Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Elpiji 12 Kg Dijual Rp265 Ribu

Tim Redaksi • Senin, 20 April 2026 | 20:16 WIB
Petugas pangkalan elpiji menyusun tabung elpiji nonsubsidi yang sudah kosong. Pemerintah membuat kebijakan menaikkan harga elpiji nonsubsidi mulai Ahad (10/7/2022).
Petugas pangkalan elpiji menyusun tabung elpiji nonsubsidi yang sudah kosong. Pemerintah membuat kebijakan menaikkan harga elpiji nonsubsidi mulai Ahad (10/7/2022).

 

JAKARTA dan PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Harga elpiji nonsubsidi menga­lami kenaikan signifikan. PT Perta­mina Patra Niaga resmi menaikkan harga elpiji 12 kg dari Rp192 ribu menjadi Rp228 ribu per tabung. Namun, di tingkat pengecer justru dijual hingga Rp265 ribu per tabung.

Kenaikan ini menjadi yang pertama sejak 2023 dan berlaku per 18 April 2026 di sejumlah wilayah, termasuk Riau. Tak hanya ukuran 12 kg, elpiji nonsubsidi 5,5 kg juga ikut demikian. Harganya naik dari Rp90 ribu menjadi Rp107 ribu per tabung atau meningkat sekitar 18,89 persen.

Kenaikan ini menandai berakhir­nya periode harga yang relatif stabil sejak penyesuaian terakhir pada November 2023. Ketika itu, harga elpiji 12 kg dari Rp192 ribu per tabung turun Rp12 ribu menjadi Rp180 ribu.

Di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), perubahan harga langsung berlaku di tingkat pengecer atau outlet penjual. Hal ini dijelaskan Depi, seorang pemilik outlet Depi Oxigen di Jalan Proklamasi Kelurahan Sungai Jering Kecamatan Kuantan Tengah. 

Baca Juga: Jaga Kelancaran Penyaluran Elpiji 3 Kg di Kepulauan Meranti, Pertamina Lakukan Extra Dropping

“Mulai hari ini (Ahad, red) harga jual gas 12 kg naik jadi Rp265 ribu per tabung. Biasanya Rp225 ribu per tabung,” kata Depi. ‘’Sedangkan gas 5,5 kg naik jadi Rp140 ribu per tabung,  biasa Rp120 ribu per tabung. Kami membeli gas itu dari agen di Pekanbaru. Setiap pekan masuk 10 hingga 15 tabung,’’ tambahnya.

Sementara itu, Tedy, pemilik outlet/pengecer gas di Jalan Proklamasi Telukkuantan, Kecamatan Kuantan Tengah lainnya mengatakan sudah mengetahui kenaikan ini dari agen. “Kami juga mendapatkan pemberitahuan kenaikan gas nonsubsidi itu dari agen Pekanbaru yang biasa menyuplai,” ungkapnya.

Tedy menjelaskan, melalui pemberitahuan WhatsApp oleh PT Pertamina Jiwa Mandiri dan PT Andalan Delta Energi Pekanbaru sebagai penyuplai, per 18 April 2026 terjadi perubahan harga. Untuk refill tabung 12 kg harga naik Rp40.000 per tabung dari harga sebelumnya. Kemudian  5,5 kg naik Rp20.000 per tabung dari harga sebelumnya. 

Baca Juga: Distribusi Terlambat, Elpiji 3 Kg Langka di Meranti

Sebagai pengecer, untuk gas 12 Kg sebelum kenaikan, dia harus mengeluarkan modal Rp205 ribu. Sementara dengan kenaikan sekarang dia harus merogoh kantong Rp245 ribu per tabung. Sementara untuk gas 5,5 kg, sebelum kenaikan modalnya Rp110 ribu, tetapi sekarang sudah Rp130 ribu per tabung. “Itu modal kami keluarkan, belum dijual pada pembeli,” ujarnya. 

Kenaikan harga elpiji nonsubsidi juga terasa langsung di tingkat pengecer di Kota Pekanbaru. Sejumlah pemilik kedai mengaku harus menyesuaikan harga jual menyusul naiknya harga dari agen. 

Anitasari, salah seorang pemilik kedai di Pekanbaru, mengatakan harga gas elpiji 12 kg kini mencapai Rp260 ribu per tabung. Kenaikan ini cukup memberatkan, baik bagi penjual maupun konsumen. “Sekarang sudah Rp260 ribu per tabung untuk yang 12 kilo. Sebelumnya tidak setinggi ini, jadi pembeli juga mulai mengeluh,” ujarnya, Ahad (19/4).

Hal senada disampaikan Atiaswan, pemilik kedai lainnya di Pekanbaru. Ia menyebutkan Bright Gas ukuran 5,5 kg juga mengalami kenaikan harga. “Sekarang sekitar Rp125 ribu. Mau tidak mau kami ikut menyesuaikan karena harga dari distributor juga naik,” kata Atiaswan.

Menurut keduanya, kenaikan harga ini berdampak pada daya beli masyarakat. Tidak sedikit pelanggan yang mulai mengurangi pembelian atau beralih ke ukuran tabung lain yang lebih terjangkau. Para pemilik kedai berharap harga bisa kembali stabil agar penjualan tidak terus menurun dan masyarakat tetap mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Baca Juga: Meski Stok Aman di Meranti, Jangan Coba Timbun BBM dan Gas Elpiji

Di Rokan Hilir (Rohil), kenaikan gas nonsubidi belum diketahui secara luas oleh masyarakat. Seorang pelaku usaha kedai kopi, Ivan mengaku belum mendapatkan informasi mengenai kenaikan harga gas yang identik dengan tabung berwarna pink tersebut.

“Untuk harga masih seperti biasanya, di kisaran Rp100 ribu yang 5,5 kg,” ujar pemilik usaha yang terletak di Jalan Perdagangan Kelurahan Bagan Barat, Bangko ini, Ahad (19/4). 

Sementara itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan, elpiji 3 kg bersubsidi atau yang biasa dikenal dengan sebutan elpiji melon tidak mengalami perubahan harga. “Negara itu hadir untuk membantu semua rakyat, tetapi prioritasnya itu adalah kepada saudara-saudara kita yang tidak mampu. Kalau yang mampu, ya harusnya dia berkontribusi untuk saling membantu, itu aja kok,” ujarnya.

Tekanan Global
Pemerintah mengungkapkan, kenaikan harga tidak lepas dari tekanan global. Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM Laode Sulaeman menjelaskan, lonjakan harga minyak mentah Indonesia (ICP) dipicu situasi geopolitik yang memanas di Timur Tengah.

Konflik yang dipicu serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran itu berdampak langsung pada pasokan energi dunia. Salah satu titik krusial adalah terganggunya jalur distribusi di Selat Hormuz yang menyuplai sekitar 20 persen minyak global.

Kondisi tersebut diperparah dengan serangan terhadap fasilitas energi yang semakin menekan pasokan. Di sisi lain, Pertamina telah menyampaikan penyesuaian harga tersebut melalui surat edaran resmi kepada para agen. Penyesuaian berlaku hingga ada kebijakan baru berikutnya.(dac/ilo/ayi/fad/bry/ttg/das)

Laporan TIM RIAU POS dan JPG, Pekanbaru dan Jakarta

Editor : Arif Oktafian
##ELPIJI ##HARGAGAAS ##EKONOMI