Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Tiga Usahawan Muda Bangun “Jamur Betuah”, Pilih Ciptakan Lapangan Kerja dan Kembangkan Bisnis Hijau Berkelanjutan

Tim Redaksi • Sabtu, 30 Mei 2026 | 17:57 WIB
Jamur yang sudah panen di tempat budidaya jamur tiram “Jamur Betuah” diperlihatkan oleh para anak muda.
Jamur yang sudah panen di tempat budidaya jamur tiram “Jamur Betuah” diperlihatkan oleh para anak muda.

 

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Di tengah tren generasi muda yang berlomba mencari pekerjaan di sektor formal, tiga pemuda justru memilih jalan berbeda. Mereka membangun usaha mandiri berbasis budidaya jamur tiram modern sekaligus memberdayakan masyarakat sekitar melalui konsep sociopreneurship dan bisnis hijau berkelanjutan.

Ketiga pemuda tersebut adalah Firman Edi, Ultra Wahidi, dan Jaelani Sidiq, pendiri usaha budidaya jamur tiram bernama “Jamur Betuah”. Berangkat dari semangat untuk menciptakan peluang usaha baru bagi masyarakat, mereka kini berhasil mengembangkan usaha yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga memberikan dampak sosial dan lingkungan secara berkelanjutan.

Jamur Betuah hadir dan berkembang berkat dukungan dari PT PLN (Persero) melalui PLN Unit Induk Pembangunan Sumatera Bagian Tengah (UIP Sumbagteng) yang secara konsisten melakukan pembinaan dan pendampingan usaha dari hulu hingga hilir. Dukungan tersebut mencakup penguatan kapasitas budidaya, pengembangan kelembagaan usaha, peningkatan produksi, hingga pengolahan hasil jamur menjadi produk bernilai tambah.

Firman Edi mengatakan, usaha yang mereka bangun lahir dari keresahan melihat masih banyak anak muda yang bergantung pada peluang kerja terbatas. Karena itu, mereka memilih menjadi pencipta lapangan kerja dibanding hanya menjadi pencari kerja.

“Bagi kami, usaha bukan hanya soal keuntungan pribadi, tetapi bagaimana usaha ini bisa tumbuh bersama masyarakat dan membuka kesempatan bagi banyak orang,” ujarnya.

Dengan konsep budidaya modern, Jamur Betuah saat ini telah memiliki satu unit kumbung produksi, satu unit kumbung budidaya dengan 8 orang pekerja, serta 11 unit kumbung mitra yang dikembangkan dengan memanfaatkan lahan milik warga. Pola kemitraan tersebut menjadi salah satu langkah strategis mereka untuk mengajak masyarakat ikut terlibat dalam usaha produktif berbasis pertanian modern.

Tidak hanya itu, Jamur Betuah juga menggandeng mahasiswa magang untuk belajar langsung mengenai budidaya jamur tiram, manajemen usaha, hingga peluang pengembangan bisnis berbasis pangan lokal. Para mahasiswa tersebut diberi ruang untuk memahami proses usaha dari hulu hingga hilir sebagai bekal membangun usaha mandiri di masa depan.

Ultra Wahidi menjelaskan bahwa keterlibatan mahasiswa menjadi bagian dari komitmen mereka dalam mencetak wirausahawan muda baru. “Kami ingin usaha ini menjadi ruang belajar. Anak-anak muda harus berani mencoba, karena peluang usaha sebenarnya sangat besar jika dikelola dengan serius dan kreatif,” katanya.

Selain fokus pada budidaya, Jamur Betuah juga telah membentuk satu kelompok usaha yang mengolah hasil panen menjadi berbagai produk makanan siap saji berbahan dasar jamur. Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah produk sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.

Sementara itu, Jaelani Sidiq menyebutkan bahwa mereka ingin mengubah cara pandang generasi muda terhadap sektor pertanian dan usaha pangan lokal. “Pertanian modern itu punya masa depan. Jamur tiram misalnya, tidak hanya bisa dibudidayakan, tetapi juga diolah menjadi produk kreatif yang memiliki nilai ekonomi tinggi,” ungkapnya.(adv)

Editor : Arif Oktafian
#JAMUR BETUAH #BISNIS HIJAU #pln #lapangan pekerjaan