Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Menjelang Akhir Pekan Ini, IHSG Saham Anjlok 2,22 Persen

Redaksi • Jumat, 17 Oktober 2025 | 16:06 WIB

Seorang pengunjung memantau pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, baru-baru ini. IHSG ditutup menguat pada akhir perdagangan, Jumat (12/9/2025).
Seorang pengunjung memantau pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, baru-baru ini. IHSG ditutup menguat pada akhir perdagangan, Jumat (12/9/2025).


JAKARTA (RIAUPOS.CO) - IHSG saham anjlok menjelang akhir pekan ini, atau pada perdagangan sesi pertama, Jumat (17/10/2025). Indeks anjlok 180,469 poin atau 2,22 persen ke level 7.944,287.

Grafik perdagangan menunjukkan pola penurunan tajam sejak menit awal bursa dibuka, memperlihatkan tekanan jual masif yang tak terbendung.

Ini menjadi salah satu penurunan terdalam dalam beberapa pekan terakhir. Indeks sempat dibuka optimistis di 8.132,747 dan menyentuh level tertinggi harian di 8.140,597.

Namun optimisme itu cepat lenyap ketika aksi jual agresif—terutama dari investor asing—menghempaskan indeks ke titik terendah 7.936,728 sebelum jeda siang.

Nilai transaksi tercatat Rp 13,977 triliun dengan frekuensi 1.645.759 kali. Volume saham yang berpindah tangan mencapai 23,104 miliar lembar.

Dari 804 emiten yang diperdagangkan, 571 saham merosot, hanya 118 yang naik, dan 115 stagnan. Kapitalisasi pasar pun ikut terpangkas menjadi Rp 14.827,553 triliun.

Analis pasar modal menilai, pelemahan tajam ini bukan semata koreksi teknikal. Tekanan besar datang dari dua arah: sentimen eksternal dan domestik.

Pertama, investor global mulai menahan diri akibat sinyal hawkish dari Federal Reserve soal suku bunga tinggi yang bakal bertahan lebih lama.

Pasar global merespons dengan aksi risk-off, mendorong dana asing keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Kedua, di dalam negeri, kekhawatiran investor meningkat akibat tekanan rupiah dan ekspektasi inflasi yang melebar.

Pelemahan nilai tukar terhadap dolar AS membuat beban perusahaan berorientasi impor naik, sementara margin laba diproyeksikan tergerus.

 

Sentimen ini diperparah oleh gejolak sektor komoditas yang kembali melemah.

Dari data perdagangan, aksi jual bersih (net sell) asing melonjak tajam. Sektor perbankan dan konsumer menjadi dua sektor paling terpukul akibat tekanan dana keluar.

Saham-saham big caps pun ikut tertekan dan menyeret indeks ke jurang merah.

“Ini bukan sekadar koreksi biasa. Aksi jual asing agresif, terutama di saham berkapitalisasi besar, membuat tekanan terasa sangat dalam,” kata seorang analis senior pasar modal di Jakarta.

Sektor finansial tercatat paling berdarah dengan pelemahan tajam, diikuti sektor komoditas dan infrastruktur.

Penurunan saham-saham perbankan papan atas memperparah jatuhnya indeks.

Sementara itu, harga batu bara dan nikel global juga terkoreksi, menekan saham-saham tambang unggulan.

“Ini efek domino. Ketika sektor finansial jatuh, hampir pasti IHSG ikut rontok. Apalagi ditambah tekanan dari sektor energi,” ujar analis tersebut.

Meski indeks terpuruk, beberapa analis menilai potensi technical rebound bisa muncul pada sesi kedua.

Alasannya, IHSG sudah mendekati level support psikologis 7.900–7.950. Namun rebound ini diperkirakan terbatas jika tekanan global belum mereda.

“Rebound mungkin ada, tapi sifatnya jangka pendek. Kalau tekanan asing terus berlanjut, level 7.900 bisa jebol,” ujar seorang trader senior.

Kinerja bursa kali ini menunjukkan betapa rapuhnya pasar terhadap kombinasi tekanan global dan domestik.

Dalam waktu beberapa jam, kapitalisasi pasar menyusut besar-besaran. Investor ritel diminta lebih waspada, terutama terhadap saham berisiko tinggi.

Sektor-sektor defensif mungkin menjadi pilihan sementara, sembari menunggu kepastian arah pasar global.

Sumber: Radartuban.jawapos.com

Editor : Eka G Putra
#harga saham gabungan #IHSG Saham #indeks harga saham gabungan (ihsg) #Ihsg saham anjlok 2 persenan #Menjelang akhir tahun #harga saham anjlok