Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Transisi Energi Menguat, Pertaabi Riau Dorong Kesiapan Pelaku Alat Berat

Siti Azura • Sabtu, 6 Desember 2025 | 18:06 WIB
Ketua PERTAABI Regional Riau sekaligus Direktur PT Salim Kayo Perkasa Deni Rafli saat menjadi moderator seminar Nasional Biosolar B50 dan Market Alat Berat Nasional di Prime Park Hotel Pekanbaru
Ketua PERTAABI Regional Riau sekaligus Direktur PT Salim Kayo Perkasa Deni Rafli saat menjadi moderator seminar Nasional Biosolar B50 dan Market Alat Berat Nasional di Prime Park Hotel Pekanbaru

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) -- Industri alat berat Riau memasuki babak baru menghadapi transisi energi nasional. Hal ini mengemuka dalam Seminar Nasional Biosolar B50 dan Market Alat Berat Nasional yang digelar Perkumpulan Tenaga Ahli Alat Berat Indonesia (Pertaabi) Regional Riau di Prime Park Hotel Pekanbaru, Sabtu (6/12).

Kegiatan yang untuk pertama kalinya digelar secara resmi dalam format tatap muka di Riau itu berhasil menarik perhatian para pelaku industri migas, perkebunan, kehutanan, perkapalan hingga sektor pendukung alat berat lainnya.

Ketua Pertaabi Regional Riau yang juga Direktur PT Salim Kayo Perkasa Deni Rafli menegaskan, kebijakan pemerintah terkait penggunaan Biosolar B50 campuran 50 persen solar fosil dan 50 persen bahan bakar nabati memiliki pengaruh besar bagi industri alat berat.

Sosialisasi ini, kata Deni, sangat penting karena seluruh sektor yang mengandalkan alat berat akan langsung merasakan efeknya, baik dari sisi teknis maupun bisnis.

"Kami sebagai tenaga ahli alat berat ingin kawan-kawan memahami benefit dan loss dari penerapan B50. Bagaimana efeknya ke mesin, ke biaya operasional, dan ke perkembangan pasar alat berat di Indonesia, khususnya di Riau," ujar Deni.

Menurutnya, Riau saat ini menjadi salah satu pusat penggunaan alat berat terbesar di Indonesia. Pertumbuhan permintaan alat berat di provinsi ini mencapai 30 persen setiap tahun, seiring diversifikasi industri yang semakin meluas. Tidak hanya migas, perkebunan, dan kehutanan, namun juga merambah industri perkapalan dan sektor lain yang membutuhkan dukungan mesin berkapasitas besar.

Pertaabi, lanjut Deni, hadir sebagai komunitas non-profit yang bertujuan meningkatkan pengetahuan teknis hingga bisnis bagi para pelaku alat berat. "Komunitas kami ada di seluruh Indonesia bahkan luar negeri. Kami berharap peserta dapat terbuka wawasannya dan bergabung untuk membangun ekosistem alat berat yang kuat dan berdaya saing," tambahnya.

Sementara itu Ketua Panitia Adi Agus Sofiadi, menjelaskan bahwa tema seminar ini relevan dengan kondisi energi nasional yang tengah bergerak menuju kemandirian. B50 bukan hanya program substitusi bahan bakar, tetapi juga langkah strategis untuk mencapai keberlanjutan dan efisiensi di sektor transportasi dan alat berat.

"Riau punya peran vital di sektor perkebunan, pertambangan, dan alat berat. Karena itu, kami ingin membangun pemahaman yang lebih kuat tentang implementasi B50. Di sini kita mendorong sinergi antara pemerintah, pelaku energi, akademisi, dan industri, serta membuka peluang bisnis baru berbasis teknologi berkelanjutan," ujar Adi.

Ia menambahkan, seminar ini juga menjadi ruang kolaborasi menghadapi dinamika energi yang saat ini bergerak cepat seiring tuntutan global terhadap pengurangan emisi dan percepatan transisi energi.

Pemahaman lebih dalam mengenai dampak biofuel dipaparkan oleh GM Plant PT Harmoni Panca Utama sekaligus Direktur Pertaabi, Rochman Alamsjah. Dalam kesempatan itu, ia menilai B50 adalah langkah strategis pemerintah mencapai ketahanan energi sekaligus mendukung target net zero emission.

Namun, ia menegaskan bahwa transisi menuju biofuel tidak semudah membalik telapak tangan. Ada risiko teknis dan bisnis yang harus dipahami industri.

"Banyak pelaku industri masih takut dengan efek negatif biofuel terhadap mesin dan operasional. Maka hari ini kita kupas bagaimana meminimalkan risiko dan membuat mitigasi yang tepat agar industri tetap tumbuh dan tidak dirugikan," jelas Rochman.

Ia memaparkan kondisi energi nasional yang masih sangat bergantung pada impor. Kebutuhan bahan bakar fosil Indonesia mencapai 39 juta kiloliter per tahun, sementara kapasitas produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan tersebut. Lebih dari 50 persen suplai masih harus didatangkan dari luar negeri.

Sementara itu, permintaan energi terus meningkat, baik dari sektor transportasi (PSO) yang tumbuh 3–5 persen, maupun sektor non-PSO seperti industri, pertambangan, dan perkebunan yang tumbuh 2–3 persen tiap tahun. Kondisi ini melemahkan ketahanan energi nasional jika tidak segera ditopang dengan energi alternatif.

"Dengan B50, kita berusaha mengurangi ketergantungan impor sekaligus memanfaatkan potensi besar bahan baku nabati Indonesia. Ini peluang sekaligus tantangan," tambahnya.

Kegiatan ini disambut antusias para peserta yang berasal dari berbagai sektor industri di Riau. Selain penyampaian materi, diskusi interaktif juga berlangsung hangat, terutama terkait kesiapan industri alat berat menghadapi perubahan regulasi bahan bakar.

Pertaabi Regional Riau menilai seminar ini sebagai momentum penting untuk menyatukan pandangan pelaku industri. Apalagi, kebutuhan akan alat berat terus tumbuh seiring pembangunan dan ekspansi industri di provinsi ini.

Di tengah meningkatnya tuntutan global terhadap efisiensi dan keberlanjutan, Riau dinilai berada dalam posisi strategis untuk menjadi pusat pengembangan dan penerapan teknologi alat berat ramah lingkungan.

Melalui kegiatan perdana ini, Pertaabi berharap bisa memperluas jangkauan dan menarik lebih banyak tenaga ahli, praktisi, hingga pelaku bisnis untuk bergabung dalam komunitas yang memiliki jaringan nasional hingga internasional. "Kami ingin membangun ekosistem industri alat berat yang kuat, maju, dan mampu menjawab tantangan energi masa depan," tutup Deni Rafli.

Seminar ini menjadi salah satu langkah konkret dunia industri Riau dalam menyikapi transisi energi nasional, sekaligus membuka ruang baru bagi inovasi dan peluang bisnis yang lebih berkelanjutan.

Editor : Rinaldi
#pertaabi riau #alat berat #transisi energi