Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Dari Serbuk Kayu Menjadi Harapan: Kampung Jamur yang Mengubah Wajah Ekonomi Warga Pekanbaru

Tim Redaksi • Jumat, 24 April 2026 | 12:21 WIB
Pihak PT PLN (Persero) UIP Sumatera Bagian Tengah saat memanen jamur hasil budidaya masyarakat di Kelurahan Air Putih. (pt pln (persero) )
Pihak PT PLN (Persero) UIP Sumatera Bagian Tengah saat memanen jamur hasil budidaya masyarakat di Kelurahan Air Putih. (pt pln (persero) )

 

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Di sudut Kelurahan Air Putih, Tuah Madani, Pekanbaru, perubahan itu tumbuh perlahan dari ruang-ruang sederhana, dari tangan-tangan yang sebe­lumnya tak memiliki banyak pilihan. Dahulu, kawasan ini adalah gambaran umum ma­syarakat dengan keterbatasan akses ekonomi. Banyak warga, khususnya ibu rumah tangga, belum memiliki penghasilan tetap. Potensi ada, tetapi belum terkelola. 

Keadaan mulai berbalik ketika PT PLN (Persero) UIP Sumatera Bagian Tengah menghadirkan program pemberdayaan berbasis potensi lokal melalui pengembangan Kampung Jamur. Program ini tidak sekadar memberi bantuan, tetapi membangun ekosistem. Masyarakat didampingi untuk mengenali peluang dari hal yang selama ini dianggap sederhanajamur tiram.

Dari bahan baku yang mudah ditemukan seperti serbuk kayu dan dedak, warga mulai belajar membudidayakan jamur. Tidak berhenti di sana, mereka juga dilatih mengolah hasil panen menjadi produk bernilai tambah serta memahami cara memasarkan produk. Pendekatan ini membuat masyarakat tidak hanya menjadi pekerja, tetapi pelaku usaha yang mandiri.

Baca Juga: Perkuat Sinergisitas Energi dan Pertahanan, PLN Regional Riau Sambangi  Kodam XIX Tuanku Tambusai

Perubahan nyata pun mulai terlihat. Warga yang sebelum­nya tidak memiliki penghasilan kini mampu memperoleh pendapatan sekitar Rp1 juta per bulan. Omzet kelompok meningkat signifikan dari Rp11,25 juta menjadi Rp94 juta per bulan. Jumlah tenaga kerja yang terserap melonjak dari 6 orang menjadi 50 orang, sementara produksi jamur meningkat dari 450 kilogram menjadi 2.000 kilogram per bulan. Bahkan, total penjualan dalam satu tahun telah me­nembus lebih dari Rp1 miliar. 

Lebih dari sekadar pening­katan ekonomi, Kampung Jamur berkembang menjadi ruang belajar bersama. Aula edukasi yang dibangun dimanfaatkan sebagai pusat pelatihan bagi berbagai kalangan, mulai dari pelajar hingga akademisi. Kehadiran kafe jamur turut memperluas inovasi produk sekaligus menjadi etalase hasil karya ma­syarakat. Di titik ini, masyarakat tidak lagi menjadi objek program, tetapi menjadi subjek yang aktif menciptakan perubahan.

Baca Juga: Pensiunan PTPN IV Regional III Bahagia 

Dampak program ini juga terukur secara nyata. Melalui pendekatan Social Return on Investment (SROI), setiap Rp1 yang diinvestasikan menghasilkan dampak sosial sebesar Rp2,22. Angka ini menunjukkan bahwa program tidak hanya berjalan, tetapi benar-benar memberikan nilai tambah yang berkelanjutan bagi masyarakat. 

Kini, kawasan tersebut tidak lagi dikenal sebagai wilayah dengan keterbatasan ekonomi, melainkan sebagai Kampung Jamur sebuah identitas baru yang lahir dari kolaborasi dan pemberdayaan. Produk jamur yang dihasilkan bahkan mulai dikenal lebih luas dan mendapat kesempatan tampil di pasar internasional.

Apa yang dilakukan PLN UIP Sumbagteng menunjukkan bahwa energi tidak hanya hadir dalam bentuk listrik, tetapi juga dalam bentuk pemberdayaan. Dari sesuatu yang sederhana, tumbuh perubahan yang nyata. Dari kampung kecil di Pekanbaru, lahir cerita besar tentang bagaimana potensi lokal mampu diubah menjadi kesejahteraan.(adv) 

 

Editor : Arif Oktafian
#persero #harapan #ekonomi