PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Sebagian besar lapangan minyak di Indonesia merupakan lapangan mature yang telah beroperasi sejak awal kemerdekaan. Di antara yang paling menonjol adalah Wilayah Kerja (WK) Rokan, khususnya Lapangan Minas, yang sejak 1952 konsisten memproduksi minyak dan menopang pasokan energi nasional. Dengan perkiraan cadangan minyak awal mencapai 8,7 miliar barel, lapangan raksasa ini tercatat sebagai salah satu pilar utama ketahanan energi dan penggerak aktivitas ekonomi Indonesia selama lebih dari tujuh dekade.
Guna mempertahankan tingkat produksi, berbagai teknologi telah dan terus diterapkan di Lapangan Minas, Provinsi Riau. Dimulai dari injeksi air peripheral yang diterapkan sejak tahap awal pengembangan, kemudian dilanjutkan dengan metode waterflood atau injeksi air pada 1995, Lapangan Minas terus melakukan inovasi.
Beragam teknologi perolehan minyak tingkat lanjut (tertiary recovery) pun diujicobakan, salah satunya melalui penerapan Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) atau injeksi bahan kimia. Inovasi ini telah dilakukan sejak masa operator sebelumnya melalui sejumlah uji coba lapangan ( field trial).
Setelah pengelolaan Wilayah Kerja Rokan diambil alih Pertamina melalui anak usahanya, PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), upaya pengembangan Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) semakin digencarkan. Pertamina mengerahkan perwira-perwira terbaiknya melalui sinergi antara tim di WK Rokan, Technology Innovation and Implementation (TI&I) Persero, serta dukungan anak perusahaan terkait untuk menemukan formulasi CEOR yang optimal dan memproduksinya di dalam negeri. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada pemasok bahan sebelum alih kelola, sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional.
Proses pengembangan surfaktan ini bukanlah perjalanan singkat. Dibutuhkan waktu panjang, ketekunan, dan ketelitian tinggi hingga formulasi hasil riset Pertamina benar-benar siap diterapkan di lapangan. Selama hampir dua tahun, tim peneliti laboratorium Pertamina menguji ratusan sampel bahan kimia untuk menemukan formulasi yang mampu bekerja optimal sesuai karakter reservoir di Wilayah Kerja Rokan.
Ratusan Sampel, Ratusan Percobaan, dan Tekanan Waktu
Salah satu tantangan terbesar dalam perburuan surfaktan adalah menemukan kombinasi surfaktan yang memberikan hasil paling optimal dengan biaya yang terjangkau. Produk jadi yang tersedia di pasar global hanya perlu dipastikan cocok dan optimal, sehingga diperlukan percobaan ratusan formula untuk memenuhi kriteria teknis secara spesifik.
“Yang paling berat justru menemukan bahan main surfaktannya-nya,” ungkap Agus.
Proses pencarian tersebut berlangsung hampir dua tahun, melibatkan lebih dari 80 kali percobaan laboratorium. Dari puluhan formula yang diuji, hanya sebagian kecil yang menunjukkan performa mendekati kriteria teknis yang ditetapkan.
Senior Analyst Laboratory PHR, Ester Tio Minar E. Silalahi, menjadi salah satu sosok kunci dalam proses tersebut. Dengan pengalaman panjang di bidang formulasi surfaktan, Ester memimpin pengujian dan analisis laboratorium secara intensif. Dengan tim berjumlah 9 orang, mereka berjibaku mencari formula yang paling sesuai.
Baca Juga: Usai Terima SK Gubri, Pemkab Rohul TindaklanjutI Hasil Evaluasi RAPBD 2026