PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Di sudut Kelurahan Air Putih, Tuah Madani, Pekanbaru, perubahan itu tumbuh perlahan dari ruang-ruang sederhana, dari tangan-tangan yang sebelumnya tak memiliki banyak pilihan. Dahulu, kawasan ini adalah gambaran umum masyarakat dengan keterbatasan akses ekonomi. Banyak warga, khususnya ibu rumah tangga, belum memiliki penghasilan tetap. Potensi ada, tetapi belum terkelola.
Keadaan mulai berbalik ketika PT PLN (Persero) UIP Sumatera Bagian Tengah menghadirkan program pemberdayaan berbasis potensi lokal melalui pengembangan Kampung Jamur. Program ini tidak sekadar memberi bantuan, tetapi membangun ekosistem. Masyarakat didampingi untuk mengenali peluang dari hal yang selama ini dianggap sederhanajamur tiram.
Dari bahan baku yang mudah ditemukan seperti serbuk kayu dan dedak, warga mulai belajar membudidayakan jamur. Tidak berhenti di sana, mereka juga dilatih mengolah hasil panen menjadi produk bernilai tambah serta memahami cara memasarkan produk. Pendekatan ini membuat masyarakat tidak hanya menjadi pekerja, tetapi pelaku usaha yang mandiri.
Baca Juga: Perkuat Sinergisitas Energi dan Pertahanan, PLN Regional Riau Sambangi Kodam XIX Tuanku Tambusai
Perubahan nyata pun mulai terlihat. Warga yang sebelumnya tidak memiliki penghasilan kini mampu memperoleh pendapatan sekitar Rp1 juta per bulan. Omzet kelompok meningkat signifikan dari Rp11,25 juta menjadi Rp94 juta per bulan. Jumlah tenaga kerja yang terserap melonjak dari 6 orang menjadi 50 orang, sementara produksi jamur meningkat dari 450 kilogram menjadi 2.000 kilogram per bulan. Bahkan, total penjualan dalam satu tahun telah menembus lebih dari Rp1 miliar.
Lebih dari sekadar peningkatan ekonomi, Kampung Jamur berkembang menjadi ruang belajar bersama. Aula edukasi yang dibangun dimanfaatkan sebagai pusat pelatihan bagi berbagai kalangan, mulai dari pelajar hingga akademisi. Kehadiran kafe jamur turut memperluas inovasi produk sekaligus menjadi etalase hasil karya masyarakat. Di titik ini, masyarakat tidak lagi menjadi objek program, tetapi menjadi subjek yang aktif menciptakan perubahan.
Baca Juga: Pensiunan PTPN IV Regional III Bahagia
Dampak program ini juga terukur secara nyata. Melalui pendekatan Social Return on Investment (SROI), setiap Rp1 yang diinvestasikan menghasilkan dampak sosial sebesar Rp2,22. Angka ini menunjukkan bahwa program tidak hanya berjalan, tetapi benar-benar memberikan nilai tambah yang berkelanjutan bagi masyarakat.
Kini, kawasan tersebut tidak lagi dikenal sebagai wilayah dengan keterbatasan ekonomi, melainkan sebagai Kampung Jamur sebuah identitas baru yang lahir dari kolaborasi dan pemberdayaan. Produk jamur yang dihasilkan bahkan mulai dikenal lebih luas dan mendapat kesempatan tampil di pasar internasional.
Apa yang dilakukan PLN UIP Sumbagteng menunjukkan bahwa energi tidak hanya hadir dalam bentuk listrik, tetapi juga dalam bentuk pemberdayaan. Dari sesuatu yang sederhana, tumbuh perubahan yang nyata. Dari kampung kecil di Pekanbaru, lahir cerita besar tentang bagaimana potensi lokal mampu diubah menjadi kesejahteraan.(adv)
Editor : Arif Oktafian