JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Merasa mendapatkan benefit yang nyata dari insentif-insentif yang sudah pernah diberikan, sektor otomotif berharap kebijakan pemerintah dapat segera direalisasikan. Khususnya untuk kendaraan hybrid. Dengan begitu, gairah industri di tengah tekanan ekonomi bisa terjaga.
Plt Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika menyatakan bahwa pemerintah masih mengupayakan pemberian insentif terhadap kendaraan listrik berteknologi hibrida alias hybrid electric vehicle (HEV).
”Untuk menerapkannya, diperlukan studi dan koordinasi antarkementerian supaya pemberiannya optimal dalam mendorong percepatan penggunaan EV di pasar nasional,” ujarnya di Jakarta kemarin (28/7).
Menurut data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), pada enam bulan pertama 2024, pasar mobil baru lesu 19 persen secara tahunan. Secara geografis, penurunan signifikan pada sektor otomotif terjadi di wilayah Jawa-Bali. ”Sementara di luar Jawa, Sumatera, misalnya, naik 20 persen pada periode yang sama. Diikuti Kalimantan sekitar 21 persen dan Sulawesi 64 persen,” jelasnya.
Dari perspektif instansi lain, Plh Direktur Pelayanan Fasilitas Berusaha BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal) Andi Subhan menilai bahwa insentif PPnBM pada mobil hybrid bisa saja diberikan. Apalagi, terdapat multiplier effect yang sangat luas ketika memang kebijakan dimaksud tepat sasaran.
Kemungkinan-kemungkinan tersebut terbuka karena Indonesia punya pasar, bahan baku, dan industri pendukung di sektor otomotif. ”Tinggal bagaimana kita meramu semuanya untuk berjalan dengan sinergi dari setiap kementerian saling support,” tuturnya. Sementara itu, Ketua Umum Gaikindo Yohannes Nangoi memprediksi populasi mobil hybrid terus meningkat dan dapat mencapai 70 ribu unit hingga akhir 2024. ”Jadi, kalau saya lihat, mungkin di akhir tahun bisa mencapai sekitar 65 ribu hingga 70 ribu unit. Berarti, ada peningkatan lagi,” katanya.
Nangoi menyampaikan, data populasi mobil hybrid terus meningkat setiap tahun. Tercatat, jumlah kendaraan rendah emisi tersebut pada 2022 mencapai 10 ribu unit dan melonjak drastis pada 2023 yang menyentuh angka 55 ribu unit. Sementara, tahun ini populasinya nyaris 32 ribu unit hingga Mei 2024.(agf/c14/dio/muh)
Editor : RP Arif Oktafian