Menyikapi hal itu, dikatakan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dan Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan alias Zulhas sedang menggodok kebijakan baru. "Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) saat ini sedang tertekan," ujarnya.
Disebutkan, hingga Kuartal II-2024, beberapa industri memang perlu dorongan guna mengekspansi level PMI Manufaktur yang anjlok. Di antaranya, industri mesin dan perlengkapan -1,8 persen, tekstil dan produk tekstil (TPT) - 0 persen, alas kaki tumbuh 1,9 persen, dan barang dari karet tumbuh 2,1 persen.
Baca Juga: Menteri Keuangan Sri Mulyani beberkan APBN Defisit Rp 21,8 Triliun pada Mei 2024
"Ini yang terdera, terkena dan tertekan oleh banyak hal. Mungkin demandnya masih memadai, tapi karena kompetisi impor," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KiTA edisi Agustus 2024 di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Selasa (13/8), seperti dikutip Jawapos.com.
Dua kebijakan yang digodok itu berkaitan dengan anti dumping dan bea masuk untuk memproteksi industri dalam negeri. "Intinya kita memproteksi industri dalam negeri," jelasnya.
Sektor manufaktur sebutnya, memang sedang tertekan. Bahkan industri tekstil yang ambruk alias tidak tumbuh sebesar 0 persen. Menkeu memastikan menteri terkait nantinya akan melakukan langkah-langkah jitu untuk memulihkan sektor manufaktur. Adapun nantinya, kebijakan yang diputuskan akan keluar dalam bentuk Peraturan Menteri Keuangan (PMK).
Sumber: Jawapos.com