PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Harga emas Antam terus melonjak tinggi. Pada perdagangan Selasa (20/1), emas Antam dijual dengan harga Rp2.705.000 per gram atau naik tercatat naik Rp2.000 per gram dari harga sehari sebelumnya. Sebaliknya, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) justru makin terpuruk di angka Rp17.000 per dolar AS.
Harga yang naik tipis juga berlaku untuk penjualan kembali atau buyback sebesar Rp1.000 menjadi Rp 2.546.000 per gram. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan buyback sebelumnya yang dikenakan Rp2.545.000 per gram. Jika masyarakat ingin menjual emas koleksinya akan dikenakan harga senilai Rp2.546.000 per gram.
Bagi pemilik emas batangan yang telah dibeli sejak November tahun 2022 atau sekitar tiga tahun ke belakang, maka harga jual yang diperoleh sangat menguntungkan. Pasalnya, harga emas pada 26 November 2022 berada di level Rp 936.000 per gram. Jika memiliki 5 gram dengan harga beli mencapai Rp4.680.000, apabila dijual saat ini maka akan laku sebesar Rp12.730.000 (belum termasuk pajak).
Menkeu Purbaya Sebut Dampak ke Ekonomi Masih Minim
Nilai tukar rupiah kembali tertekan dan nyaris menyentuh level psikologis Rp17.000 per dolar AS pada penutupan perdagangan, Selasa (20/1). Meski begitu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pelemahan rupiah tersebut belum memberi dampak signifikan terhadap perekonomian nasional.
Baca Juga: Mantan Gubri Saleh Djasit Sebut Riau Pos Akurat dan Diperlukan Masyarakat
Purbaya menilai, jika dilihat dari sisi persentase, pelemahan rupiah saat ini masih relatif terbatas dibandingkan level sebelumnya. Hal itu menunjukkan bahwa fondasi sistem ekonomi Indonesia masih cukup terjaga.
“Memang melemah, tapi kalau dilihat dari persentasenya sedikit lah dibanding level sebelumnya. Jadi artinya sistem juga terlihat. Menurut saya dampak ke ekonomi akan minimum,” kata Purbaya saat ditemui di Kawasan Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (20/1).
Ia menekankan, kunci utama menjaga stabilitas rupiah adalah dengan terus memperkuat fundamental ekonomi domestik. Ketika fondasi ekonomi membaik, kepercayaan pasar akan meningkat dan investor akan kembali masuk ke Indonesia.
Baca Juga: Dugaan Jual Beli Jabatan Perangkat Desa Jerat Bupati Pati Sudewo, KPK: Uang Rp2,6 Miliar Dikarungin seperti Bawa Ular
“Yang penting fondasi ekonomi kita terus diperbaiki. Ekonomi di dalam negeri meningkat, orang akan melihat. Rupiahnya bagus, investor akan balik ke sini, termasuk investor asing,” jelasnya.
Purbaya juga menyinggung pergerakan positif pasar modal sebagai salah satu indikator masuknya aliran dana asing. Menurutnya, penguatan pasar modal tidak mungkin terjadi tanpa partisipasi investor global. “Karena dilihat di pasar modal, naik kan. Pasar modal enggak mungkin naik kalau enggak ada investor asing yang masuk ke sini juga,” ujarnya.
Dengan kondisi tersebut, Purbaya optimistis rupiah ke depan berpeluang kembali menguat seiring perbaikan ekonomi yang terus dijaga pemerintah. Ia pun mengingatkan pelaku pasar agar tidak berspekulasi berlebihan terhadap pergerakan nilai tukar. “Kalau ekonomi kita jaga terus dan kita perbaiki ke depan, rupiah akan cenderung menguat. Jadi untuk spekulator-spekulator, jangan terlalu ambil posisi yang terlalu long,” tegasnya.
Lebih lanjut, Purbaya mengungkapkan pemerintah bersama otoritas terkait telah melakukan rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dengan DPR. Dalam pertemuan tersebut, DPR mendorong agar sinergi kebijakan antarlembaga terus diperkuat. “Sudah jelas DPR meminta kita untuk lebih sinergi lagi ke depan. Dengan dukungan DPR, kita akan semakin sinergi,” ungkapnya.
Baca Juga: Larang Penebangan Pohon, Wali Kota Pekanbaru Terbitkan Surat Edaran Pengendalian Lingkungan
Sinergi antara pemerintah, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), kata dia, diyakini akan menggerakkan seluruh mesin ekonomi nasional. “Artinya mesin-mesin ekonomi kita akan bergerak semua. Pemerintah, swasta, akan mendorong ekonomi ke tingkat yang lebih cepat lagi,” ujar Purbaya.(jpg)
Laporan JPG, Jakarta