Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Pelemahan Rupiah Berdampak pada Kondisi Fiskal Nasional

jpg • Sabtu, 6 Juli 2024 | 09:44 WIB
Pekerja sedang menghitung uang rupiah saat dilakukan penukaran dengan mata uang dolar AS di sebuah money changer, beberapa waktu lalu.
Pekerja sedang menghitung uang rupiah saat dilakukan penukaran dengan mata uang dolar AS di sebuah money changer, beberapa waktu lalu.

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Pertumbuhan ekonomi global tampaknya masih melambat ke depan. Imbasnya, bakal berdampak terhadap kondisi fiskal nasional. Meliputi aspek penerimaan, pengeluaran, dan pinjaman. Pelemahan rupiah bisa memicu pembengkakan utang.

”Data-data di negara maju maupun berkembang menunjukkan bahwa proyeksi di dua tahun mendatang akan mengalami perlambatan pertumbuhan (ekonomi). Melihat dari sektor keuangan, ada outflow di pasar SBN (surat berharga negara) sebesar Rp7,1 triliun di Juni 2024,” ungkap Direktur Kolaborasi Internasional Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Imaduddin Abdullah, dalam diskusi di bilangan Cikini.

Bahkan, di pasar saham per 21 Juni, terjadi capital outflow sebanyak Rp1,98 triliun. Sejalan dengan sentimen depresiasi rupiah yang cukup dalam 6,51 persen. Jika dibandingkan dengan Jepang yen (JPY) atau Thailand baht (THB), penurunan nilai tukar rupiah relatif lebih baik. Tapi jika disandingkan dengan India rupee (INR) hanya minus 0,40 persen.

Menurut Imaduddin, transmisi gejolak ekonomi terhadap risiko fiskal bisa dilihat dari tiga aspek. Yaitu penerimaan, pengeluaran, dan pinjaman. Dari sisi penerimaan, gejolak ekonomi mengakibatkan penurunan ekspor. Pajak-pajak yang berkaitan dengan kegiatan ekspor akan merosot.

Perekonomian yang lesu juga akhirnya bakal memengaruhi penerimaan pajak dari aspek yang lain. Di saat yang sama, akan memberikan dampak terhadap peningkatan pengeluaran. ”Jadi ada kebutuhan stimulus dan jaminan sosial juga meningkat. Dan ini akhirnya menjadi sebuah tantangan juga buat pembiayaan karena di saat yang bersamaan penerimaan mengalami penurunan,” jelas Imaduddin Abdullah.

Di sisi lain, ketidakpastian global membuat biaya pinjaman meroket. Ditambah depresiasi rupiah. ”Artinya ada risiko kursi yang perlu ditanggung atau diantisipasi pemerintah melalui manajemen fiskal ke depan,” imbuh Imaduddin Abdullah.

Nilai tukar rupiah tampaknya masih akan tertekan memasuki kuartal III 2024. Kemungkinan baru akan turun menjelang akhir tahun. Dengan asumsi The Federal Reserve (The Fed) memangkas suku bunga acuan.

Equities Specialist DBS Group Research Maynard Arif menyatakan, bank sentral Amerika Serikat (AS) itu akan memilih untuk soft landing. Tidak hanya inflasi sebagai acuan. Tapi juga memperhatikan data-data lain seperti nonfarm payrolls dan sentimen pemilu di semester kedua.

DBS Group Research memproyeksi The Fed akan menurunkan suku bunga sebanyak dua kali di semester kedua tahun ini. Sejalan dengan pelemahan perekonomian AS. Dolar AS (USD) juga diperkirakan akan mencapai puncaknya di kuartal III 2024.

Perekonomian Indonesia saat ini tengah dihantui dengan pelemahan rupiah. Perbedaan suku bunga acuan antara The Fed dan Bank Indonesia (BI) yang cukup tipis menyebabkan investor gampang untuk menarik dana dan memindahkannya ke negara lain. Bersamaan dengan itu, hampir seluruh mata uang dunia melemah terhadap dolar AS.(jpg)

Editor : RP Arif Oktafian
#pertumbuhan ekonomi global #pelemahan rupiah #Kondisi Fiskal Nasional