JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Aktivitas investasi dan trading saham baru saja melewati pekan yang cukup menantang. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 7.026 atau melemah kurang lebih -0,99 persen dibandingkan pekan sebelumnya pada akhir perdagangan, Kamis 2 April 2025 karena ada libur nasional Jumat Agung. Di masa pelemahan IHSG pekan lalu, investor asing melakukan penjualan (outflow) mencapai Rp2.8 triliun di pasar reguler.
IHSG, Senin (6/4) dibuka melemah 25,22 poin atau 0,36 persen ke posisi 7.001,56. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 3,05 poin atau 0,43 persen ke posisi 711,53.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan menjelaskan, ada sentimen global dan domestik yang menyebabkan pasar saham Indonesia masih lesu.
Baca Juga: Perkuat Sinergisitas dan Dukungan Program Perpajakan
Dari global ada sentimen tensi geopolitik, dimana Donald Trump telah menyatakan siap menyerang Iran secara frontal. Ancaman serangan AS ke Iran ini membuat investor global panik dan buru-buru beralih ke safe haven.
“Akibatnya muncul ketidakpastian tinggi, sehingga aset berisiko seperti saham di pasar berkembang, termasuk IHSG kemungkinan besar bakal kena aksi jual jangka pendek,” jelas David.
Sementara itu dari domestik ada sentimen Program B50, dimana pemerintah Indonesia melalui Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto mengumumkan bahwa tingkat pencampuran biodiesel berbasis sawit akan ditingkatkan menjadi 50 persen (B50) mulai 1 Juli dari sebelumnya 40 persen.
Dikhawatirkan, pengalihan berlebih CPO ke biodiesel berisiko memicu kenaikan harga minyak goreng dan inflasi yang dapat menekan daya beli masyarakat serta memberikan sentimen negatif bagi sektor consumer goods.
Baca Juga: Minta Maskapai Tahan Kenaikan Tiket Pesawat Maksimal 13 Persen
Proyeksi dan Rekomendasi Trading Saham
Berbicara tentang potensi market pada 6-10 April 2026, David mengimbau investor dan trader untuk memantau perkembangan nilai tukar rupiah dan harga minyak.
“Kondisi ekonomi Indonesia saat ini sedang menghadapi ujian berat akibat kombinasi lonjakan harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah yang cukup drastis,” ujarnya.
Ia menambahkan ketika harga minyak mentah bertahan di atas 100 dolar AS per barel, beban subsidi energi dalam APBN akan membengkak secara signifikan sehingga mengancam batas aman defisit fiskal negara.
Baca Juga: OJK Beri Sanksi Rp78 Miliar untuk Kasus Manipulasi dan Pelanggaran Pasar Modal
“Tekanan ini diperparah posisi rupiah yang sempat menembus level Rp17.000 per dolar AS yang secara otomatis meningkatkan biaya impor bahan baku dan memicu kenaikan inflasi domestik,” ujarnya.
IHSG diproyeksikan bergerak melemah dengan rentang support di level 6700 dan resistance pada 7250 karena dipicu juga oleh sentimen negatif akibat penyesuaian komposisi kepemilikan saham yang tinggi (high shareholding composition) sejalan dengan proyeksi metodologi MSCI yang sebelumnya telah diantisipasi pasar.(jpg)
Editor : Arif Oktafian