Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Efek Kebijakan Fiskal Mulai Terasa tapi Belum Merata

Tim Redaksi • Selasa, 7 Oktober 2025 | 10:14 WIB
Efektivitas kebijakan fiskal yang digawangi Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mulai menunjukkan dampak positif.
Efektivitas kebijakan fiskal yang digawangi Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mulai menunjukkan dampak positif.

JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Efektivitas kebijakan fiskal yang digawangi Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mulai menunjukkan dampak positif. Namun, hasilnya belum merata ke seluruh sektor perekonomian. Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menilai arah kebijakan menkeu sudah progresif.

“Sebagian terasa di sisi harga, tapi transmisi ke aktivitas riil butuh waktu. Inflasi yang terkendali membantu menjaga daya beli dan biaya dana pemerintah yang lebih terkoordinasi memberi ruang suku bunga pasar turun bertahap,” ujar Josua kemarin (6/10).

Namun, lanjut dia, data Agustus 2025 menunjukkan pemulihan ekonomi masih parsial. Terlihat dari penurunan impor bahan baku dan pelemahan impor barang konsumsi. Hal itu mengindikasikan bahwa konsumsi dan produksi harian belum sepenuhnya pulih.

Impor Barang Modal Naik Di sisi lain, Josua mencatat sektor investasi mulai menunjukkan respons yang lebih cepat terhadap stimulus pemerintah. Impor barang modal pada periode Januari hingga Agustus 2025 tumbuh 17,94 persen secara tahunan. “Hal itu merupakan sinyal awal bahwa dorongan belanja investasi pemerintah dan BUMN mulai diterjemahkan menjadi pembelian mesin dan peralatan,” ucapnya.

Meskipun demikian, efek belanja modal belum sepenuhnya mengalir ke sektor hilir. Seperti permintaan bahan baku dan konsumsi rumah tangga. “Dengan kata lain, kebijakan pro-pertumbuhan itu arahnya progresif, tapi efek penuhnya baru akan lebih jelas ketika belanja modal bergulir ke permintaan bahan baku dan konsumsi rumah tangga beberapa kuartal ke depan,” jelas alumnus University of Amsterdam itu.

Rupiah Terkendala Risiko Eksternal Di sisi moneter, injeksi likuiditas pemerintah sebesar Rp200 triliun ke himpunan bank milik negara (Himbara) telah meningkatkan suplai rupiah di pasar. Menurut dia, tambahan likuiditas ini berpotensi mendorong penurunan suku bunga pasar uang dan memperlancar penyaluran kredit. Namun bagi nilai tukar rupiah, dampaknya bersifat dua sisi.

“Likuiditas yang longgar cenderung menekan imbal hasil rupiah sehingga carry ke investor asing sedikit berkurang. Bila kredit dan impor bahan baku mulai bangkit, permintaan valas akan naik,” jelasnya.

Josua menyebutkan bahwa faktor eksternal seperti arah pergerakan dolar AS (USD), harga komoditas, serta posisi neraca transaksi berjalan tetap menjadi penentu utama nilai tukar rupiah. Dia memproyeksikan nilai tukar rupiah akan bergerak di kisaran Rp16.200-Rp16.400 per dolar AS pada akhir tahun. Dengan asumsi defisit transaksi berjalan yang melebar namun masih dalam batas terkelola.(han/dio)

 

Editor : Rindra Yasin
#inflasi #menkeu #Chief Economist Bank Permata #kebijakan fiskal 2025