JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Harga emas Antam tercatat naik sebesar Rp12.000 menjadi Rp2.296.000 per gram pada perdagangan, Rabu (8/10). Harga ini tercatat pecah rekor baru, dibandingkan sehari sebelumnya mencapai di level tertinggi sebesar Rp2.284.000 per gram.
Harga yang naik juga berlaku untuk penjualan kembali atau buyback sebesar Rp12.000 menjadi Rp2.144.000 per gram. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan buyback sebelumnya yang dikenakan Rp2.132.000 per gram.
Dengan begitu, jika masyarakat ingin menjual emas koleksinya akan dikenakan harga senilai Rp2.144.000 per gram. Bagi pemilik emas batangan yang telah dibeli sejak November tahun 2022, maka harga jual yang diperoleh sangat menguntungkan alias cuan. Pasalnya, harga
Naik Rp12.000, Emas Antam Jadi Rp2.296.000 per Gram emas pada 26 November 2022 berada di level Rp 936.000 per gram.
Jika saja memiliki 5 gram dengan harga beli mencapai Rp4.680.000, apabila dijual saat ini maka akan laku sebesar Rp10.720.000 (belum termasuk pajak). Dengan begitu, keuntungan yang diperoleh secara total dari penjualan 5 gram emas Antam tahun 2022 tersebut sebesar Rp6.038.000.
Mengutip Reuters, harga emas berjangka AS melonjak melewati level 4.000 dolar AS per ons untuk pertama kalinya pada Selasa (7/10). Didorong oleh ekspektasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve akhir bulan ini dan permintaan terus-menerus terhadap aset safe haven akibat penutupan pemerintah AS yang sedang berlangsung.
Harga emas berjangka AS untuk pengiriman Desember ditutup 0,7 persen lebih tinggi sebesar 4.004,4 dolar AS setelah mencapai titik tertinggi 4.014,6 dolar AS. Harga emas spot naik 0,6 persen menjadi 3.985,82 dolar AS per troy ounce setelah mencapai titik tertinggi sepanjang masa sebesar 3.990,85 dolar AS pada awal sesi.
Emas yang tidak memberikan imbal hasil, yang cenderung berkinerja baik di masa ketidakpastian dan suku bunga rendah, telah melonjak 51 persen sepanjang tahun ini. Reli logam mulia ini didorong oleh berbagai faktor, termasuk ekspektasi penurunan suku bunga, ketidakpastian politik dan ekonomi yang berkelanjutan, pembelian yang kuat oleh bank sentral, arus masuk ke ETF emas, dan pelemahan dolar.(jpg)
Editor : Bayu Saputra