang lagi, disebutkannya saat ini bahwa BGN sedang berbenah. Salah satunya penggunaan aplikasi yang harus diisi setiap hari, mulai dari tahapan proses, bagaimana bahan baku, hingga distribusinya. 

“Kemudian juga harus dilakukan pencicipan dua lapis. Baik oleh SPPG dan juga ketika tiba di sekolah. Jadi kalau tiba di sekolah sudah tidak bagus. Itu seharusnya tidak boleh didistribusikan lagi,” sebutnya. (sol)

Editor : M. Erizal
dumai SPPG MBG Keracunan Makanan Bergizi Gratis