Setelah JP Morgan, Kini BlackRock dan Vanguard Ikut Tambah Kepemilikan Saham BBRI
Redaksi• Rabu, 16 Juli 2025 | 16:34 WIB
Gedung kantor pusat Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang berdiri megah di pusat bisnis Jakarta. Kinerja dan strategi transformasi BRI terus menarik perhatian investor global.
JAKARTA (RIAUPOS.CO) – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (IDX: BBRI) terus menarik minat tinggi dari investor institusional global. Sepanjang kuartal II/2025, tercatat aksi akumulasi saham BBRI secara bertahap oleh sejumlah perusahaan investasi asal Amerika Serikat seperti BlackRock, Vanguard, dan JPMorgan Chase & Co.
Berdasarkan data Bloomberg, kepemilikan saham BBRI oleh BlackRock meningkat dari 2,34 miliar lembar saham pada akhir kuartal II menjadi 2,36 miliar saham di awal Juli 2025. Tren penambahan ini sudah berlangsung sejak Desember 2024, di mana kepemilikan BlackRock saat itu tercatat sebesar 2,18 miliar saham, lalu naik menjadi 2,32 miliar pada akhir kuartal I/2025.
Sementara itu, Vanguard Group juga menunjukkan tren serupa. Selama paruh pertama 2025, mereka menambah sekitar 91 juta saham BBRI. Hingga akhir kuartal II, Vanguard menjadi pemegang saham asing terbesar di BBRI, dengan total kepemilikan mencapai 3,09 miliar saham.
Di sisi lain, JPMorgan kembali aktif menambah portofolionya sepanjang kuartal II/2025. Dalam periode April hingga Juni, mereka membeli 117,42 juta lembar saham tambahan, menjadikan total kepemilikan saham BBRI oleh JPMorgan mencapai 1,54 miliar saham.
Aksi pembelian oleh para investor global ini mencerminkan keyakinan mereka terhadap kekuatan fundamental dan arah strategi BRI. Salah satu inisiatif kunci yang mendasari kepercayaan tersebut adalah peluncuran BRIvolution Initiatives Phase 1 – Kicking Off a New Horizon, sebagai bagian dari langkah transformasi strategis Perseroan. Inisiatif ini mempertegas komitmen BRI dalam membangun masa depan perbankan yang adaptif, berkelanjutan, dan berorientasi pada penciptaan nilai jangka panjang.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan tonggak penting dalam mengarahkan BRI menuju horizon baru yang lebih visioner, kolaboratif, dan berdampak, demi memperkuat posisi BRI sebagai bank terbesar dan paling inklusif di Tanah Air. Peluncuran fase pertama BRIvolution ini menjadi fondasi awal dari rangkaian transformasi berkelanjutan yang akan dijalankan BRI, seiring dengan upaya perusahaan untuk menjawab dinamika industri keuangan dan kebutuhan nasabah yang terus berkembang.
“Peluncuran ini merupakan wujud komitmen kami untuk terus beradaptasi, memperbaiki proses, serta memperkuat struktur dan kapabilitas internal BRI. Langkah ini juga menjadi bagian dari transformasi berkelanjutan untuk memperkuat daya saing dan memberikan nilai tambah bagi seluruh stakeholder BRI. Transformasi ini bukan sekadar perubahan sistem, tapi juga perubahan cara berpikir,” ujar Hery.
Untuk menghadapi peluang dan tantangan pasar kedepan, BRI sendiri memiliki fondasi yang kuat dengan memiliki lebih dari 36 ribu tenaga pemasar, customer base lebih dari 220 juta rekening simpanan. BRI juga memiliki jaringan terluas, dengan lebih dari 6 ribu unit kerja (Kantor Cabang hingga BRI Unit), dan mengoperasikan lebih dari 742 ribu unit e-channel, lebih dari 10 ribu unit ATM dan 9 ribu unit Cash Recycling Machine (CRM) di seluruh Indonesia yang tersebar di seluruh Indonesia. Penetrasi layanan ke pelosok negeri juga diperluas melalui jaringan AgenBRILink yang telah mencapai lebih dari 1,19 juta agen dan menjangkau lebih dari 67 ribu desa.
Seperti diketahui hingga Kuartal I 2025, di tengah dinamika ekonomi global yang penuh dengan tantangan BRI Group mampu mencatatkan laba bersih sebesar Rp13,80 triliun dan asset tumbuh 5,49% secara year on year (yoy) menjadi sebesar Rp2.098,23 triliun. Pertumbuhan tersebut didorong penyaluran kredit sebesar Rp1.373,66 triliun atau tumbuh 4,97% yoy. Dari sisi Dana Pihak Ketiga (DPK), BRI mampu menghimpun DPK sebesar Rp1.421,60 triliun dengan porsi dana murah (CASA) mencapai 65,77%.