JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Pemerintah mulai merealisasikan diversifikasi impor minyak mentah di tengah memanasnya konflik Timur Tengah. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut pasokan crude oil dari Nigeria sudah tiba di Indonesia sebagai bagian dari strategi menjaga ketahanan energi nasional.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan, pengiriman minyak dari Nigeria sudah berjalan dan sebagian pasokan telah masuk ke Indonesia.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi ketergantungan impor minyak dari kawasan Timur Tengah yang saat ini menghadapi risiko gangguan distribusi akibat perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran. ”Sudah ada yang terealisasi. Dari Nigeria sudah jalan. Sudah ada yang tiba,” ujarnya.
Baca Juga: Tiket Pesawat Ekonomi Berpotensi Lebih Mahal, Pemerintah Naikkan Biaya Fuel Surcharge Jadi 50 Persen
Laode menjelaskan, pemerintah kini mengutamakan sumber pasokan minyak yang tidak melewati Selat Hormuz. Jalur tersebut masih terdampak konflik geopolitik dan berisiko mengganggu distribusi energi global.
Sebagai informasi, Selat Hormuz menangani sekitar 20 persen pengiriman minyak dunia dan menjadi jalur utama perdagangan minyak serta gas alam cair (LNG) dari Iran, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Karena itu, pemerintah mulai memperluas sumber impor dari berbagai negara. Selain Nigeria, Indonesia juga membidik pasokan minyak mentah dari Rusia dan Amerika Serikat dengan volume besar. ”Sementara yang saya tahu (AS dan Rusia) karena angkanya besar-besar. Kalau yang lain kecil-kecil juga ada dari negara lain seperti Angola dan beberapa negara Afrika,” katanya.
Baca Juga: BRI Catatkan Profitabilitas Solid dengan ROE dan ROA
Di tengah meningkatnya tensi geopolitik global, pemerintah memastikan stok energi nasional masih dalam kondisi aman. ”Pasokan minyak mentah, BBM, hingga LPG tetap terjaga untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” ucapnya.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut sekitar 20 persen impor minyak mentah Indonesia berasal dari Timur Tengah. Karena itu, pemerintah bergerak cepat mencari alternatif pasokan dari negara lain seperti Angola, Nigeria, Brasil, Amerika Serikat, hingga Rusia.
Pada pertengahan April 2026, Bahlil juga melakukan negosiasi pembelian minyak mentah dan LPG dengan Menteri Energi Rusia Sergey Tsivilev di Rusia. Dari kerja sama tersebut, Indonesia memperoleh komitmen pasokan minyak mentah sebesar 150 juta barel yang akan dikirim bertahap hingga akhir 2026. (bry/dio/jpg)
Editor : Arif Oktafian